<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268</id><updated>2012-02-17T11:14:53.484+07:00</updated><title type='text'>Infomedia Pembelajaran</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>55</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-2615444945886895945</id><published>2009-04-17T21:19:00.000+07:00</published><updated>2009-04-17T21:38:54.654+07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Gratis untuk Pemulung</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Menuntut ilmu bisa dilakukan di mana dan kapan saja. Itulah yang dilakukan para pemulung di Sekolah Alam Tunas Mulia Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Lelah memulung di pagi hari tak membuat mereka berhenti menuntut ilmu. Seperti yang dilakoni Kaimin.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpukan sampah adalah tumpuan hidup Kaimin. Hujan rintik tak menghalanginya bekerja. Seperti pagi biasanya, Kaimin bertugas memilah sampah plastik di Tempat Pembuangan Sampah Akhir Bantar Gebang. Penghasilan Rp 10 ribu per hari diberikan pada orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah bekerja tak membendung keinginan belajar bocah 14 tahun ini. Di siang hari, Kaimin berangkat sekolah berusaha mengejar cita-citanya menjadi tentara atau pemain sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaimin hanyalh satu dari 150 siswa Sekolah Alam Tunas Mulia. Sebagian besar siswa memang bekerja sebagai pemulung. Pelajaran di sekolah yang didirikan salah satu yayasan dan beberapa sponsor ini sesuai kurukulum bagi siswa setara TK, SD, dan SMP. Yang paling penting sekolah ini gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah dimulai pukul 13.00 WIB hingga 17.00 WIB. Waktu ini dipilih untuk menyesuaikan kegiatan siswa yang sebagian besar pemulung. Keterbatasan ruangan dan 10 tenaga pengajar pun membuat siswa tak bisa belajar setiap hari. Pendidikan ternyata belum menyentuh semua. Beruntung Kaimin dan kawan-kawan bisa mengecap bangku sekolah lewat swadaya masyarakat. liputan6.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-2615444945886895945?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/2615444945886895945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2009/04/pendidikan-gratis-untuk-pemulung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2615444945886895945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2615444945886895945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2009/04/pendidikan-gratis-untuk-pemulung.html' title='Pendidikan Gratis untuk Pemulung'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-3149241109699165354</id><published>2009-02-09T08:03:00.001+07:00</published><updated>2009-02-09T08:05:44.545+07:00</updated><title type='text'>Tak Hendak Mencetak Bocah Super</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Akhir tahun lalu, Ari Mustikawati dan Baskara memikirkan kelompok bermain untuk Raihan, anak mereka. Raihan memang masih berumur 20 bulan, tapi Baskara, 32 tahun, ingin anaknya mendapatkan pendidikan sejak dini. Tujuannya, "Paling tidak Raihan bisa bersosialisasi dulu," kata Baskara di rumahnya, Menteng Atas, Jakarta Pusat, Selasa lalu.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak kelompok bermain yang menawarkan macam-macam program, di antaranya program cepat membaca, menulis, dan berhitung untuk anak di bawah usia tiga tahun. Tapi Ari dan Baskara tak memilihnya untuk Raihan. "Kasihan kalau anak sekecil itu sudah diharuskan membaca dan menulis," ujar Ari. Keduanya akhirnya memilih kelompok bermain di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Pertimbangannya karena dekat dengan tempat kerja Ari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Raihan, Seto, yang kini sudah 7 tahun, juga ikut kelompok bermain di dekat rumahnya sejak masih sangat muda, 28 bulan. Berbeda dengan kelompok bermain Raihan, kelompok bermain yang tak jauh dari rumah Seto di Rawamangun, Jakarta Pusat, itu mengajarkan berhitung, membaca, dan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu, 36 tahun, dan Erwin Pratiwi, 33 tahun, orang tua Seto mengaku tidak begitu paham tentang sistem pendidikan prasekolah. "Saya kira memang begitu," kata Bayu melalui telepon, Rabu lalu. Karenanya, tak aneh jika Seto sudah bisa membaca dan menulis sejak usia lima tahun. Kini, kata Bayu, setelah anaknya kelas 1 SD, kemampuan membaca dan menulisnya lebih baik dari teman-temannya yang tidak diajarkan sebelumnya. Kelemahan Seto, kata Bayu, hanya berhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, apa yang perlu dipertimbangkan ketika akan memilih pendidikan prasekolah? Pakar pendidikan anak usia dini Mutiara Padmosantjojo mengatakan, hal yang harus diutamakan ketika memilih prasekolah untuk anak adalah suasananya yang harus menyenangkan. "Bukan bertarget mencetak super kid yang mahir membaca, menulis, dan berhitung," kata lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu, Selasa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan membaca, menulis, dan berhitung, kata Mutiara di Singapura, idealnya diberikan kepada anak saat berusia 7 tahun. Tapi sebagai pengenalan, bolehlah diberikan kepada anak usia taman kanak-kanak dan prasekolah. Karena hanya pengenalan, penyampaiannya tidak boleh dipaksakan. Jika dipaksakan, anak akan takut belajar lantaran suasananya tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mutiara, mengajari anak tentang keterampilan belajar lebih penting ketimbang mengutamakan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Keterampilan belajar merupakan dasar agar anak selalu tertarik belajar sepanjang hidupnya. Keterampilan belajar ini meliputi kemampuan mengenal dan menerima dirinya sendiri, rasa ingin tahu yang besar, inisiatif, tanggung jawab menyelesaikan tugas secara mandiri dan kelompok, menyelesaikan masalah, serta kemampuan bekerja sama dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutiara mengingatkan, proses belajar anak masih panjang, sekitar 15 tahun atau bahkan 20 tahun lagi. "Jika awalnya tidak menyenangkan, bagaimana selanjutnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan prasekolah yang ideal, kata peraih gelar Master of Science in Education dari University of Groningen, Belanda itu, adalah yang bisa mencetak manusia cerdas seutuhnya. Bukan hanya mampu menulis, membaca, dan berhitung saja, tapi juga harus cerdas secara fisik, intelektual, emosi, dan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan fisik, misalnya, bisa membuat anak berlari atau melompat. Kecerdasan intelektual membuat anak berkemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Cerdas emosi membuat anak mampu merespons setiap peristiwa sosial di sekitarnya. Sedangkan cerdas spiritual tidak hanya membuat anak bisa mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan agama saja, tapi juga mengenai cinta kasih sesama makhluk hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutiara sangat menyayangkan pendidikan prasekolah yang hanya mengajarkan anak membaca, menulis, dan berhitung. Anak akan minim pengetahuan dalam keterampilan belajar. Bahkan, bisa menyebabkan anak menjadi tidak mau belajar lagi karena terlalu dipaksa. "Keunggulannya mungkin anak lebih cepat bisa membaca, menulis, dan berhitung," jelas Mutiara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan prasekolah yang mengajarkan keseimbangan antara intelektual, emosi, spiritual, dan fisik, lebih banyak positifnya ketimbang negatifnya. "Kelemahannya mungkin hanya kemampuan membacanya agak lambat," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ERWIN DARIYANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih untuknya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perhatikan:&lt;br /&gt;- Karakteristik anak. Pertimbangkan kepribadiannya, gaya belajar, serta kebutuhan khususnya.&lt;br /&gt;- Karakteristik keluarga, seperti nilai keluarga, kemudahan transportasi, dan kemampuan finansial.&lt;br /&gt;- Karakteristik sekolah, seperti filosofi sekolah, kurikulum, metode belajar, keamanan, dan reputasi.&lt;br /&gt;2. Datanglah ke sekolah untuk mengetahui visi, misi, dan penerapan kegiatan belajar-mengajar.&lt;br /&gt;3. Percayalah pada "insting" saat berkunjung ke sekolah.&lt;br /&gt;4. Sesudah menentukan sekolah:&lt;br /&gt;- Siapkan mental anak. Bacakan cerita atau menonton film tentang asyiknya bersekolah.&lt;br /&gt;- Ajak anak berkenalan dengan guru sebelum sekolah mulai.&lt;br /&gt;- Ajak anak menyiapkan tas dan keperluan sekolahnya sebelum hari H.&lt;br /&gt;- Beri dukungan terus-menerus. Orang tua sebaiknya juga memantau apa yang dilakukan anak di sekolah dan membantu berpartisipasi di sekolah semampunya.tempointeraktif.com&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-3149241109699165354?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/3149241109699165354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2009/02/akhir-tahun-lalu-ari-mustikawati-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3149241109699165354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3149241109699165354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2009/02/akhir-tahun-lalu-ari-mustikawati-dan.html' title='Tak Hendak Mencetak Bocah Super'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-6076124153791879468</id><published>2009-02-05T08:26:00.000+07:00</published><updated>2009-02-05T08:50:25.796+07:00</updated><title type='text'>Google Singgahi Desa Terpencil di Afrika</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Radiokah itu? Atau TV? Itulah pertanyaan yang terlontar oleh sebagian warga Entasopia, Kenya, saat diputarkan video streaming. Raksasa internet Google coba menghadapi kesenjangan digital ini dengan menyambangi mereka untuk memperkenalkan internet ke desa-desa terpencil di Afrika.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari New York Times, Kamis (5/2/2009), aksi ini dilakukan oleh tiga orang mahasiswa dari University of Michigan yang disokong sepenuhnya dari Google. Mereka pergi menuju daerah safari Entasopia di Kenya untuk coba menginstal perangkat satelit kecil dengan tenaga panel solar untuk bisa terkoneksi ke internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun menyediakan akses internet bukanlah termasuk bidang garapan Google, namun sepertinya menghadirkan koneksi satelit yang lebih cepat dan lebih stabil di daerah tersebut menggugah raksasa internet ini untuk terjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah krisis yang dialami Google sendiri dan PHK yang mereka lakukan beberapa waktu lalu, Google masih menyisihkan dana untuk program ini dan membayar biaya untuk bandwith satelit per bulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun banyak keuntungan yang akan bisa didapat oleh warga setempat, namun kendala yang mesti dihadapi juga tak kalah besar. Selain masyarakat masih 'buta' internet, sebagian besar remaja di sana, khususnya perempuan, belum bisa membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entasopia yang lebih cocok untuk berwisata safari ini memang sangat terbelakang. Dengan sekitar 4.000 warga, mereka tidak memiliki fasilitas-fasilitas umum seperti bank, kantor pos dan infrastruktur penting lainnya. Bahkan surat kabar hanya datang setiap 3 atau 4 minggu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya kita tunggu saja hasilnya, apakah dengan adanya internet kehidupan mereka bisa lebih maju atau malah ketidakefektifan yang didapat? detik.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-6076124153791879468?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/6076124153791879468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2009/02/google-singgahi-desa-terpencil-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6076124153791879468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6076124153791879468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2009/02/google-singgahi-desa-terpencil-di.html' title='Google Singgahi Desa Terpencil di Afrika'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-3013143464510873217</id><published>2009-02-02T08:13:00.000+07:00</published><updated>2009-02-02T08:14:32.007+07:00</updated><title type='text'>210 Anak Asah Otak lewat Gambar dan Mewarna</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Sebanyak 210 anak usia 4 tahun hingga 10 tahun kemarin mengikuti lomba mewarna dan menggambar. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengasah ketrampilan dan perkembangan otak anak di bawah 10 tahun.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan lomba mewarna dan menggambar tersebut digelar sejak pukul 08.00 di halaman Klinik Tedja Husada. Bagi peserta usia 4 tahun hingga 6 tahun masuk lomba mewarna. Sedangkan kelompok usia 7 tahun hingga 10 tahun mengikuti lomba menggambar. "Perlengkapan juga sudah kami siapkan. Tergantung kreativitas anak saja," kata Ketua Pelaksana Kegiatan Tito Hari Pradianto, saat ditemui kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba menggambar tersebut merupakan ajang kreativitas para anak. Dengan cara tersebut, ketrampilan anak bisa terasah dan terukur kemampuannya. Terlebih ketrampilan tersebut dapat memacu perkembangan otak. Terutama pada saat memberi warna. "Memadu warna juga dapat memacu perkembangan otak anak," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka merupakan generasi bangsa. Jadi patut untuk dididik agar lebih berkembang lagi," sambung Tito, yang juga Direktur Klinik Teja Husada, kemarin. Sedangkan kegiatan ini dalam rangkaian ulang tahun ke-4 Klinik Teja Husada. Selain mengadakan lomba mewarna dan menggambar, rencananya Sabtu mendatang akan diadakan seminar tentang stroke dan kepikunan. Karena banyak sekali pasien yang berkunjung ke klinik mengalami penyakit stroke maupun pikun. jawapos.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-3013143464510873217?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/3013143464510873217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2009/02/210-anak-asah-otak-lewat-gambar-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3013143464510873217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3013143464510873217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2009/02/210-anak-asah-otak-lewat-gambar-dan.html' title='210 Anak Asah Otak lewat Gambar dan Mewarna'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-367060101522514435</id><published>2008-12-26T08:09:00.000+07:00</published><updated>2008-12-26T08:22:57.146+07:00</updated><title type='text'>Anak Harus Dibatasi Menonton Televisi</title><content type='html'>&lt;span id="fullpost"&gt;Anak-anak sebaiknya dibatasi untuk menonton televisi selama 2 jam sehari. Karena itu diperlukan sebuah rangsangan dari keluarga untuk memberikan kegiatan lain selain menonton televisi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, melakukan gerakan sehari tanpa tv. Nah selama tidak ada tayangan televisi selama satu hari itu, anak-anak bisa diajak membaca buku atau kegiatan positif lainnya. Tayangan televisi kini banyak yang tidak mendidik dan tidak pantas dilihat oleh anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setidaknya memberikan tekanan pada industri televisi," kata B Gunarto dari lembaga Kidia saat menjadi pembicara dalam Seminar Sehari Pola Menonton Televisi Secara Aman dan Sehat untuk Anak yang diselenggarakan oleh Komisi Penyiaran Daerah (KPID) di Hotel Santika, Jalan Pandegiling, Surabaya, Rabu (24/12/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunarto menjelaskan, selain menerapkan sehari tanpa televisi, orangtua juga mempunyai peranan pada anak-anak. Orangtua harus mengarahkan jadwal anak-anak menonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pembicara lain yakni Gilang Iskandar, Corporate Secretary Media Nusantara Citra (MNC) Group menyatakan, bahwa anak-anak tidak hanya menonton tayangan untuk anak. Anak-anak saat ini juga melihat tayangan yang bukan untuk anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu menjadi perhatian menarik pasalnya jam tayangan anak yang telah dibuat saat ini sesuai dengan kebisaan anak-anak. "Karena itu peran keluarga penting untuk membimbing anak-anaknya," tegasnya. detik.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-367060101522514435?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/367060101522514435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/anak-harus-dibatasi-menonton-televisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/367060101522514435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/367060101522514435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/anak-harus-dibatasi-menonton-televisi.html' title='Anak Harus Dibatasi Menonton Televisi'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-2435464413954959068</id><published>2008-12-22T08:09:00.000+07:00</published><updated>2008-12-22T08:26:55.933+07:00</updated><title type='text'>Sulit Kerjakan Soal, Jangan Vonis Anak Bodoh</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Menerapkan secara berlanjut pembelajaran yang membentuk kecerdasan jamak (multiple intelligence) menjadi salah satu indikator mutu pendidikan sebuah sekolah. Penerapan kecerdasan jamak itu bisa menghilangkan kebiasaan memvonis bodoh &lt;span id="fullpost"&gt;seorang anak hanya gara-gara tidak bisa mengerjakan soal ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk bagi orang tua dan guru itu kemarin dipaparkan dalam seminar nasional Multiple Intelligence System, sebagai Ikhtiar Mewujudkan Pembelajaran Unggul di Universitas Negeri Malang. Dalam acara yang diikuti sekaitar 650 guru PAUD hingga SMA ini, dua pemateri yang hadir adalah Dr Imron Arifin, dosen administrasi PPS UM dan Munif Chatib, praktisi multiple intelligence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imron menerangkan, saat ini dunia telah mengakui ada sepuluh kecerdasan pada diri seorang manusia. Sepuluh kecerdasan itu ditemukan oleh Howard Gardner, seorang peneliti dari Harvard University. "Guru harus bisa menggali kecerdasan mana yang dominan. Dari situ harus ada pembinaan. Dengan begitu, jangan lagi menganggap seorang anak adalah bodoh. Pasti siswa punya kelebihan di salah satu kecerdasan itu," kata ketua pendidikan Anak Saleh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah kecerdasan linguistic atau bahasa. Dalam arti, berbahasa secara lisan maupun tulisan. Pekerjaan yang mengandalkan jenis kecerdasan ini adalah pengacara, presenter, pengarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan kedua adalah kecerdasan logika matematika. Dengan kata lain, kecerdasan ini menyebabkan seseorang bisa menganalisa secara logika atau menghitung kemungkinan-kemungkinan dalam sebuah penyelesaian masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, lanjut Imron, adalah kecerdasan musikal. Yang keempat kecerdasan kinestetik. Kecerdasan jenis ini biasanya dipunyai oleh seorang atlet, penari, aktor atau petugas mekanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima adalah kecerdasan spatial. Bentuk kecerdasan ini biasanya menonjol pada seorang pilot, navigator, pemain catur atau arsitek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam adalah kecerdasan interpersonal alias bermasyarakat. Jenis kecerdasan ini menonjol pada seorang guru, politikus, perawata, penjual maupun pemuka agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh adalah kecerdasan intrapersonal alias kecerdasan dalam memahami diri sendiri. Seseorang yang mempunyai kecerdasan intrapersonal yang tinggi bisa mengatur hidupnya dengan lebih bergairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan adalah kecerdasan natural alias kemampuan mengenal alam dan lingkungannya. Kesembilan adalah kecerdasan eksistensi yang membuat seseorang sopan, pandai menempatkan diri dan memahami kematian. Yang terakhir alias kesepuluh adalah kecerdasan spiritual yang membuat seseorang memahami dan mengikuti nilai-nilai agama.&lt;br /&gt;jawapos.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-2435464413954959068?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/2435464413954959068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/sulit-kerjakan-soal-jangan-vonis-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2435464413954959068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2435464413954959068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/sulit-kerjakan-soal-jangan-vonis-anak.html' title='Sulit Kerjakan Soal, Jangan Vonis Anak Bodoh'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-9109369294934172116</id><published>2008-12-17T08:30:00.000+07:00</published><updated>2008-12-17T08:48:36.274+07:00</updated><title type='text'>Guru Harus Manfaatkan Teknologi Informasi</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Semarang (ANTARA News) - Guru dituntut mengikuti kemajuan teknologi informasi dalam pengajaran, sehingga kualitas pendidikan kian baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Guru harus tanggap teknologi dan memanfaatkanya dalam pembelajaran," kata dosen Universitas Negeri Semarang Hartoyo dalam seminar dengan tema Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran di Semarang.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hartoyo mengatakan, sejumlah daya dukung dalam pembelajaran adalah komputer, teknologi internet, perangkat multimedia, dan berbagai program aplikasi di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini siswa sudah harus dibiasakan dengan model komputerisasi, sehingga nantinya proses interaksi tidak hanya di kelas saja, melainkan di luar kelas pun antara guru dan murid dapat tetap berkomunikasi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat sama disampaikan dosen Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta Agus Priyanto yang juga melihat pentingnya pengajaran dengan menggunakan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencontohkan, tiap sekolah setidaknya harus memiliki web pribadi sebagai media informasi dan komunikasi sekolah dengan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siswa tidak lagi mendapatkan tugas tertulis dari guru, akan tetapi mereka mengakses tugas ataupun pekerjaan rumah (PR) melalui web site atau blog dari guru yang bersangkutan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, dengan kemajuan teknologi guru tidak lagi mengeja soal dan menuliskan pelajaran di papan tulis, akan tetapi menggunakan media presentasi LCD proyektor atau perangkat multimedia yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampuono, guru SMP 18 Semarang menambahkan, selain mengikuti teknologi yang maju, guru juga dituntut menghadirkan sesuatu yang menarik dalam media pembelajaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Guru harus bisa membuat multimedia interaktif yang menarik, sehingga siswa akan lebih antusias dalam pembelajaran," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan bahwa terdapat lima tahap dalam pembuatan multimedia interaktif yakni analisis kondisi pembelajaran, desain multimedia, produksi atau pembuatan media interaktif, pelaksanaan dalam pembelajaran, dan evaluasi. antara.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-9109369294934172116?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/9109369294934172116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/guru-harus-manfaatkan-teknologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/9109369294934172116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/9109369294934172116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/guru-harus-manfaatkan-teknologi.html' title='Guru Harus Manfaatkan Teknologi Informasi'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-213534610182572463</id><published>2008-12-15T07:52:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T08:52:06.063+07:00</updated><title type='text'>Waspadai Kecanduan Internet</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Kecanduan internet dengan berbagai aplikasinya dalam kadar yang menggelisahkan patut diwaspadai. Sebelum ada anggota keluarga yang terjerat, intervensi harus segera dilakukan. ”Kecanduan membuat semuanya tak terkontrol, yang salah satunya berdampak pada situasi antisosial,” &lt;span id="fullpost"&gt;kata guru besar emeritus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Fawzia Aswin Hadis, dalam simposium ”Mengantisipasi Problema yang Berhubungan dengan Adiksi Internet” yang diadakan Forum Komunikasi Rumah Sakit Jiwa Swasta/ Praktik Kedokteran Jiwa Swasta di Jakarta, Sabtu (13/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adiksi atau kecanduan merupakan kondisi terikat pada kebiasaan yang sangat kuat dan tak mampu lepas dari keadaan itu. Seseorang yang kecanduan merasa terhukum apabila tak memenuhi hasrat kebiasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecanduan internet di antaranya terjerat games, akses situs porno, akses bermacam informasi, serta aplikasi lain. Pencandu tidak dapat mengontrol diri sehingga mengabaikan kegiatan lainnya. Umumnya, pencandu asyik sehingga lupa waktu, sekolah, pekerjaan, lingkungan sekitarnya, hingga kewajiban lain. Tak jarang pencandu berhari-hari tidur di warung internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itu terjadi karena yang bersangkutan memperoleh kesenangan, kenyamanan, dan keasyikan dari aplikasi internet yang diaksesnya,” kata Fawzia. Jika internet membantu seseorang menghilangkan stimulus tak menyenangkan yang dihadapinya, ia akan terus mengulanginya hingga kecanduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran bila sebagian besar pencandu internet adalah mereka yang memiliki kepercayaan diri rendah atau kekurangan lain. Pasalnya, mereka akan tetap eksis tanpa siapa pun (komunitas virtualnya) tahu siapa dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktisi psikiater anak Elijati D Rosadi SpKJ (K) mengatakan, hampir semua pasien yang dibawa kepadanya sudah masuk tahap kecanduan. Anak-anak itu memiliki kebiasaan berbohong atau kognitif yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencandu yang dipicu konflik keluarga mengaku kepada komunitas virtualnya, ia tak butuh keluarga lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pernyataan para psikiater yang hadir, tren pasien kecanduan internet pada anak terus meningkat cepat dalam dua tahun terakhir. Demikian diungkapkan psikiater anak RSCM, Ika Widyawati SpKJ (K), dan psikiater anak Rumah Sakit Jiwa Bandung, Lelly Resna SpKJ (K).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para psikiater anak, kecanduan itu dapat dicegah jika orangtua dan orang dewasa berperan aktif. ”Berikan pemahaman untung ruginya atau konsekuensi sesuai umur masing-masing. Internet terbukti sangat bermanfaat selama masih bisa kita kontrol,” kata psikiater Richard Budiman SpKJ, pengelola Sanatorium Dharmawangsa, tempat puluhan psikiater praktik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua dan anak-anaknya pun bisa membuat kesepakatan bersama mengenai waktu dan lama mengakses internet. Situs dan jenis permainan yang diakses pun patut diketahui orangtua. Pembiaran hanya akan membuat kecanduan menjadi soal waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar peserta sepakat bahwa melarang anak sama sekali mengakses internet bukan solusi. Pasalnya, internet mudah diakses di mana-mana dengan tarif terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan bagi yang kecanduan, kata Elijati, di antaranya psikoterapi, obat antipsikotik, antidepresi, dan terapi keluarga. Akar masalah yang memicu anak lari ke internet pun harus diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pengobatannya tidak mudah karena harus melibatkan banyak hal,” kata Elijati, yang disetujui psikiater lainnya.  kompas.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-213534610182572463?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/213534610182572463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/waspadai-kecanduan-internet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/213534610182572463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/213534610182572463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/waspadai-kecanduan-internet.html' title='Waspadai Kecanduan Internet'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-4556526664479545467</id><published>2008-12-10T09:21:00.002+07:00</published><updated>2008-12-10T09:34:15.942+07:00</updated><title type='text'>Strategi belajar efektif</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Strategi belajar bersifat individual, artinya strategi belajar yang efektif bagi diri seseorang belum tentu efektif bagi orang lain. Untuk memperoleh strategi belajar efektif, seseorang perlu mengetahui serangkaian konsep yang akan membawanya menemukan strategi belajar yang paling efektif bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;* Konsep Belajar Mandiri&lt;br /&gt;Belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri. Seringkali orang menyalahartikan belajar mandiri sebagai belajar sendiri. Kesalahpengertian tersebut terjadi karena pada umumnya mereka yang kuliah di UT cenderung belajar sendiri tanpa tutor atau teman kuliah. Belajar mandiri berarti belajar secara berinisiatif, dengan ataupun tanpa bantuan orang lain, dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mahasiswa yang mandiri, Anda tidak harus mengetahui semua hal. Anda juga tidak diharapkan menjadi mahasiswa jenius yang tidak membutuhkan bantuan orang lain. Salah satu prinsip belajar mandiri adalah Anda mampu mengetahui kapan Anda membutuhkan bantuan atau dukungan pihak lain. Pengertian tersebut termasuk mengetahui kapan Anda perlu bertemu dengan mahasiswa lain, kelompok belajar, pengurus administrasi di UPBJJ, tutor, atau bahkan tetangga yang kuliah di universitas lain. Bantuan/dukungan dapat berupa kegiatan saling memotivasi untuk belajar, misalnya, mengobrol dengan tetangga yang kuliah di universitas lain, seringkali dapat memotivasi diri kita untuk giat belajar. Bantuan/dukungan dapat juga berarti kamus, buku literatur pendukung, kasus dari surat kabar, berita dari radio atau televisi, perpustakaan, informasi tentang jadwal tutorial, dan hal lain yang tidak berhubungan dengan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting adalah Anda mampu mengidentifikasi sumber-sumber informasi. Identifikasi sumber informasi ini dibutuhkan untuk memperlancar proses belajar Anda pada saat Anda membutuhkan bantuan atau dukungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Media Belajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri utama belajar jarak jauh adalah penggunaan media belajar. Media belajar utama di UT adalah bahan ajar cetak yang dikenal sebagai modul modul. Masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangan. Anda dapat memilih media mana yang sesuai untuk mendukung belajar Anda. Klik Belajar Efektif dengan Media untuk mengetahui lebih jauh mengenai media belajar. Pada topik tersebut, Anda akan memperoleh informasi mengenai kiat-kiat memaksimalkan penggunaan media untuk kepentingan belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan media untuk kepentingan belajar ini juga merupakan salah satu bentuk strategi belajar. Sebagai contoh, media audio akan sangat membantu bagi orang yang memiliki gaya belajar "auditorial". Penjelasan lebih lanjut mengenai gaya belajar dapat Anda peroleh pada topik Mengenali Gaya Belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan media untuk belajar sering dianggap aneh karena tidak biasa bagi mereka yang terbiasa belajar tatap muka. Pada proses belajar jarak jauh, penggunaan media bukan sesuatu yang aneh. Sebagai mahasiswa UT bagaimana jika Anda mencoba mengenali media-media belajar yang disediakan UT? Siapa tahu Anda akan merasa lebih mudah untuk belajar melalui media pendukung tersebut? Siapa tahu juga, media pendukung tersebut dapat menjadi strategi belajar yang efektif bagi Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Strategi Belajar Efektif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya jarak secara fisik antara pengajar dan mahasiswa, membuat beberapa fungsi pengajar tidak berperan, seperti misalnya fungsi pengajar dalam memberikan materi ajar pada saat perkuliahan atau fungsi pengajar dalam mendisiplinkan mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan. Fungsi-fungsi pengajar semacam itulah yang tidak ada pada sistem BJJ, sehingga harus disiasati sendiri oleh mahasiswa BJJ melalui strategi belajar. Misalnya, Anda harus pandai membuat jadwal untuk membaca bahan ajar,   melalui modul atau media lain, sebagai salah satu cara berkomunikasi dengan pengajar. Materi ajar mewakili pengajar karena materi ajar merupakan hasil pemikiran pengajar. Anda juga harus mensiasati diri sendiri untuk berdisiplin melaksanakan jadwal yang telah Anda buat. Jika mahasiswa pada umumnya harus berdisiplin pergi ke kuliah, maka Anda dapat merencanakan sejumlah waktu yang sama untuk dipakai membaca modul. Anda justru beruntung karena dapat belajar di mana saja. Yang harus Anda lakukan adalah berdisiplin untuk menentukan kapan saat belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merencanakan strategi belajar merupakan keterampilan khusus yang perlu dikembangkan mahasiswa BJJ. Sebagai mahasiswa BJJ, Anda tidak dapat menggunakan kebiasaan belajar tatap muka jika ingin berhasil. Jika Anda membawa kebiasaan belajar tatap muka untuk belajar pada sistem BJJ, maka Anda akan mengalami berbagai kesulitan. Sebagai contoh, Anda mungkin terlalu sibuk bekerja sehingga lupa belajar. Anda juga dapat terjebak pada kegiatan rutin di rumah seperti mengurus anak, arisan, rapat RT; sehingga Anda tidak terampil untuk mensiasati waktu belajar Anda. Dalam proses belajar jarak jauh, tidak ada orang (guru/dosen) yang membantu Anda untuk mengingatkan atau menyuruh Anda belajar selain diri Anda sendiri. Hanya diri Anda yang dapat memicu dan memacu proses belajar Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan belajar tatap muka tidak mudah diganti begitu saja. Oleh karena itu, mahasiswa BJJ perlu belajar mengenai keterampilan khusus yang dapat membantu Anda untuk belajar mengenai bagaimana caranya belajar. Dengan mempelajari berbagai keterampilan khusus dalam belajar ini, maka Anda akan dapat mensiasati belajar dalam sistem BJJ (Belajar Jarak Jauh). www.ut.ac.id. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-4556526664479545467?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/4556526664479545467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/strategi-belajar-efektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/4556526664479545467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/4556526664479545467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/strategi-belajar-efektif.html' title='Strategi belajar efektif'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-1370250591521598776</id><published>2008-12-05T11:40:00.001+07:00</published><updated>2008-12-05T14:26:06.686+07:00</updated><title type='text'>Perluasan Akses Pendidikan Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; Instruksi Presiden nomor 5 tahun 2008 antara lain disebutkan bahwa Departemen Pendidikan Nasional harus menghubungkan sebanyak 24.000 dalam satu jaringan pendidikan nasional. Dari jumlah tersebut 15.000 titik adalah sekolah, yakni terdiri dari SMA/MA, SMK, SMP/MTs, dan SD/MI. &lt;span id="fullpost"&gt;Apabila interkoneksi ini terwujud, maka sekolah akan mendapatkan manfaat yang sangat besar. Pemanfaatan teknologi dimungkinkan diterapkan di berbagai sekolah yang berada di daerah-daerah terpencil atau daerah yang secara geografis sulit dijangkau. Dampak yang dihasilkan bahkan justru berhasil memperluas kesempatan belajar bagi lebih banyak anak yang membutuhkan tetapi terkendala secara geografis dan finansial. Dengan kata lain, sekolah-sekolah di daerah terpencil juga mempunyai kesiapan untuk memanfaatkan teknologi. Keadaan yang demikian ini merupakan bukti bahwa pemanfaatan teknologi telah memberikan dampak positif dalam arti semakin mempersempit kesenjangan yang terjadi atau semakin memperluas kesempatan memperoleh layanan belajar. Namun manfaat ini tidak datang begitu saja kecuali bagi daerah yang siap dan tanggap terhadap teknologi informasi &amp; komunikasi. Seyogyanya ada empat aspek yang perlu diperhatikan dalam impelementasi pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi, antara lain : Dukungan Kebijakan, Infrastruktur, Sumber Daya Manusia dan Komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan&lt;br /&gt;Kepala Daerah bersama jajarannya terutama Kepala Dinas Pendidikan sebagai pengambil kebijakan pada satuan pendidikan, berpengaruh dalam pengembangan pendidikan berbasis teknologi informasi di daerah. Dukungan kebijakan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi secara nasional sesungguhnya sudah kuat, antara lain dengan adanya Keputusan Presiden nomor 20 tahun 2006 tentang Dewan Teknologi Informasi &amp; Komunikasi Nasional, Inpres no 5 tahun 2008 tentang jaringan pendidikan nasional, Permendiknas no 38 tahun 2008 tentang Pengelolaan TIK Depdiknas, Block Grant TIK sekolah, dll. Namun demikian, implementasi kebijakan ini di sekolah perlu lebih kongkret lagi. Oleh karena itu juga di tingkat mikro kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan pada satuan sekolah memberikan andil yang besar dalam keberhasilan pemanfaatan teknologi informasi dalam pendidikan. Pada level sekolah, Kepala Sekolah perlu mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendorong terjadinya percepatan pendayagunaan TIK di sekolahnya, baik peningkatan kualitas SDM, penyediaan ruangan, infrastruktur, inovasi dalam pembelajaran, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infrastruktur&lt;br /&gt;Infrastruktur yang disiapkan adalah dalam bentuk hardware (fisik) dan software (non fisik). Dari sisi hardware, yang diperlukan untuk mengembangkan teknologi informasi ini antara lain sambungan listrik, perangkat komputer/server dan perangkat jaringan (seperti kabel jaringan, kabel telepon, tower, radio, modem dan sebagainya). Ketersediaan listrik atau power merupakan kebutuhan dasar teknologi informasi &amp; komunikasi. Kemudian sekolah diharapkan memiliki satu lab komputer. Idealnya lab ini merupakan lab multimedia yang bisa berfungsi sebagai pusat sumber belajar (PSB). Fungsi PSB atau lab multimedia ini antara lain tempat para peserta didik ataupun guru dapat mengakses sumber belajar melalui jaringan. Fasilitas utama yang ditawarkan dalam pendidikan berbasis teknologi informasi &amp; komunikasi adalah akses broadband LAN yang menghubungkan jaringan sekolah pada satu daerah kabupaten/kota. Ketersediaan akses ini dapat dimanfaatkan oleh sekolah atau tenaga kependidikan daerah kabupaten/kota untuk menempatkan konten pada server lokal, baik konten yang dikembangkan sendiri oleh daerah maupun konten yang telah tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dari sisi software, perlu disiapkan operating sistem yang mendukung jaringan khusus untuk Server misalnya menggunakan LINUX atau Windows Server, sedangkan untuk client bisa menggunakan operating sistem apa saja asal disesuaikan dengan kompatibilitas hardware komputernya. Sementara itu aplikasi yang digunakan adalah internet browser untuk kebutuhan akses informasi website, kemudian aplikasi multimedia untuk kebutuhan media pembelajaran dan e-learning (misalnya: moodle, exelearning, drupal, blogger dll) tidak lupa juga perlu diperkayanya konten yang berkaitan dengan media pembelajaran baik dalam bentuk animasi ataupun e-book. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Daya Manusia (Brainware)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber daya manusia (SDM) merupakan komponen yang sangat penting dalam pendidikan berbasis teknologi informasi &amp; komunikasi. SDM ini meliputi Pengelola dan Pengguna (user), artinya perlu dilibatkannya para ahli teknologi informasi dalam mengelola secara teknis pendidikan berbasis TIK ini sedangkan sebagai Pengguna adalah guru, peserta didik dan masyarakat umum yang memerlukan informasi mengenai pendidikan Dengan Teknologi Informasi &amp; Komunikasi, ruang kelas tidak lagi menjadi pembatas aktivitas belajar. Guru dan Peserta didik bisa belajar dengan menembus batas batas ruang. Melalui internet user dapat mengambil bahan belajar dari mana saja dan berdiskusi dengan siapa saja di seluruh pelosok dunia. Pembelajaran pun tidak harus di ruang kelas yang dibatasi empat dinding. Kemudahan yang ditawarkan pendidikan berbasis teknologi informasi ini perlu disikapi dengan pengembangan inovasi kreatif dalam pengembangan sumber daya manusia, maka dari itu perlu dilakukan sosialisasi dan pelatihan yang sustainable bagi para pengguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menjadi bagian dari jaringan pendidikan para guru, peserta didik dan masyarakat dapat saling bertukar informasi, bertukar sumber daya, serta saling bekerjasama secara secara jarak jauh atau bertelekolaborasi dalam bentuk forum diskusi, dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) on line.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping untuk keperluan lalu lintas data administrasi, program pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi ditujukan untuk menunjang peningkatan kualitas proses pembelajaran. Untuk itu, diperlukan kesiapan daerah kab/kota dan sekolah dalam rangka pemanfaatan program ini. Untuk implementasi ini semua masih diperlukan kerja keras dan langkah-langkah kongkret pada level makro dan mikro dalam kaitan ini, yang diperlukan adalah sosialisasi keberadaan berbagai sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi tersebut sehingga dapat diketahui oleh masyarakat khususnya peserta didik. Dengan tersebarluasnya informasi tentang sumber belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia dapat diakses di manapun peserta didik berada, maka diharapkan peserta didik akan dapat mengoptimalkan pemanfaatannya.  Keberhasilan penerapan teknologi informasi dalam pendidikan ini dipengaruhi oleh faktor culture, champions, communication dan change serta tidak terlepas dari keterlibatan stakeholder. Dengan harapan suatu saat nanti tercipta kultur transfer of learning yang akan meningkatkan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-1370250591521598776?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/1370250591521598776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/perluasan-akses-pendidikan-melalui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/1370250591521598776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/1370250591521598776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/12/perluasan-akses-pendidikan-melalui.html' title='Perluasan Akses Pendidikan Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-3958984484810266373</id><published>2008-11-28T08:36:00.000+07:00</published><updated>2008-11-28T08:37:20.935+07:00</updated><title type='text'>Melatih Otak Hanya dengan Berberapa Klik</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Menggunakan fitur pencarian di internet membantu dewasa dan orang berusia lanjut untuk mempertahankan daya ingat agar tetap berada pada kondisi optimal, menurut ilmuwan AS baru-baru ini. Ilmuwan di University of California Los Angeles (UCLA) melakukan studi ini dengan merekam aktivitas otak melalui functional magnetic resonance imaging scan melihat bahwa&lt;span id="fullpost"&gt; "orang-orang yang sering melakukan pencarian di internet menggunakan lebih banyak aktivitas otak sewaktu mereka mencari," kata Dr. Gary Small, pakar penuaan UCLA dalam sebuah wawancara telepon, "menegaskan bahwa pencarian di internet dapat melatih otak dan menjaga otak agar tetap aktif dan sehat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak studi yang mengatakan bahwa permainan asah otak seperti puzzle dapat mempertahankan fungsi otak, namun belum banyak yang mempelajari dampak penggunaan internet terhadap daya ingat. Small mengatakan bahwa "ini adalah pertama kalinya seseorang melakukan pindai otak saat obyek sedang melakukan pencarian di internet."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi dilakukan pada 24 orang yang berusia 55 sampai 76 tahun. Separuh dari mereka sudah sering melakukan pencarian di internet, sementara separuhnya lagi belum memiliki pengalaman mencari. Kedua kelompok kemudian diminta melakukan pencarian internet dan membaca buku sementara aktivitas otak mereka diawasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami menemukan bahwa aktivitas membaca buku mengaktifkan visual kortex — bagian dari otak yang mengontrol bahasa. Pada pencarian internet, aktivitas yang dilakukan jauh lebih banyak, namun hal ini hanya berlaku bagi kelompok yang biasa menggunakan internet," jelas Small.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Small mengatakan bahwa orang yang terbiasa menggunakan internet dapat memicu tingkat aktivitas otak yang jauh lebih dalam. Pada otak yang sudah menua, pengurangan aktivitas sel dapat berdampak negatif pada fungsi kognitif. Aktivitas otak yang lebih dapat mempertahankan kesehatan otak dan kemampuan berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Small berpendapat bahwa mempelajari cara melakukan pencarian di internet merupakan salah satu aktivitas tersebut. "Mungkin kita dapat mengajarkan trik internet baru pada otak yang sudah tua," tutur Small. udaramaya.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-3958984484810266373?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/3958984484810266373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/melatih-otak-hanya-dengan-berberapa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3958984484810266373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3958984484810266373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/melatih-otak-hanya-dengan-berberapa.html' title='Melatih Otak Hanya dengan Berberapa Klik'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-5035277291062053153</id><published>2008-11-28T07:58:00.001+07:00</published><updated>2008-11-28T08:32:23.852+07:00</updated><title type='text'>Optimalkan Kecerdasan Anak dengan Edukasi Menyenangkan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Pakar pendidikan anak, Seto Mulyadi menyatakan, untuk mengoptimalkan kecerdasan anak maka harus melalui cara mendidik yang menyenangkan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dunia anak adalah bermain, yang penuh spontanitas dan menyenangkan. Anak akan melakukan dengan penuh semangat apabila terkait dengan suasana yang menyenangkan," katanya di Banda Aceh, Kamis.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang akrab disapa Kak Seto itu menyampaikan hal itu dalam seminar bertema "Tingkatkan kualitas didik anak Aceh melalui proses belajar yang menyenangkan" yang diselenggarakan Biro Psikologi Psikodinamika Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak itu, belajar bagi anak dapat dilakukan dengan berbagai cara baik melalui nyanyian, dongeng maupun bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyebutkan setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda dan orangtua harus menghargai prestasinya karena pada dasarnya semua anak cerdas baik cerdas matematika, menggambar, menyanyi maupun bentuk kecerdasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama ini orangtua yang membuat diskriminasi terhadap anak. Anak dianggap tidak cerdas jika tidak pintar matematika padahal kecerdasan spektrumnya sangat luas," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Seto juga mengungkapkan semua anak pada dasarnya senang belajar hanya bagaimana cara mengoptimalkannya karena jika suasana dibuat menyenangkan anak akan senang belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan terhadap anak, kurikulum sekolah yang padat dan suasana yang tidak menyenangkan lainnya menyebabkan anak tidak belajar efektif dan takut sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan terhadap anak juga kerap terjadi dalam keluarga berupa menjewer telinga, membentak, mencubit. Selain itu anak juga mendapat kekerasan dari elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kak Seto dari penelitian dominasi tayangan televisi, iklan menunjukkan angka tertinggi yaitu 39,74 persen sementara tayangan pendidikan hanya 0,07 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang memiliki dasar suka meniru sebenarnya sangat kreatif dan orangtua serta guru perlu memahami kreativitas yang ada pada diri anak dengan bersikap luwes dan kreatif pula. antara.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-5035277291062053153?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/5035277291062053153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/optimalkan-kecerdasan-anak-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/5035277291062053153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/5035277291062053153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/optimalkan-kecerdasan-anak-dengan.html' title='Optimalkan Kecerdasan Anak dengan Edukasi Menyenangkan'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-269674854566610183</id><published>2008-11-26T07:48:00.002+07:00</published><updated>2008-11-26T09:58:27.763+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Jepang</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Opini kecil, ini ditulis oleh Romiwahono sewaktu masih tinggal di Jepang. Pernah dimuat di kolom Opini, Surat Kabar Republika. &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada hari terlewatkan tanpa membaca surat kabar Indonesia melalui Internet. Di sana-sini bermunculan berita mengenai rusaknya moral dan carut marutnya kepribadian masyarakat Indonesia, layaknya sebuah bangsa yang tidak terdidik. Dan kerusakan ini secara signifikan dan menyeluruh melanda berbagai golongan masyarakat Indonesia, dari pejabat atas, menengah sampai rendah, dari anggota DPR sampai menular ke masyarakat umum. Kemudian kalau kita menyimak berita-berita Internasional, sudah menjadi hal yang lazim, bahwa Indonesia selalu memenangi kontes-kontes internasional yang berhubungan dengan sifat buruk. Dari masalah besarnya jumlah korupsi, pelanggaran HAM, pembajakan software, sampai rendahnya masalah sumber daya manusia (SDM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tulisan ini, penulis mencoba menguraikan tentang bagaimana sebuah komunitas terdidik (knowledged community) dan beradab itu sebenarnya bisa terbentuk dari sesuatu hal yang sangat sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mengamati perilaku kehidupan masyarakat Jepang, sebenarnya tergambar bagaimana sebuah komunitas terdidik terlahir dari suatu sifat dan sikap yang sederhana. Yang pertama mari kita lihat bagaimana orang Jepang mengedepankan rasa “malu”. Fenomena “malu” yang telah mendarah daging dalam sikap dan budaya masyarakat Jepang ternyata membawa implikasi yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan. Penulis cermati bahwa di Jepang sebenarnya banyak hal baik lain terbentuk dari sikap malu ini, termasuk didalamnya masalah penghormatan terhadap HAM, masalah law enforcement, masalah kebersihan moral aparat, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap peraturan lalu lintas adalah suatu contoh nyata. Orang Jepang  lebih senang memilih memakai jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya. Bagaimana taatnya mereka untuk menunggu lampu traffic light menjadi hijau, meskipun di jalan itu sudah tidak ada kendaraan yang lewat lagi. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal menarik berikutnya adalah bagaimana orang Jepang berprinsip sangat “ekonomis” dalam masalah perbelanjaan rumah tangga. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Sekitar 8 tahun yang lalu, masa awal-awal mulai kehidupan di Jepang, penulis sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar pukul 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 10 atau 20 yen. Juga bagaimana orang Jepang lebih memilih naik densha (kereta listrik) swasta daripada densha milik negeri, karena untuk daerah Tokyo dan sekitarnya ternyata densha swasta lebih murah daripada milik negeri. Dan masih banyak lagi contoh yang sangat menakjubkan dan membuktikan bahwa orang Jepang itu sangat ekonomis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara perekonomian mereka bukan bangsa yang miskin karena boleh dikata sekarang memiliki peringkat GDP yang sangat tinggi di dunia. Mereka juga bukan bangsa yang tidak sibuk atau lebih punya waktu berhidup ekonomis, karena mereka bekerja dengan sangat giat bahkan terkenal dengan bangsa yang gila kerja (workaholic). Tetapi hebatnya mereka tetap memegang prinsip hidup ekonomis. Ini sangat bertolak belakang dengan masyarakat negara-negara berkembang (baca: Indonesia) yang bersifat sangat konsumtif. Terus terang kita memang sangat malas untuk bersifat ekonomis. Baru dapat uang sedikit saja sudah siap-siap pergi ke singapore untuk shopping, atau beli telepon genggam baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat berikutnya adalah masalah “sopan santun dan menghormati orang lain”. Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk mengatakan gomennasai (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakkan orang lain. Kalau kita berjalan tergesa-gesa dan menabrak orang Jepang, sebelum kita sempat mengatakan maaf, orang Jepang dengan cepat akan mengatakan maaf kepada kita. Demikian juga apabila kita bertabrakan sepeda dengan mereka. Tidak peduli siapa yang sebenarnya pada pihak yang salah, mereka akan secara refleks mengucapkan gomennasai (maaf).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau moral dan sifat-sifat sederhana dari orang Jepang, seperti malu, hidup ekonomis, menghormati orang lain sudah sangat jauh melebihi kita, ditambah dengan majunya perekonomian dan sistem kehidupan. Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita, hal baik apa yang kira-kira bisa kita banggakan sebagai bangsa Indonesia kepada mereka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia bukan bangsa yang bodoh dan tidak mengerti moral. Kita bisa menyaksikan bahwa mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar Jepang, Jerman, Amerika dan di negara -negara lain, banyak sekali yang berprestasi dan tidak kalah secara ilmu dan kepintaran. Demikian juga kalau kita bandingkan bagaimana para pengamat dan komentator Indonesia menguraiakan analisanya di televisi Indonesia. Selama hidup 8 tahun di Jepang penulis belum pernah menemukan analisa pengamat dan komentator di televisi Jepang yang lebih hebat analisanya daripada pengamat dan komentator Indonesia. Dan ini menyeluruh, dari masalah ekonomi, politik, sistem pemerintahan bahkan sampai masalah sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi sangat disayangkan bahwa fakta menunjukkan, secara politik dan sistem pemerintahan kita tidak lebih stabil daripada Jepang, secara ekonomi kita jauh dibawah Jepang. Dalam masalah sepakbola juga dalam waktu singkat Jepang sudah berprestasi menembus 16 besar pada piala dunia tahun 2002 ini, sementara kita sendiri masih berputar-putar dengan permasalahan yang tidak mutu, dari masalah wasit, pemain sampai kisruhnya suporter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil pelajaran dari kasus yang telah diuraikan penulis diatas. Ternyata kepintaran dan kepandaian otak kita adalah tidak cukup untuk membawa kita menuju suatu komunitas yang terdidik. Justru sikap dan prinsip hidup yang sebenarnya terlihat sederhana itulah akan secara silmultan membentuk suatu bangsa menjadi bangsa besar dan berperadaban. (sumber : romisatriawahono.net) &lt;a href="http://tipstrik-smart.blogspot.com/2008/11/10-resep-sukses-bangsa-jepang.html" "target=_blank"&gt;Baca Ini Juga&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-269674854566610183?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/269674854566610183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/belajar-dari-jepang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/269674854566610183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/269674854566610183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/belajar-dari-jepang.html' title='Belajar dari Jepang'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-6974755408063463154</id><published>2008-11-24T10:40:00.001+07:00</published><updated>2008-11-24T10:43:43.946+07:00</updated><title type='text'>Kewirausahaan Melalui Link and Match</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Kewirausahaan (enterpreunership) tidak selalu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan. Padahal kewirausahaan diperlukan untuk mendorong tumbuhnya industri-industri baru, termasuk didalamnya creative economic. Padahal seiring dengan perkembangan information and communication technology (ICT) saat ini, terbuka peluang pengembangan creative economic.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang belum banyak yang memanfaatkan peluang itu. Salah satu kendalanya adalah belum tumbuhnya enterpreneurship, serta masih adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia industri. Untuk mengatasi masalah ini, Dewan Pengembangan Program Kemitraan Pendidikan Tinggi (DPPK-PT) mengembangkan konsep Cooperative Academic Education Program (Co-Op). Ia menjadi semacam jembatan konsep link and match antara dunia pendidikan dengan dunia industri.Pada program ini, DPPK PT menjalin kerjasama dengan lebih dari 62 industri, terdiri dari manufaktur, perbankan hingga telekomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Bersama DPPK Rahardi Ramelan mengatakan program ini terkait dengan pilar kebijakan Depdiknas, yakni relevansi pendidikan. Interaksi antara dunia nyata dan dunia pendidikan sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tujuannya agar pendidikan menjadi relevan sesuai kebutuhan masyarakat baik dari aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya,'' kata Rahardi Ramelan. Ia menambahkan bahwa program ini memberi peluang bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan dunia bisnis dan usaha yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sektor telekomunikasi, DPP PT antara lain menggandeng Telkomsel. Operator ini ternyata juga mengembangkan konsep Co-Op di mana para mahasiswa diberi kesempatan untuk mengenal lebih jauh dunia kerja dalam kegiatan-kegiatan yang hampir mirip dengan magang dan mendapatkan honor. Peserta program ditetapkan oleh Dirjen Dikti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta Co-Op memiliki kewajiban layaknya karyawan sehingga mereka benar-benar belajar bekerja yang membekali mereka dengan berbagai kemampuan. Mereka diwajibkan membuat analisa dan laporan yang nantinya akan dibawa ke institusi pendidikan terkait sebagai dasar penyusunan maupun pengembangan kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Merupakan kehormatan tersendiri bagi kami dapat kembali berkontribusi mendukung program yang kami harapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia dari mahasiswa untuk menjadi calon entrepreneur di dunia usaha Indonesia,'' kata Direktur Keuangan Telkomsel Triwahyusari&lt;br /&gt;Triwahyusari mengungkapkan, sebagai suatu institusi Telkomsel tidak hanya memperhatikan perkembangan dari internal perusahaan, tapi yang penting Telkomsel bertekad mengembangkan dunia usaha di Indonesia yang dimotori sumber daya dari Indonesia sendiri. Salah satu diantaranya adalah pengembangan kewirausahaan di kalangan kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Telkomsel membuka diri terhadap program magang yang dikembangkan Dirjen Dikti maupun kampus perguruan tinggi, yang bertujuan meningkatkan mutu lulusan perguruan tinggi dan relevansi pendidikan di perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha, serta menciptakan lulusan sebagai subyek penyedia lapangan kerja (kewirausahaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan program sekaligus merupakan respon akan kondisi saat ini,. Ada kecenderungan jumlah lulusan yang tidak terserap di pasar kerja akan semakin meningkat apabila kurikulum perguruan tinggi tidak dijembatani dengan kebutuhan dunia usaha. Terlebih lagi jika lulusan perguruan tinggi tidak siap untuk menciptakan lapangan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri telekomunikasi merupakan industri yang secara nyata memberikan kontribusi positif, di mana kontribusi telekomunikasi terhadap Gross Domestic Product (GDP) tahun 2006 diperkirakan mencapai 2,89 persen dari total GDP di Indonesia. Belum lagi kontribusi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Saat ini industri telekomunikasi mampu merangsang dan menghasilkan manfaat bagi industri atau dunia usaha lain dari hulu sampai hilir, seperti Konten, Musik, Voucher, dan Servis Ponsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini, kata Triwahyusari, selayaknya didukung dengan kuantitas dan kualitas SDM yang ditunjang kurikulum pendidikan yang relevan, serta SDM yang mampu menciptakan kesempatan-kesempatan baru di industri telekomunikasi.  Apalagi, 63 persen Indonesia penduduk merupakan usia muda produktif yang merupakan kalangan dengan senses of technology yang tinggi dan antusiasme terhadap perkembangan teknologi yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magang&lt;br /&gt;Di kalangan perguruan tinggi sendiri Link and Macth terus digulirkan. Untuk mendukung program ini, Universitas Darma Persada (Unsada) mengembangkan Unsada-CSH Training Center. Yaitu program pelatihan kerja dan magang yang diberikan kepada mahasiswa tingkat akhir dan alumni Unsada. Untuk menjalankan program ini Unsada bekerja sama dengan CSH. Yakni sebuah lembaga pelatihan yang sudah memiliki jaringan dan pengalaman yang cukup luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Bagian Humas Unsada Alfonsus B Say, SE mengungkapkan, program ini  merupakan upaya mempersiapkan mahasiswa memiliki kesiapan memasuki dunia kerja setelah mereka lulus. ''Program ini juga menjadi nilai tambah yang ditawarkan Unsada kepada masyarakat,'' jelas Alfons.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap awal, peserta mengikuti beberapa seminar dan diskusi. Dalam seminar dan diskusi yang dikemas secara proaktif dan menarik ini, dikenalkan dunia kerja dan bagaimana persiapan untuk memasuki dunia kerja. Setelah itu, mahasiswa diminta untuk membuat lamaran dan CV.  ''Kami baru akan masuk ke proses wawancara pertengahan bulan April ini. Dari sekitar 40 peserta yang ikut pada tahap awal, sebanyak 14 mahasiswa berhasil masuk ke tahap wawancara,'' kata Alfons.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsultan Senior CSH Ir Sandra Harris, M Sc peserta akan magang pada berbagai perusahaan, mulai dari korporat, perbankan hingga perhotelan. Selama proses magang ini, mahasiswa akan diberikan pelatihan tambahan mengenai dunia kerja. Seperti bagaimana caranya presentasi, berkomunikasi dan kemampuan lain yang diperlukan untuk bekerja. ''Lamanya magang bervariasi, mulai dari tiga hingga enam bulan,'' ujar Sandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode lain diterapkan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Ketua Program Studi D3 Otomotif dan Alat Berat Fakultas Teknik UMJ, Ir Basuki Wibyatmoko mengatakan, untuk menciptakan lulusan yang dapat langsung bekerja, UMJ menggandeng United Tracktor (UT). Bentuk kerjasama meliputi penyediaan tempat belajar, pelatihan dan penyediaan instruktur hingga penyelenggaraan ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tiga semester awal, perkuliahan dilakukan di UMJ. Di sini, mahasiswa diberikan mata kuliah dasar dan umum. Semester empat hingga semester enam dilakukan di UT dengan pengajar dari UMJ dan instruktur UT. Materinya meliputi alat-alat berat. Seperti buldozer, dump truck, grader, dan excavator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan pertama pada semester empat, mahasiswa diajarkan mengenai teori secara umum. Tiga bulan sisanya, mahasiswa akan ditempatkan di unit-unit UT untuk mempraktikkan materi yang telah didapat. Pada akhir semester, mahasiswa akan diminta untuk membuat laporan mengenai kegiatannya selama tiga bulan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi laporan dilakukan dua kali. Yang pertama di unit UT dimana mahasiswa ditempatkan. Yang kedua di UT Pusat di Jakarta. Proses belajar di semester ini disebut juga dengan On The Job Training (OJT) I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki mengatakan, pada OJT I, mahasiswa difokuskan untuk mempelajari mengenai sistem. Mulai dari sistem mesin, sistem hidrolik, dan sebagainya. Barulah pada OJT II atau pada semester lima, fokus belajar lebih ditekankan kepada penyelesaian masalah di lapangan. Peran serta UT tidak hanya sampai di situ saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mahasiswa melakukan tugas akhir, disediakan satu dosen pembimbing yang merupakan instruktur senior di UT. "Ketika sidang tugas akhir pun kami meminta sekitar empat orang instruktur UT untuk ikut menilai tugas akhir yang dikerjakan mahasiswa," ungkap Basuki.republika.co.id&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-6974755408063463154?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/6974755408063463154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/kewirausahaan-melalui-link-and-match.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6974755408063463154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6974755408063463154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/kewirausahaan-melalui-link-and-match.html' title='Kewirausahaan Melalui Link and Match'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-92936822494214556</id><published>2008-11-22T09:51:00.001+07:00</published><updated>2008-11-22T09:54:29.226+07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Tunanetra Belajar Komputer?</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Pembaca, melihat tunanetra yang mahir berkomputer mungkin sudah mulai jadi hal lumrah di sekitar kita. Berkat kemajuan teknologi dan informasi (IT), kini tunanetra pun dapat merasakan bagaimana komputer dapat menjadikan "hidup menjadi lebih hidup".&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dibilang begitu, karena berkat dukungan IT, tunanetra tak hanya terbantu dalam bidang pendidikan dan pekerjaan, namun juga bisa menikmati aktivitas komputasi lain, mulai dari browsing internet hingga chatting dan ngobrol via telepon komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saat penulis bertemu dengan banyak tunanetra yang belum menguasai komputer, atau pengajar komputer yang begitu antusias ingin mengajarkan komputer untuk tunanetra, sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik pun muncul. "Bagaimana caranya mengajar komputer untuk tunanetra?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kata "untuk tunanetra" dalam kutipan di atas dihilangkan, jawabannya tentu mudah. Tinggal daftar di ratusan pusat pendidikan komputer yang tentunya sudah menjamur, atau belajar langsung lewat buku-buku panduan belajar komputer yang pastinya sudah banyak beredar di pasaran. Tak hanya itu, sarana belajar berbentuk multimedia pun sudah akrab dengan mereka yang ingin belajar menggunakan metode yang lebih modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, memangnya berbeda cara mengajar komputer untuk orang berpenglihatan dan tunanetra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, karena di sini kedua belah pihak menggunakan komputer dengan cara yang berbeda. Untuk orang berpenglihatan, akses ke komputer dilakukan dengan menggunakan mata, sedangkan untuk tunanetra, informasi dan pengoperasian komputer dilakukan dengan memanfaatkan indera pendengaran (komputer dilengkapi dengan pembaca layar), atau indera peraba (komputer yang dilengkapi dengan monitor braille).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk teknik mengajar komputer bagi orang berpenglihatan tentunya sudah sering Anda temukan di mana-mana. Nah, kali ini penulis akan memberi contoh proses pengajaran komputer bagi tunanetra yang dilakukan Sugiyo (tunanetra), salah seorang instruktur senior yang mengajar komputer bagi tunanetra di Yayasan Mitra Netra, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis berharap adanya ilustrasi kecil ini dapat memberi gambaran pada pembaca tentang teknik mengajar komputer bagi tunanetra, sehingga dapat langsung diaplikasikan apabila ada relasi tunanetra yang ingin belajar komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Pelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk langkah awal, Sugiyo biasanya terlebih dahulu menerangkan konsep-konsep pelajarannya. Misalnya, dia akan menerangkan apa itu menu bar dan apa saja yang ada didalamnya. Setelah itu, untuk langkah pengoperasian tertentu, dia biasanya langsung mengajak siswa praktek bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertama-tama, mereka dituntun untuk mengerjakan sesuatu, lama-lama dilepas dan akhirnya mereka bisa mengerjakan sendiri," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugiyo juga sering kali memancing para peserta kursus lewat pertanyaan-pertanyaan seputar materi yang diajarkan. Dengan begitu, para muridnya akan dapat memahami pelajaran dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar mempermudah peserta mengikuti kursus, Sugiyo menyusun beberapa buku pedoman pelajaran komputer. Selain diambil dari buku-buku computer yang pernah dibacanya, buku-bukunya tersebut juga disusun berdasarkan pengalaman pribadinya ketika belajar komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sudah memiliki konsep sendiri mengenai urutan pelajaran yang diberikan. Saya sebelumnya belajar dari buku-buku dan kemudian saya menyusun sendiri sehingga dapat dipahami oleh tunanetra dengan lebih mudah," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keterangan yang bersifat visual, Sugiyo biasanya membuat alat peraga sederhana. Alat tersebut biasanya berasal dari bahan-bahan yang ada di sekitarnya. "Yang penting saya bisa mendeskripsikannya kepada siswa," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kursus komputer yang dilaksanakan di YMN dibagi atas beberapa program. Jangka waktu pelaksanaan kursus tergantung dari program apa yang diambil. Untuk Microsoft Word misalnya, lamanya program adalah empat bulan dengan dua kali pertemuan setiap minggunya, masing-masing selama dua jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan program Microsoft Word, peserta dapat memilih program berikutnya, seperti Microsoft Excel, Microsoft Power Point atau Microsoft Access. Selain itu, kursus komputer di YMN ini menyediakan program html, Jaws Script (materi untuk mengkonfigurasi pembaca layar JAWS )dan program lanjutan dari html.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena komputer yang digunakan tunanetra harus dilengkapi dengan program pembaca layer (screen reader), di awal penggunaannya peserta kadang kala menemukan kesulitan dalam memahami aksen atau suara yang dikeluarkan program pembaca layer tersebut. Hal itu dikarenakan suara yang dikeluarkan masih menggunakan aksen bahasa Inggris. Untuk itu, Sugiyo biasanya membimbing siswa memahami suara yang dibacakan oleh program tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasanya saya meminta siswa mendengarkan perkata dan saya akan mengulang apa yang disebutkan oleh screen reader itu," jelas Sugiyo lagi. Pada kenyataannya, tidak perlu waktu lama untuk dapat memahami suara yang dikeluarkan oleh program pembaca layer tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa mengikuti kursus komputer, peserta diharuskan telah lulus kursus mengetik sepuluh jari yang juga diadakan YMN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hal tersebut penting untuk memudahkan siswa memahami apa yang ada pada keyboard komputer," ujar Sugiyo menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk program-program lanjutan, Sugiyo mensyaratkan, peserta paling tidak sudah menguasai konsep windows. Sejauh ini, tidak ada kendala berarti yang menghambat Sugiyo dalam mengajarkan komputer kepada tunanetra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asal mereka memiliki kemauan yang kuat, mereka pasti bisa. Kalau saya yang tunanetra bisa, saya yakin mereka juga pasti bisa," ujarnya. detikinet.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-92936822494214556?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/92936822494214556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/bagaimana-tunanetra-belajar-komputer.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/92936822494214556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/92936822494214556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/bagaimana-tunanetra-belajar-komputer.html' title='Bagaimana Tunanetra Belajar Komputer?'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-7915861952886730787</id><published>2008-11-22T07:54:00.001+07:00</published><updated>2008-11-22T08:11:47.958+07:00</updated><title type='text'>Metode Quantum Teaching</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;"Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan hantarlah dunia kita ke dunia mereka." Istilah ini adalah istilah yang dipakai dalam Quantum Teaching, sebuah metode belajar yang pada awalnya adalah&lt;span id="fullpost"&gt; eksperimen Dr Georgi Lazanov tentang Suggestology yaitu kekuatan sugesti yang dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobbi de Porter yang merupakan murid dari Dr Georgi Lazanov, mengembangkan kembali eksperimen gurunya menjadi Quantum Learning yang merupakan hasil adopsi dari beberapa teori, seperti  sugesti, teori otak kanan dan kiri, teori otak triune, pilihan modalitas (visual, auditorial dan kinestetik) dan pendidikan holistik. Lalu setelah melalui beberapa fase Quantum Learning kembali dikembangkan dan pada akhirnya lahirlah Quantum Teaching, yaitu metode belajar yang menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus dan tehnik yang diterapkan oleh Quantum Teaching adalah AMBAK &amp; TANDUR, definisi dari kedua kata tersebut adalah:&lt;br /&gt;AMBAK&lt;br /&gt;A: Apa yang dipelajari&lt;br /&gt;Dalam setiap pelajaran, guru hanya menetapkan, anak didiklah yang menentukan tema sesuai minat masing-masing. Sebagai contoh pada pelajaran menggambar, guru hanya menentukan pelajaran menggambar dan para anak didiknya yang menentukan temanya.&lt;br /&gt;M: Manfaat&lt;br /&gt;Guru memberikan penjelasan manfaat yang diperoleh dari setiap pelajaran dan guru harus bisa memberi kemampuan memahami situasi yang sebenarnya sehingga para siawa bisa lebih tertantang untuk mempelajari semua hal dengan lebih mendalam.&lt;br /&gt;BAK: Bagiku&lt;br /&gt;Manfaat apa yang akan diperoleh di kemudian hari dengan mempelajari ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi dari tehnik pembelajaran Quantum Teaching TANDUR, adalah:&lt;br /&gt;T: Tumbuhkan minat belajar&lt;br /&gt;A: Aktifkan minat belajar&lt;br /&gt;N: Namai semua konsep pembelajaran&lt;br /&gt;D: Demonstrasikan, dengan maksud supaya anak lebih memahami pelajaran.&lt;br /&gt;U: Ulangi, semakin sering diulang maka semakin kuat kuat pelajaran melekat.&lt;br /&gt;R: Rayakan, berikan apresiasi kepada siapa saja yang berhasil melakukannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggali Potensi Para Guru dan Tenaga Pengajar&lt;br /&gt;Tidak hanya peduli pada para siswa, PT Adaro Indonesia juga peduli dengan para guru dan tenaga pelajar dengan memberikan kesempatan kepada mereka menggali lebih dalam potensi diri dan pengetahuannya. PT Adaro Indonesia pada kesempatan tersebut melalui Lembaga Pengembangan Potensi Pendidikan Adaro-Partners (LP3-AP) mengadakan serangkaian seminar dan pelatihan Quantum Learning dan Quantum Teaching.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perserta yang terdiri dari 1.122 orang perserta tersebut merupakan para guru dan tenaga pengajar dari tiga Kabupaten, yaitu Tabalong, Balangan Kalimantan Selatan dan Barito Timur Kalimantan Tengah. Dalam pelatihan tersebut para guru dan tenaga pengajar diberikan pelatihan diantaranya Contextual Teaching &amp; Learning (CTL) Sain. Selain itu, para guru dan tenaga pengajar dibekali pula dengan Quantum Teaching yaitu ilmu pengajaran yang menggabungkan unsur seni dalam pencapaian tujuan belajar yang terarah, sehingga para siswa dapat belajar dalam suasana yang meriah. Dan Trainer of Trainer Quantum teaching sebagai program lanjutan quantum teaching serta disuguhi berbagai seminar yang bertemakan tradisi membangun mutu, supervisi dan monitoring sebagai wujud kemampuan melakukan pemantauan implementasi metode pengajaran.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-7915861952886730787?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/7915861952886730787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/metode-quantum-teaching.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7915861952886730787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7915861952886730787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/metode-quantum-teaching.html' title='Metode Quantum Teaching'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-1750452819037713645</id><published>2008-11-21T08:47:00.001+07:00</published><updated>2008-11-21T08:47:48.562+07:00</updated><title type='text'>Ciptakan Pola Bermain Efektif</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Peran orangtua dalam tumbuh kembang anak sangat penting, termasuk saat menciptakan pola bermain. Ayah dan ibu sebaiknya bisa memperhatikan kuantitas dan kualitas bermain anak-anak untuk mencegah efek negatif yang mungkin ditimbulkan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kualitas itu penting, percuma bila sang ibu terus di rumah. Kuantitas ada namun kualitas tidak ada, ibu sibuk sendiri dan anak juga sibuk sendiri," ujar Psikolog sekaligus Play Therapist, Dra. Mayke S. Tedjasaputra, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, keterlibatan orang tua sungguh perlu, tentunya disesuaikan dengan tahapan usia anak. "Untuk anak usia 0-2 semua indera perlu dirangsang dengan aktivitas yang sesuai. Aktivitas ini berlangsung hingga masa pra-sekolah," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,permasalahan yang sering terjadi orang tua cenderung sibuk. Menyiasati hal itu, Mayke mengajurkan kepada orang tua untuk menyediakan waktu untuk bermain singkat dengan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misalnya dengan permainan memori yang mungkin hanya membutuhkan waktu 10 hingga 20 menit, mereka akan sangat menikmati. Dengan begitu aktivitas anak yang cenderung negatif karena meminta perhatian orang tua akan cenderung berubah," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis permainan juga menjadi pertimbangan. Dia menunjuk permainan game yang sedang marak. Menurutnya, permainan elektronik atau virtual boleh saja namun hanya sebagai variasi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena anak butuh variasi namun jika sudah terfokus pada permainan saja itu buruk," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh dia menjelaskan, pada permainan virtual anak tidak bisa melihat secara sesungguhnya. Tidak ada ekspresi dan emosi yang dikeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Permainan harus lebih ke tatap muka bukan virtual. Sesekali boleh boleh tapi harus ada variasi dimana anak-anak melakukan sesuatu yang sesungguhnya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayke sempat mengungkapkan kekhawatirannya, bila semua permainan anak serba vitual. Misalnya, anak tidak akan mengetahui bagaimana bermain puzzle. Kemudian, anak tidak bisa mengerakan tangan karena terbiasa menggunakan mouse dan dampak buruk lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayke menyarankan, orangtua sebaiknya memberikan permainan yang bersifat dua arah. Sehingga fisik dan emosi anak akan berkembang optimal. "Orang tua harus bolehkan anak bermain. Sangat jarang orang tua yang bertanya kepada anaknya "apakah sudah bermain," tuturnya.republika.co.id&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-1750452819037713645?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/1750452819037713645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/ciptakan-pola-bermain-efektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/1750452819037713645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/1750452819037713645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/ciptakan-pola-bermain-efektif.html' title='Ciptakan Pola Bermain Efektif'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-7791135487429990803</id><published>2008-11-21T08:45:00.002+07:00</published><updated>2008-11-21T08:47:07.088+07:00</updated><title type='text'>Belajar Matematika Bisa Menyenangkan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Bagi sebagian anak, pelajaran matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan sesuatu yang menakutkan. Hal itu dapat mempengaruhi minat anak untuk mengeksplorasi mata pelajaran yang sangat bermanfaat mengembangkan daya analitis.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun setiap anak memiliki minat yang berbeda-beda namun alangkah baiknya jika orang tua secara kreatif mengarahkan agar anak tidak terlarut dalam ketakutan berlebih terhadap matematika dan IPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masalahnya lebih kepada cara orang tua mengarahkan anak agar matematika tidak menakutkan," ujar Presiden Direktur Mathematics Education clinic sekaligus Ketua Dewan Juri Olimpiade Matematika Pentas Kreasi Anak Indonesia (PKAI), Ridwan Saputra kepada Republika Online ketika ditemui dalam konfrensi pers acara PKAI di Jakarta, Rabu (19/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kata Ridwan, memperkenalkan matematika itu mudah. Dia mencontohkan, orang tua dapat mengenalkan matematika dengan media permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misalnya tambah-kurang,kali-bagi dapat disesuaikan dengan cerita kehidupan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencontohkan, ketika memasuki parki maka orangtua dapat mengajak anak menghitung jumlah mobil yang keluar dan masuk dengan menggunakan kalimat masuk yang diartikan bertambah dan pergi yang bearti berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sendiri, kurang menyetujui pelajaran matematika di sekolah-sekolah yang hanya mengajarkan berhitung bukan berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan tersebut, Ridwan juga mengungkap cara mengatasi masalah rasa malas yang sering menghinggapi anak saat mempelajari matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemalasan anak mempelajari matematika dapat ditanggulangi orang tua dan guru dengan membawa anak ke arah berpikir terlebih dahulu. Yang lebih mudah sekali lagi, menghubungkan matematika dengan kehidupan dan permainan," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridwan memberikan tips untuk membuat anak dengan mudah mempelajari matematika." Ajak anak mencintai matematika, belajar yang rutin, guru yang mengajari juga harus benar, dan bermain" ungkapnya.republika.co.id&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-7791135487429990803?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/7791135487429990803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/belajar-matematika-bisa-menyenangkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7791135487429990803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7791135487429990803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/belajar-matematika-bisa-menyenangkan.html' title='Belajar Matematika Bisa Menyenangkan'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-9213116373230077296</id><published>2008-11-19T10:25:00.001+07:00</published><updated>2008-11-19T10:26:46.337+07:00</updated><title type='text'>eLanguages, Belajar Sambil Membangun Jejaring</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Proses belajar mengajar bahasa Inggris antara guru dan murid di dalam kelas barangkali hal biasa tetapi belajar bersama bahasa Inggris secara online bersama guru dan siswa di luar negeri adalah sesuatu yang baru. Wadah kerja sama antar guru secara online atau eLanguages ini dikembangkan oleh British Council dan Rages Ltd pada 50 sekolah Islam yang tersebar di tujuh provinsi se Indonesia.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui program pembelajaran eLanguages, sekolah-sekolah tersebut didorong untuk membangun jejaring antar sekolah dari dalam dan luar negeri. Program ini memancing kreativitas para guru untuk menerapkan penggunaan bahasa Inggris melalui kegiatan virtual di internet. "Guru dan siswa bisa bertukar silabus dan hasil kegiatan dengan guru dan siswa dari sekolah lain, baik di dalam maupun di luar negeri," ujar Project Officer School Link British Council, Leliana Setiono, Selasa (18/11) di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelatihan eLanguages di SMA Khadijah Surabaya diperlihatkan sebuah proyek, yaitu rangkaian kegiatan sekolah yang melibatkan pembelajaran anak-anak di kelas untuk berkolaborasi dengan sekolah di luar negeri melalui fasilitas video conference. Salah satu proyek memperlihatkan siswa Indonesia yang memainkan lagu dengan alat musik kolintang sementara siswa di luar negeri menyaksikan permainan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Leliana, keuntungan dari metode pembelajaran ini adalah siswa mampu menampilkan hasil karya mereka secara online. Selain itu, mereka juga dapat belajar dari sumber tambahan yang otentik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak dapat berhubungan langsung sambil belajar dengan sesama siswa lain di luar negeri. Wawasan mereka semakin diperluas karena mereka melihat secara langsung aktivitas di luar," ucap Leliana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktisi Schooling Stien Matakupan mengatakan, pembelajaran online akan menumbuhkan kesadaran budaya bagi murid, kemampuan berbahasa, serta ketrampilan pemanfaatan teknologi informasi. "Dengan metode ini, rata-rata anak antusias karena menemukan sesuatu baru, mudah mengingat isi pembelajaran, sadar budaya, serta menghormati pendapat orang lain," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bulan November 2008 hingga Maret 2009, British Council mengadakan pelatihan bagi 50 sekolah Islam dalam Islamic School Support Network (ISSN). Pelatihan tersebut melibatkan sekolah dari berbagai daerah, mulai Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran ini meretas batas ruang dan waktu sehingga siswa dapat menatap langsung sekaligus berkomunikasi dua arah dengan temen-teman mereka di manapun. "Jika sekadar membaca dan mendengar, anak tak akan tahu secara pasti apa yang ia pahami tapi melalui pembelajaran ini wawasan mereka lebih diperkaya," tambah pengajar SMA Khadijah Surabaya Lisa Hadijah.kompas.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-9213116373230077296?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/9213116373230077296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/elanguages-belajar-sambil-membangun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/9213116373230077296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/9213116373230077296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/elanguages-belajar-sambil-membangun.html' title='eLanguages, Belajar Sambil Membangun Jejaring'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-4713047186851422551</id><published>2008-11-12T09:58:00.006+07:00</published><updated>2008-11-12T12:17:49.166+07:00</updated><title type='text'>Masalah Belajar ? Apa yang Harus Dilakukan ?</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika musim sekolah telah berjalan, timbul beberapa kesulitan dan masalah - yang tanpa sadar merupakan dampak dari tertinggalnya nilai "plus" di sekolah. &lt;br /&gt;1.Problem belajar &lt;br /&gt;2.Problem motivasi &lt;br /&gt;3.Problem perilaku &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;4.Problem emosional &lt;br /&gt;5.Problem sosial &lt;br /&gt;6.Problem nilai &lt;br /&gt;klik &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://h1.ripway.com/smartschools/problem belajar.pdf" target="_blank"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; untuk unduh isi artikel..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-4713047186851422551?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/4713047186851422551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/masalah-belajar-apa-yang-harus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/4713047186851422551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/4713047186851422551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/masalah-belajar-apa-yang-harus.html' title='Masalah Belajar ? Apa yang Harus Dilakukan ?'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-6048710110265564572</id><published>2008-11-11T12:15:00.002+07:00</published><updated>2008-11-11T13:17:20.567+07:00</updated><title type='text'>Belajar Bahasa Jepang ?</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;santai : Sangking ngga ada topik buat ditulis, iseng-iseng berbagi ilmu dan pengalaman...&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak saya bertemu orang, entah itu di dunia maya atau di kehidupan nyata(terutama mahasiswa sastra jepang Unsada 07, wuakaka senior neh ceritanya...), yang menanyakan "gimana sih caranya belajar Bahasa Jepang?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah memang, bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa asing yang tergolong rumit. Yang membuat rumit adalah tulisannya, yang mana ada tiga jenis aksara, dan juga adanya konjugasi kata kerja. Kalau teman-teman sekalian memang ingin belajar bahasa Jepang, kita lupakan saja dulu masalah-masalah tersebut. Let's have fun, dibawa seneng aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lumayan lama berkecimpung di bahasa Jepang, walaupun masih sangat jauh dari cukup. Saya menemukan suatu metode belajar yang lumayan oke. Pertama, dalam belajar bahasa Jepang, persiapan yang perlu dilakukan adalah memperbanyak kosa kata, hal ini sangat penting untuk kemudian hari. Gimana mau spik Nippon kalau kosa katanya aja ngga tau? Caranya, sering-sering aja liat kamus Jepang, atau mungkin kamus terlalu berat? Well, ada banyak alternatif lain. Misalnya nonton dorama Jepang, anime mungkin, atau dari game. Dan selagi belajar kosa kata, mulailah mengenal tulisannya. Cukup iseng-iseng aja nulis karakter-karekter hiragana dan katakana. Dosen saya pernah bilang, tulisan hiragana, katakana dan kanji itu yang hafal bukan otak, tapi tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit cerita, ada teman saya, sebelum kuliah, dia sudah duluan mempelajari bahasa Jepang, otodidak lho! Terus ikut kursus cuma buat dapet sertifikat doang. Menurut dia pengaruh terbesar dari progress bahasa Jepangnya adalah berkat menonton dorama. Dia belajar banyak dari dorama, mulai dari kosa kata, nada bicara, dan lain-lain. Dan hasilnya, dia jadi mahasiswi "ter-canggih" di angkatan 07.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, the point is, dalam belajar bahasa Jepang, yang terpenting menurut saya adalah memperbanyak kosa kata dulu, karena dalam tata bahasanya kita cukup menambah partikel saja. Jadi setelah panjang lebar ngga jelas, kira-kira tahapannya seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perbanyak kosa kata anda&lt;br /&gt;2. Sering-seringlah nonton dorama, anime, atau main game yang berbahasa Jepang, eroge juga boleh hehehe, dianjurkan malah, karena banyak kata-katanya.&lt;br /&gt;3. Sambil belajar kosa kata, sekalian iseng-iseng belajar tulisannya, cukup hiragana dan katakana saja dulu.&lt;br /&gt;4. Dan niscaya, ketika memasuki pelajaran tata bahasa, anda tidak menemukan kesulitan yang terlalu berarti.my.opera.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-6048710110265564572?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/6048710110265564572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/belajar-bahasa-jepang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6048710110265564572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6048710110265564572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/belajar-bahasa-jepang.html' title='Belajar Bahasa Jepang ?'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-2596320023443218006</id><published>2008-11-10T21:57:00.001+07:00</published><updated>2008-11-10T22:50:54.650+07:00</updated><title type='text'>Emosi dan Motif</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Selama ini kajian-kajian tentang belajar kurang memperhatikan peran dan pengaruh emosi pada proses dan hasil belajar yang dicapai seseorang. Tetapi, sejak orang mulai memperhatikan peran besar otak dalam segala bentuk perilaku manusia, maka emosi mulai jadi perhatian, termasuk peranannya dalam meningkstkan hasil belajar.&lt;span id="fullpost"&gt;Emosi tidak lagi dipandang sebagai penghambat dalam kehidupan sebagaimana pandangan konvesional, melainkan sebagai sumber kecerdasan, kepekaan, dan berperan dalam menghidupkan perkembangan serta penalaran yang baik. Bahkan saat ini disadari bahwa untuk mencapai keberhasilan belajar, maka proses belajar yang terjadi haruslah menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi emosi dirumuskan secara bervariasi oleh para psikolog, dengan orientasi teoritis yang berbeda-beda, antara lain sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;William James (dalam DR. Nyayu Khodijah) mendefinisikan emosi sebagai keadaan budi rohani yang menampakkan dirinya dengan suatu perubahan yang jelas pada tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goleman, 1999 (dalam DR. Nyayu Khodijah) mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kleinginna &amp; Kleinginna (dalam DR. Nyayu Khodijah) mencatat ada 92 definisi yang berbeda tentang emosi., Namun disepakati bahwa keadaan emosional adalah suatu reaksi kompleks yang melibatkan kegiatan dan perubahan yang mendalam serta dibarengi dengan perasaan yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori-Teori Emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walgito, 1997 (dalam DR. Nyayu Khodijah), mengemukakan tiga teori emosi, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Sentral,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori ini, gejala kejasmanian merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu; jadi individu mengalami emosi terlebih dahulu baru kemudian mengalami perubahan-perubahan dalam kejasmaniannya. Contohnya : orang menangis karena merasa sedih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Periferal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori ini dikemukakan oleh seorang ahli berasal dari Amerika Serikat bernama William James (1842-1910). Menurut teori ini justru sebaliknya, gejala-gejala kejasmanian bukanlah merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu, tetapi malahan emosi yang dialami oleh individu merupakan akibat dari gejala-gejala kejasmanian. Menurut teori ini, orang tidak menangis karena susah, tetapi sebaliknya ia susah karena menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Kepribadian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori ini, emosi ini merupakan suatu aktifitas pribadi, dimana pribadi ini tidak dapat dipisah-pisahkan dalam jasmani dan psikis sebagai dua substansi yang terpisah. Karena itu, maka emosi meliputi pula perubahan-perubahan kejasmanian. Misalnya apa yang dikemukakan oleh J. Linchoten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi manusia, emosi tidak hanya berfungsi untuk Survival atau sekedar untuk mempertahankan hidup, seperti pada hewan. Akan tetapi, emosi juga berfungsi sebagai Energizer atau pembangkit energi yang memberikan kegairahan dalam kehidupan manusia. Selain itu, emosi juga merupakan Messenger atau pembawa pesan (Martin dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survival, yaitu sebagai sarana untuk mempertahankan hidup. Emosi memberikan kekuatan pada manusia untuk membeda dan mempertahankan diri terhadap adanya gangguan atau rintangan. Adanya perasaan cinta, sayang, cemburu, marah, atau benci, membuat manusia dapat menikmati hidup dalam kebersamaan dengan manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energizer, yaitu sebagai pembangkit energi. Emosi dapat memberikan kita semangat dalam bekerja bahkan juga semangat untuk hidup. Contohnya : perasaan cinta dan sayang. Namun, emosi juga dapat memberikan dampak negatif yang membuat kita merasakan hari-hari yang suram dan nyaris tidak ada semangat untuk hidup.Contohnya : perasaan sedih dan benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Messenger, yaitu sebagai pembawa pesan. Emosi memberitahu kita bagaimana keadaan orang-orang yang berada disekitar kita, terutama orang-orang yang kita cintai dan sayangi, sehingga kita dapat memahami dan melakukan sesuatu yang tepat dengan kondisi tersebut. Bayangkan jika tidak ada emosi, kita tidak tahu bahwa disekitar kita ada orang yang sedih karena sesuatu hal yang terjadi dalam keadaan seperti itu mungkin kita akan tertawa-tawa bahagia sehingga membuat seseorang yang sedang bersedih merasa bahwa kita bersikap empati terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis dan Pengelompokkan Emosi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar emosi manusia dibedakan dalam dua bagian yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi positif (emosi yang menyenangkan), yaitu emosi yang menimbulkan perasaan positif pada orang yang mengalaminya, diataranya adalah cinta, sayang, senang, gembira, kagum dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi negatif (emosi yang tidak menyenangkan), yaitu emosi yang menimbulkan perasaan negatif pada orang yang mengalaminya, diantaranya adalah sedih, marah, benci, takut dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Pengaruh Emosi pada belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas belajar (Meier dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006). Emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi yang negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali. Oleh karena itu, pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif pada diri pembelajar. Untuk menciptakan emosi positif pada diri siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan dengan penciptaan kegembiraan belajar. Menurut Meier, 2002 (dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006) kegembiraan belajar seringkali merupakan penentu utama kualitas dan kuantitas belajar yang dapat terjadi. Kegembiraan bukan berarti menciptakan suasana kelas yang ribut dan penuh hura-hura. Akan tetapi, kegembiraan berarti bangkitnya pemahaman dan nilai yang membahagiakan pada diri si pembelajar. Selain itu, dapat juga dilakukan pengembangan kecerdasan emosi pada siswa. Kecerdasan emosi merupakan kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya secara sehat terutama dalam berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. MOTIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pengertian Motif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Winkel, 1996 (dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006), menyatakan Motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Azwar (dalam DR. Nyayu Khodijah, 2006), disebutkan bahwa Motif adalah suatu keadaan, kebutuhan, atau dorongan dalam diri seseorang yang disadari atau tidak disadari yang membawa kepada terjadinya suatu perilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa pendapat di atas, maka kami dapat menyimpulkan bahwasannya Motif merupakan suatu dorongan dan kekuatan yang berasal dari dalam diri seseorang baik yang disadari maupun tidak disadari untuk mencapai tujuan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Macam-Macam Motif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut WoodWorth dan Marquis, 1957 (dalam DR. Nyayu khodijah, 2006), motif itu dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif yang berhubungan dengan kebutuhan Kejasmanian (organic needs), yaitu merupakan motif yang berhubungan dengan kelangsungan hidup individu atau organisme, misalnya motif minum, makan, kebutuhan pernapasan, seks, kebutuhan beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif darurat (emergency motives), yaitu merupakan motif untuk tindakan-tindakan dengan segera karena sekitar menuntutnya, misalnya motif untuk melepaskan diri dari bahaya, motif melawan, motif untuk mengatasi rintangan-rintangan, motif untuk bersaing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif Obyektif (obyective motives), yaitu merupakan motif untuk mengadakan hubungan dengan keadaan sekitarnya, baik terhadap orang-orang atau benda-benda. Misalnya, motif eksplorasi, motif manipulasi, minat. Minat merupakan motif yang tertuju kepada sesuatu yang khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kekuatan Motif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu motif dikatakan kuat apabila motif itu dapat mengalahkan kekuatan motif yang lain. Sehubungan dengan hal tersebut beberapa eksperimen dilaksanakan untuk mengetahui tentang kekuatan motif-motif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Konflik Motif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan sehari-hari menunjukkan bahwa kadang-kadang orang menghadapi beberapa macam motif yang saling bertentangan satu dengan yang lain. Misalnya pada suatu waktu seseorang mempunyai motif untuk belajar, tetapi juga mempunyai motif untuk melihat film. Dengan keadaan demikian maka akan terjadi pertentangan atau konflik dalam diri orang tersebut antara motif yang satu dengan motif yang lain. Jadi, konflik motif akan terjadi bila adanya beberapa tujuan yang ingin dicapai sekaligus secara bersamaan. Ada beberapa kemungkinan respon yang dapat diambil bila individu menghadapi bermacam-macam motif, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan atau Penolakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi bemacam-macam motif individu dapat mengambil pemilihan yang tegas. Dalam pemilihan yang tegas individu dihadapkan kepada situasi dimana individu harus memberikan salah satu respon (pemilihan atau penolakan) dari beberapa macam objek atau situasi yang dihadapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompromi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika individu menghadapi dua macam objek atau situasi, adanya kemungkinan individu dapat mengambil respon yang bersifat Kompromi, yaitu menggabungkan kedua macam objek tersebut. Tetapi, tidak semua objek atau situasi dapat diambil respon atau keputusan kompromi. Dalam hal yang akhir ini individu harus mengambil pemilihan atau penolakan dengan tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meragu-ragukan (bimbang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika individu diharuskan mengadakan pemilihan atau penolakan diantara dua objek atau hal yang buruk atau baik, maka sering timbul kebimbangan pada individu. Kebimbangan terjadi karena masing-masing objek mempunyai nilai-nilai positif ataupun negatif, kedua-duanya mempunyai sifat atau segi yang menguntungkan tetapi juga mempunyai segi yang merugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebimbangan umumnya tidak menyenangkan bagi individu dan kadang-kadang menimbulkan perasaan yang mengacaukan hingga keadaan psikis, sehingga individu mengalami hambatan-hambatan. Keadaan ini dapat diatasi dengan cara individu mengambil suatu keputusan dengan mempertimbangkan dan melakukan pemeriksaan dengan teliti terhadap segala aspek dari objek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Peran Motivasi dalam mencapai keberhasilan Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam penumbuhan gairah, perasaan dan semangat untuk belajar. Dengan demikian motivasi memiliki peran strategis dalam belajar, baik pada saat memulai belajar, saat sedang belajar maupun saat berakhirnya belajar. Agar perannya lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam aktifitas belajar haruslah dijalankan. Prinsip-Prinsip tersebut adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi sebagai penggerak yang mendorong aktivitas belajar&lt;br /&gt;Motivasi intrinsic lebih utama daripada motivasi ekstrinsik dalam belajar&lt;br /&gt;Motivasi berupa pujian lebih baik daripada hukuman&lt;br /&gt;Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan belajar&lt;br /&gt;Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar&lt;br /&gt;Motivasi melahirkan prestasi dalam belajar.&lt;br /&gt;(sumber : psb-psma.org)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-2596320023443218006?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/2596320023443218006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/emosi-dan-motif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2596320023443218006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2596320023443218006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/emosi-dan-motif.html' title='Emosi dan Motif'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-3658229171583102738</id><published>2008-11-08T12:06:00.001+07:00</published><updated>2008-11-08T12:08:02.954+07:00</updated><title type='text'>Memupuk Kejujuran Anak-Anak Sejak Dini</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Memupuk kejujuran anak-anak sejak dini bakal menuai keluhuran budi pekerti. Contohnya, Sekolah Dasar Great Crystal International School (GCIS) yang membuka kantin kejujuran (honesty canteen). Kantin sekolah di Jalan Raya Darmo Permai itu membiarkan anak-anak membeli, membayar, dan mengambil uang kembalian saat jajan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah GCIS Kristianawati mengatakan, kantin tersebut sengaja dibuat untuk melatih kejujuran siswa. Praktik seperti itu merupakan aplikasi pelajaran budi pekerti. "Kami ingin melatih kejujuran sejak anak usia dini," katanya kemarin (8/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantin kejujuran tersebut, siswa membeli makanan dan minuman tanpa dilayani pelayan dan kasir. Hanya ada dua toples yang berfungsi sebagai tempat meletakkan uang dan mengambil kembalian. Dalam kantin itu, ada meja berukuran besar. Makanan dan minuman tertata berjajar di atasnya, lengkap dengan tulisan harga masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selain melatih kejujuran, kantin ini bisa menjadi tempat berlatih menghitung," ujar Kristianawati. Saraf motorik siswa dilatih dengan menghitung berapa yang harus dibayar dan berapa kembaliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantin kejujuran berdiri pada Juni lalu. Pada dua bulan pertama, masih ditemukan selisih antara pembayaran dan uang kembalian. Namun, kata dia, menginjak bulan ketiga dan keempat, sudah tidak ada selisih lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, setiap hari sekolah memberikan nasihat tentang arti penting kejujuran. Banyak juga siswa yang salah menghitung uang kembalian. Sekolah pun terpaksa tekor untuk mengganti. "Setelah empat bulan, hal seperti itu ternyata tidak terjadi lagi," tuturnya(sumber : www.jawapos.com).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-3658229171583102738?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/3658229171583102738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/memupuk-kejujuran-anak-anak-sejak-dini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3658229171583102738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3658229171583102738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/memupuk-kejujuran-anak-anak-sejak-dini.html' title='Memupuk Kejujuran Anak-Anak Sejak Dini'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-6901305061383143039</id><published>2008-11-08T08:08:00.002+07:00</published><updated>2008-11-08T08:24:23.725+07:00</updated><title type='text'>E-Learning Belum Bisa Gantikan Sistem Kelas ???</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;SURABAYA--MI: E-learning atau pembelajaran virtual masih sebatas kebutuhan sekunder semata, sehingga belum mampu menggantikan sistem kelas seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di Jepang, e-learning hanya berupa alat bantu bagi dosen dan mahasiswa, sehingga belum dapat menggantikan sistem kelas biasa," kata staf pengajar dari Kumamoto University Jepang, Prof.Toshihiro Kita di Surabaya, Rabu.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, e-learning tidak bertujuan mengganti sistem kelas, tapi hanya semacam alat tambahan untuk menyampaikan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya mengaku telah melakukan riset mengenai e-learning di universitas, namun tren ini dianggap masih bertahan di era selanjutnya. Bahkan meskipun berbagai model e-learning telah banyak dikembangkan, namun pembelajaran melalui kelas masih dianggap yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di universitas Kumamoto sendiri, katanya, baru sekitar sepuluh persen dari jumlah pengajarnya yang sudah memanfaatkan konsep ini. Namun jumlah ini tidak menunjukkan rendahnya penggunaan kelas virtual di kampusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun, ujarnya, penggunaan e-learning di tingkat mahasiswa dirasakan sangat perlu. "Nanti akan terjadi timbal balik. Jika mahasiswa banyak yang menggunakan e-learning, para dosen juga akan terdorong untuk memakainya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, staf pengajar Teknik Elektro ITS, Prof.Dr.Ir Achmad Jazidie M.Eng berharap agar e-learning ini segera dapat diterapkan di ITS. Namun sebelum penerapan secara global, ITS harus menyiapkan satu badan khusus yang akan mengelola e-learning ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, hal ini tidak sulit dilakukan mengingat ITS sudah mempunyai P3AI (Pusat Pengembangan Pendidikan dan Aktivitas Instruksional). "Sekarang P3AI ini yang bertanggung jawab untuk learning process, mungkin e-learning ini kelak masuk di bawahnya," katanya. (Ant/OL-03) (sumber : www.mediaindonesia.com). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana pendapat anda ? &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-6901305061383143039?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/6901305061383143039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/e-learning-belum-bisa-gantikan-sistem.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6901305061383143039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6901305061383143039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/e-learning-belum-bisa-gantikan-sistem.html' title='E-Learning Belum Bisa Gantikan Sistem Kelas ???'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-2132888062953265790</id><published>2008-11-07T13:51:00.004+07:00</published><updated>2008-11-07T13:56:06.075+07:00</updated><title type='text'>7 Langkah Mudah Membuat Multimedia Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Apa saja 7 langkah mudah mengembangkan multimedia pembelajaran itu? Penjelasan lengkap ada di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. TENTUKAN JENIS MULTIMEDIA PEMBELAJARAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan dengan benar, yang akan kita buat itu apakah alat bantu kita untuk mengajar (presentasi) ke siswa atau kita arahkan untuk bisa dibawa pulang siswa alias untuk belajar mandiri di rumah atau sekolah. Jenis multimedia pembelajaran menurut kegunannya ada dua:&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Multimedia Presentasi Pembelajaran: Alat bantu guru dalam proses pembelajaran di kelas dan tidak menggantikan guru secara keseluruhan. Berupa pointer-pointer materi yang disajikan (explicit knowledge) dan bisa saja ditambahi dengan multimedia linear berupa film dan video untuk memperkuat pemahaman siswa. Dapat dikembangkan dengan software presentasi seperti: OpenOffice Impress, Microsoft PowerPoint, dsb.&lt;br /&gt;   2. Multimedia Pembelajaran Mandiri: Software pembelajaran yang dapat dimanfaatkan oleh siswa secara mandiri alias tanpa bantuan guru. Multimedia pembelajaran mandiri harus dapat memadukan explicit knowledge (pengetahuan tertulis yang ada di buku, artikel, dsb) dan tacit knowledge (know how, rule of thumb, pengalaman guru). Tentu karena menggantikan guru, harus ada fitur assesment untuk latihan, ujian dan simulasi termasuk tahapan pemecahan masalahnya. Untuk level yang kompleks dapat menggunakan software semacam Macromedia Authorware atau Adobe Flash. Sayangnya saya masih belum bisa nemukan yang selevel dengan itu untuk opensource-nya. Kita juga bisa menggunakan software yang mudah seperti OpenOffice Impress atau Microsoft PowerPoint, asal kita mau jeli dan cerdas memanfaatkan berbagai efek animasi dan fitur yang ada di kedua software terebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. TENTUKAN TEMA MATERI AJAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil tema bahan ajar yang menurut kita sangat membantu  meningkatkan pemahaman ke siswa dan menarik bila kita gunakan multimedia. Ingat bahwa tujuan utama kita membuat multimedia pembelajaran adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa. Jangan terjebak ke memindahkan buku ke media digital, karena ini malah mempersulit siswa. Ketika guru biologi ingin menggambarkan sebuah jenis tumbuhan supaya bisa dipahami siswa, dan itu sulit ternyata dilakukan (karena guru tidak bisa nggambar di komputer, dsb), maka ya jangan dilakukan ;) Alangkah lebih baik apabila pohon tersebut dibawa saja langsung ke depan kelas. Ini salah satu contoh bagaimana media pembelajaran itu sebenarnya tidak harus dengan teknologi informasi. Dalam sertifikasi guru, pemanfaatan media pembelajaran seperti pohon itu, atau kecoak dikeringkan, dsb tetap mendapatkan poin penilaian yang signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. SUSUN ALUR CERITA (STORYBOARD)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susun alur cerita atau storyboard yang memberi gambaran seperti apa materi ajar akan disampaikan. Jangan beranggapan bahwa storyboard itu hal yang susah, bahkan point-point saja asalkan bisa memberi desain besar bagaimana materi diajarkan sudah lebih dari cukup. Cara membuatnya juga cukup dengan software pengolah kata maupun spreadsheet yang kita kuasai, tidak perlu muluk-muluk menggunakan aplikasi pembuat storyboard professional. Untuk storyboard sederhana, saya berikan contoh karya pak ismudji  dari SMA Bontang, Kaltim (ismudji-storyboard.pdf).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. MULAI BUAT SEKARANG JUGA!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menunda atau mengulur waktu lagi, buat sekarang juga! Siapkan Openoffice Impress atau Microsoft PowerPoint anda. Mulai buat slide pertama, isikan bahan ajar yang ingin anda multimedia-kan. Terus masukkan bahan ajar anda di slide slide berikutnya, mulai mainkan image, link dengan gambar, suara dan video yang bisa kita peroleh dengan gampang di Internet. Bisa juga memanfaatkan situs howstuffworks.com untuk mencari ide :) Jangan lupa juga bahwa banyak pemenang-pemenang lomba pengembangan multimedia pembelajaran yang hanya bermodal Openoffice Impress atau PowerPoint sudah cukup membuat karya yang berkualitas tinggi. Gambar disamping saya ambil dari karya pak Teopilus Malatuni, guru SMAN 1 Kaimana Papua Barat yang dibuat dengan tool sederhana, bisa mendapatkan skor signifikan di lomba dikmenum tahun 2007. Kuncinya adalah tekun, sabar dan pantang menyerah. Tidak ada ilmu pengetahuan yang bisa didapat secara instan, semua melewati proses panjang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;5. GUNAKAN TEKNIK ATM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapkan metode ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi). Usahakan sering melihat contoh-contoh yang sudah ada untuk membangkitkan ide. Gunakan logo, icon dan image yang tersedia secara default. Apabila masih kurang puas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Cari dari berbagai sumber&lt;br /&gt;* Buat sendiri apabila mampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berikan contoh bagaimana perdjoeangan mas Heru Suseno, guru fisika dari SMA Negeri 2 Madiun. Mas Heru ini dengan seriusnya menerapkan ATM dengan mencoba meniru tampilan Microsoft Encarta di tahun 2006. Tahun 2007 beliau sudah berhasil memperbaiki dan memodifikasi karya untuk selevel Encarta, tapi sudah tidak nyontek Encarta lagi :)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;6. TETAPKAN TARGET&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaga keseriusan proses belajar dengan membuat target pribadi, misalnya untuk mengikuti lomba, memenangkan award, menyiapkan produk untuk dijual, atau deadline jadwal mengajar di kelas. Target perlu supaya proses belajar membuat multimedia pembelajaran terjaga dan bisa berjalan secara kontinyu alias tidak putus di tengah jalan. Untuk lomba dan award, paling tidak di Indonesia ada berbagai event nasional yang bisa kita jadikan target. Balai pengembangan multimedia dan dinas pendidikan nasional di berbagai daerah saat ini saya lihat mulai marak menyelenggarakan berbagai event lomba di tingkat lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Teacher Innovation (Microsoft): Sekitar Mei&lt;br /&gt;    * Lomba Pembuatan Multimedia Pembelajaran (Dikmenum): Sekitar Oktober&lt;br /&gt;    * eLearning Award (Pustekkom): Sekitar September&lt;br /&gt;    * Game Technology Competition (BPKLN): Setahun 3-4 kali di berbagai universitas&lt;br /&gt;    * dsb&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;7. INGAT TERUS TIGA RESEP DARI SUCCESS STORY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman menjadi juri lomba di berbagai event, saya lihat kesuksesan bapak ibu guru dalam mengembangkan multimedia pembelajaran bukan dari kelengkapan infrastruktur atau berlimpahnya budget yang dimiliki, tapi justru dari ketiga hal ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berani mencoba dan mencoba lagi&lt;br /&gt;2. Belajar mandiri (otodidak) dari buku-buku yang ada (perlu investasi membeli buku)&lt;br /&gt;3. Tekun dan tidak menyerah meskipun peralatan terbatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berikan contoh bagaimana pak Joko Triyono, guru kesenian dari SMA prembun berdjoeang sampai akhirnya menikmati banyak penghargaan di berbagai event. Saya ingat benar karya pertama beliau tahun 2005 berformat HTML, masih polos sekali, bahkan beberapa halaman error karena salah link. Kemudian beliau belajar dari awal menggunakan software presentasi dan akhirnya tahun 2007 beliau berhasil menghasilkan produk yang sudah siap jual dalam tema Musik Gamelan. Beliau rekam satu persatu puluhan peralatan gamelan jawa, dan dimasukkan ke multimedia pembelajaran yang beliau buat. Dahsyatnya kita bisa nanggap wayang tanpa gamelan dan gending asli, cukup dengan software itu saja, asal dimainkan banyak orang dengan masing-masing memilih satu jenis gamelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak ada kata mudah dalam berdjoeang, paling tidak 7 hal diatas adalah langkah yang cukup mudah ditempuh dan pada kenyataannya banyak yang berhasil berkarya karena tekun dan pantang menyerah mengulang-ulang 7 hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi bapak dan ibu guru, selamat berdjoeang!(sumber : romisatriawahono.net) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-2132888062953265790?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/2132888062953265790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/7-langkah-mudah-membuat-multimedia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2132888062953265790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2132888062953265790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/7-langkah-mudah-membuat-multimedia.html' title='7 Langkah Mudah Membuat Multimedia Pembelajaran'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-2058555086349606214</id><published>2008-11-07T13:40:00.002+07:00</published><updated>2008-11-07T13:45:23.140+07:00</updated><title type='text'>Aspek dan Kriteria Penilaian Media Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aspek Rekayasa Perangkat Lunak&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* Efektif dan efisien dalam pengembangan maupun penggunaan media pembelajaran&lt;br /&gt;* Reliable (handal)&lt;br /&gt;* Maintainable (dapat dipelihara/dikelola dengan mudah)&lt;br /&gt;* Usabilitas (mudah digunakan dan sederhana dalam pengoperasiannya)&lt;br /&gt;* Ketepatan pemilihan jenis aplikasi/software/tool untuk pengembangan&lt;br /&gt;* Kompatibilitas (media pembelajaran dapat diinstalasi/dijalankan di berbagai &lt;br /&gt;  hardware dan software yang ada)&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;* Pemaketan program media pembelajaran terpadu dan mudah dalam eksekusi&lt;br /&gt;* Dokumentasi program media pembelajaran yang lengkap meliputi: petunjuk instalasi  &lt;br /&gt;  (jelas, singkat, lengkap), trouble shooting (jelas, terstruktur, dan antisipatif), &lt;br /&gt;  desain program (jelas, menggambarkan alur kerja program)&lt;br /&gt;* Reusable (sebagian atau seluruh program media pembelajaran dapat dimanfaatkan &lt;br /&gt;  kembali untuk mengembangkan media pembelajaran lain)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Aspek Desain Pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Kejelasan tujuan pembelajaran (rumusan, realistis)&lt;br /&gt;    * Relevansi tujuan pembelajaran dengan SK/KD/Kurikulum&lt;br /&gt;    * Cakupan dan kedalaman tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;    * Ketepatan penggunaan strategi pembelajaran&lt;br /&gt;    * Interaktivitas&lt;br /&gt;    * Pemberian motivasi belajar&lt;br /&gt;    * Kontekstualitas dan aktualitas&lt;br /&gt;    * Kelengkapan dan kualitas bahan bantuan belajar&lt;br /&gt;    * Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;    * Kedalaman materi&lt;br /&gt;    * Kemudahan untuk dipahami&lt;br /&gt;    * Sistematis, runut, alur logika jelas&lt;br /&gt;    * Kejelasan uraian, pembahasan, contoh, simulasi, latihan&lt;br /&gt;    * Konsistensi evaluasi dengan tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;    * Ketepatan dan ketetapan alat evaluasi&lt;br /&gt;    * Pemberian umpan balik terhadap hasil evaluasi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Aspek Komunikasi Visual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Komunikatif; sesuai dengan pesan dan dapat diterima/sejalan dengan keinginan &lt;br /&gt;      sasaran&lt;br /&gt;    * Kreatif dalam ide berikut penuangan gagasan&lt;br /&gt;    * Sederhana dan memikat&lt;br /&gt;    * Audio (narasi, sound effect, backsound,musik)&lt;br /&gt;    * Visual (layout design, typography, warna)&lt;br /&gt;    * Media bergerak (animasi, movie)&lt;br /&gt;    * Layout Interactive (ikon navigasi)&lt;br /&gt;(sumber : romisatriawahono.net)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-2058555086349606214?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/2058555086349606214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/aspek-dan-kriteria-penilaian-media.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2058555086349606214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2058555086349606214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/aspek-dan-kriteria-penilaian-media.html' title='Aspek dan Kriteria Penilaian Media Pembelajaran'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-3168408558731644272</id><published>2008-11-06T16:39:00.001+07:00</published><updated>2008-11-06T16:41:08.503+07:00</updated><title type='text'>Guru Perlu Kreatif untuk Meredakan Kebosanan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Cukup banyak guru-guru mengatakan merasa capek atau lesu apabila harus segera masuk kelas untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam pengontrolan absensi, hampir setiap hari ada surat-surat guru yang datang mengabarkan halangan mereka untuk tidak datang ke sekolah.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya alasan serius atau alasan berpura-pura guru dalam suratnya sehingga berhalangan untuk tidak hadir di sekolah karena sakit. Sering alasan lain adalah untuk memohon izin karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Kalau kita fikirkan siapakah orang di dunia yang luput dari urusan keluarga. Tetapi rasanya tidak logis kalau seorang guru sempat dalam satu bulan membuat alasan sepele dan berhalangan untuk mengajar sebanyak sekian kali. Dan alasan sepele ini cukup banyak dilakukan oleh guru-guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dikatakan, buat sementara, bahwa keabsenan guru-guru dari sekolah alasan, berpura-pura dalam alasan, karena rasa tersandung oleh bosan selama proses belajar mengajar. Kemalasan guru-guru yang lain sering terekspresi dalam bentuk kelesuan setiap kali harus menaikkan kewajiban dalam PBM. Meskipun bel tanda masuk telah berbunyi beberapa menit yang lalu namun masih banyak guru-guru yang ingin menyelesaikan gosip-gosip ringan sesama guru. Malah ada sebagian guru ada yang sengaja hilir-mudik atau berpura kasak-kusuk dalam mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Sampai akhirnya selalu terlambat tiba di kelas dan kemudian sengaja pula agak cepat untuk meninggalkan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebosanan dalam PBM disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari guru dan faktor yang berasal dari murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabaian kedua faktor ini akan menyebabkan masalah dalam PBM tidak teratasi. Untuk memuluskan PBM maka kedua faktor ini harus dipahami dan diatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata guru merasa enggan untuk memasuki kelas-kelas dengan siswa mempunyai daya serap rendah atau bodoh. Gairah mengajar guru untuk mengajar kerap kali terpancing karena di dalam kelas ada beberapa orang siswa yang cukup pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sejak keberadaan kelas unggul di setiap sekolah maka siswa-siswa yang memiliki daya serap tinggi terkonsentrasi ke dalam satu kelas saja. Maka gairah guru untuk melaksanakan PBM hanya lebih tertuju untuk kelas unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk kelas-kelas non unggul yang jumlahnya cukup banyak dengan kemampuan siswa rendah terpaksa dimasuki oleh guru dengan rasa lesu dan letih. Tentu tidak semua guru yang menunjukkan gejala yang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya penyebab melempemnya daya serap siswa di sekolah adalah karena mereka tidak terbiasa dengan budaya membaca sehingga mereka lambat dalam menganalisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan dalam belajar cuma menghafal melulu. Dapat diamati bahwa siswa yang telah terbiasa dalam budaya membaca tidak mengalami kesulitan dalam PBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak siswa yang terbiasa dengan budaya membaca sehingga akibatnya adalah tidak banyak pula siswa yang memiliki daya serap tinggi. Daya serap yang tinggi selain disebabkan oleh faktor IQ juga ditentukan oleh pelaksanaan agenda kehidupan atau pemanfaatan waktu. Seringkali orang tua yang ikut campur dalam masalah waktu anak dan gemar “mencikaraui” anak akan menjadikan anaknya sebagai siswa yang memiliki daya serap tinggi di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor yang datang dari guru cukup bervariasi. Dulu menjadi guru memang serba dihormati dan tentu saja menyenangkan. Tetapi belakangan ini, bahkan terlalu banyak korban perasaan apalagi semenjak remaja banyak mengalami emosi moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terus terang saja, siswa-siswanya terdiri dari anak-anak yang kebanyakan tidak diwarisi nilai agama yang mantap oleh orang tua. Ada juga siswa yang merupakan anak-anak pejabat yang kaya-kaya dan anak orang berada sedangkan guru-gurunya miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor yang menyebabkan guru merasa bosan dalam PBM mungkin karena kelelahan. Barangkali ia memiliki jumlah jam yang terlalu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau pada sekolah pengabdiannya hanya mengajar beberapa jam saja, tetapi karena tuntutan hidup ia menjadi guru sukarela pula pada suatu atau dua sekolah lain. Atau bisa jadi karena kelelahan fisik setelah menjadi guru selama puluhan tahun. Sering kita lihat para guru-guru tua yang belum sudi untuk pensiun merasa segan untuk melakukan PBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara mayoritas guru kelihatan kurang termotivasi untuk meningkatkan kualitas dirinya. Mereka tidak banyak membaca, walaupun sebatas membaca koran dan majalah, sehingga jadilah ilmu pengetahuan mereka sempit dan dangkal. Kebanyakan guru-guru sehabis mengajar ya habis begitu saja. Begitulah kegiatan rutin mereka hari demi hari sampai akhirnya rasa bosan menyelinap ke dalam fikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada guru yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup luas dan cukup hangat dalam bergaul bersama siswa. Namun juga sering mengeluh bosan untuk melakukan PBM sehingga mengajar secara serampangan dengan metode kuno sepanjang hari. Guru yang seperti ini sebaiknya harus segera melakukan introspeksi diri dan kemudian memutuskan apakah karir sebagai guru cocok baginya atau tidak. Tetapi pada umumnya mereka tetap bertahan mengajar dalam kebosanan karena tidak mampu mencari pekerjaan jenis lain yang cocok bagi diri, maklum banyak orang terserang sindrom pegawai negeri dengan alasan jaminan untuk hari tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap guru banyak terdengar keluhan guru-guru. Ada yang mengeluhkan badan kurang enak karena sakit kepala, sakit gigi, perut terasa kembung atau badan terasa pegal-pegal dimana ini semua adalah kompensasi dari bentuk rasa bosan. Mereka bosan untuk menunaikan tanggung jawab. Dan penyebab lain dari rasa bosan ini adalah karena umumnya guru-guru kurang kreatif sehingga mereka jarang yang menjadi guru profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang secara umum guru-guru terlihat kurang kreatif dan sebagian kecil tentu ada yang kreatif. Rata-rata guru menerapkan peranan tradisional dalam mengajar. Mereka masih berfilsafat bahwa guru masih sebagai sumber ilmu dan dalam penguasaan ilmu siswa harus menyalin catatan guru dan menghafalkannya tanpa melupakan titik dan komanya sekalipun. Penanganan masalah yang ditemui selama PBM pun juga secara tradisional. Kalau murid bersalah musti diberi nasehat dan kebanyakan sistem pemberian nasehat dalam bentuk komunikasi satu arah, dimana yang sering terlihat ketika guru bertutur kata adalah siswa menekur atau tidak boleh menjawab. Tetapi sekarang entah guru-guru banyak yang tidak bertuah dalam bertutur kata karena kesempitan ilmu dan wawasannya atau karena penghargaan murid semakin berkurang karena kurang diwarisi nilai agama oleh orang tua maka sekarang seakan melebar jurang dalam komunikasi.&lt;br /&gt;Kreativitas guru pun terlihat lemah dalam PBM. Presentasi pengajaran sudah terlihat semakin basi karena menggunakan metode itu ke itu juga. Gema hasil mengikuti penataran, apakah dalam bentuk MGMP, sekali sekali dalam bentuk aplikasi. Kecuali yang terlihat adalah setelah guru mengikuti MGMP guru cuma semakin tertib dalam menulis satuan pelajaran tetapi belum bentuk aplikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara guru-guru yang belum lagi mampu memperlihatkan kreativitas, kita juga melihat guru-guru yang kreatif. Meski mengajar banyak, namun karena kreatif mereka tetap tampak ceria dan segar dalam mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreatifitas seseorang, juga guru, sangat ditentukan oleh keleluasaan dan kedalaman pengetahuan dan wawasan. Oleh sebab itu menjadi guru ideal haruslah selalu membiasakan untuk membelajarkan diri. Adalah sangat tepat bila seorang guru selain memahami bidang studinya juga mendalami pengetahuan umum lainnya sebagai khazanah dirinya. Guru yang luas wawasan dan ilmu pengetahuannya akan tidak pernah kehabisan bahan dalam proses belajar mengajar. Kalau sekarang ada ungkapan yang mengatakan bahwa mengajar itu adalah seni, maka mustahillah guru yang kering akan ilmu dan sempit wawasan dapat mengaplikasikannya sebagi seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti program penyegaran dalam bentuk kegiatan penataran, musyawarah kerja, dan program peningkatan kualitas lain sungguh tepat. Sayang selama ini terlihat kegiatan-kegiatan penyegaran yang ada belum dikemas secara profesional. Dengan arti kata selama mengikuti program penyegaran, guru-guru hanya terlihat secara pasif dan paling kurang bertindak sebagai pendengar abadi. Itulah dampaknya setiap kali seorang guru selesai mengikuti MGMP dan penataran lain, misalnya, seolah-olah tidak membawa perubahan dalam proses belajar mengajar. Terasa seakan-akan apa yang diperoleh selama mengikuti penataran-penataran digambarkan dengan ungkapan “masuk telinga kiri keluar telinga kanan saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melatih diri untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dalam bentuk berpidato atau berceramah untuk masyarakat dan menyempatkan diri untuk menulis artikel-artikel adalah bentuk lain dari pengembangan kreativitas guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendalami psikologi remaja sehingga guru dapat memahami meningkatkan kreativitas guru dalam bertindak. Rata-rata guru yang kreatif adalah guru yang kaya akan ide-ide dan menerapkan bentuk nyata. Dalam realita tampak bahwa kreativitas dapat mengatasi rasa bosan. (sumber : http://www.wikimu.com ; Marjohan, Guru SMA Negeri 3 Batusangkar)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-3168408558731644272?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/3168408558731644272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/guru-perlu-kreatif-untuk-meredakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3168408558731644272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3168408558731644272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/guru-perlu-kreatif-untuk-meredakan.html' title='Guru Perlu Kreatif untuk Meredakan Kebosanan'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-7085636200174307589</id><published>2008-11-06T11:13:00.001+07:00</published><updated>2008-11-06T11:14:42.059+07:00</updated><title type='text'>KU Kenalkan E-learning sebagai Media Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VbKws_J_yxo/SRJvHGl-L_I/AAAAAAAAARo/cphO4YxfffY/s1600-h/prof.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 105px; height: 79px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VbKws_J_yxo/SRJvHGl-L_I/AAAAAAAAARo/cphO4YxfffY/s320/prof.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265393082169176050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pembelajaran dengan E-learning semakin dibutuhkan. Sistem tersebut mulai diterapkan di beberapa perguruan tinggi di dunia termasuk Kumamoto University (KU). Sistem pembelajaran inilah yang diperkenalkan KU dalam The 6th Kumamoto University Forum, Rabu (5/11). Tampil dua pembicara sekaligus, yakni Prof Dr Ir Achmad Jazidie MEng dari ITS dan Prof Toshihiro Kita perwakilan dari Institute for E-learning Development, KU. Keduanya membahas metode pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung Pasca Sarjana, ITS Online - Seminar Internasional Kumamoto University yang digelar di Gedung Pasca Sarjana ITS ini diawali dengan pemaparan E-learning sebagai media pembelajaran. Prof Toshihiro Kita pada presentasinya menjelaskan bahwa pembelajaran virtual hanya sebatas membantu memudahkan proses pembelajaran. "Di Jepang proses E-learning hanya sebagai alat bantu untuk dosen dan mahasiswa," terang pria yang akrab disapa Kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menambahkan, pada kenyataanya model E-learning masih belum bisa menggantikan proses pembelajaran konvensional di kelas. "Bahkan menurut saya pembelajaran di kelas masih merupakan metode terbaik," tandasnya. Metode ini hanya sebagai semacam alat tambahan untuk menyampaikan materi. Namun ke depannya metode ini akan terus dikembangkan dan mungkin tetap bertahan di era selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penerapan E-Learning, KU menggunakan sistem manajemen yang disebut Learning Management Systems (LMS). LMS lazim digunakan perguruan tinggi berbasis Intranet dan Internet. Secara umum, terdapat 2 macam LMS yang sering digunakan dalam E-learning yaitu LMS komersial seperti WebCT dan Blackboard, dan LMS Open Source. Dari kedua tipe LMS tersebut, LMS Open Source adalah yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Univesitas Kumamoto sendiri, menurut Kita tidak banyak staff pengajar yang menggunakan Open Source." Mungkin hanya sekitar 10 persen dari pengajar yang memanfaatkan konsep E-learning," terang Kita. Tetapi, Kita menambahkan bahwa angka tersebut tidak menunjukan rendahnya penggunaan E-learning di kampus kumamoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Prof Dr Ir Achmad Jazidie MEng berharap agar konsep ini segera dapat diterapakan di ITS. Untuk itu dibutuhkan suatu badan khusus yang akan mengelola E-learning. "Hal ini mungkin tidak akan sulit diterapkan karena sudah adanya P3AI (Pusat Pengembangan Pendidikan dan Aktivitas Instruksional, red) di ITS," ujarnya. Menurutnya, badan khusus tersebut akan berada di bawah P3AI yang selama ini bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain diskusi tentang E-learning, Kumamoto University Forum kali ini juga memberikan kesempatan kepada peneliti muda untuk memaparkan karyanya. Salah satu perwakilan ITS yang lolos adalah Yohanes Oscarino yang mempresentasikan papernya pada sesi Young Researchers. Paper Yohanes sendiri mengambil judul Hybrid Multipe Attribute Decision Making yang ia persiapkan selama satu semester. "Metode ini banyak manfaatnya untuk pembangunan industri perkapalan," ungkap mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain hal dengan Makoto Kagabu mahasiswa Graduate School of Science and Technology, KU. Dalam menyelesaikan papernya, timnya melakukan riset di Bandung selama 45 hari. Makoto mengevaluasi usia dari air tanah pada area Jakarta dan banyak mendapatkan data dari Pusat Geoteknologi LIPI. "saya sangat berterimakasih kepada LIPI yang telah banyak membantu," terang pria Jepang berusia 23 tahun ini. (sumber : http://its.ac.id)(fn/m1/mtb)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-7085636200174307589?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/7085636200174307589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/ku-kenalkan-e-learning-sebagai-media.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7085636200174307589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7085636200174307589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/ku-kenalkan-e-learning-sebagai-media.html' title='KU Kenalkan E-learning sebagai Media Pembelajaran'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VbKws_J_yxo/SRJvHGl-L_I/AAAAAAAAARo/cphO4YxfffY/s72-c/prof.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-8673440471885993107</id><published>2008-11-05T08:57:00.001+07:00</published><updated>2008-11-05T08:57:45.379+07:00</updated><title type='text'>Pendidikan dengan Ketakukan-Ketakutan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Sebuah ilustrasi di sebuah SD, seorang guru coba memperlihatkan bagaimana efek bensin terhadap makhluk hidup. Dia memasukkan seekor cacing ke dalam gelas berisi air, dan seekor cacing lagi ke dalam gelas berisi bensin. Beberapa lama kemudian cacing di dalam gelas berisi bensin mati, sedangkan cacing yang dalam gelas berisi air tetap hidup. Lantas guru bertanya pada muridnya, apa kesimpulan yang dapat kalian ambil. &lt;span id="fullpost"&gt;Seorang murid kreatif lansung menjawab, ‘kalo kita minum bensin, kita tidak akan cacingan’ katanya polos. Tapi sayang gurunya lansung saja meyalahkan. Kreatifitas dan imanjinasi belum apa-apa sudah lansung dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang baik tentulah pendidikan yang didukung oleh suasana pendidikan yang memberikan ruang seluas-luasnya untuk kreatifitas dan inovasi. Pendidikan harus dibebaskan dari ketakutan-ketakutan yang menyelimutinya, sebab pendidikan itu adalah alat untuk membebaskan manusia dari dari kebodohon, kemiskinan dan ketidakpastian. Maka menjadi lucu ketika pendidikan yang seharusnya menjadi alat pembebasan itu justru dirinya sendiri terbelenggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses belajar mengajar membutuhkan suasana belajar yang enak, tanpa tekanan-tekanan dan ketakutan-ketakuan yang dapat menenggelamkan ide, kreasi, dan inovasi, Situasi belajar, kondisi psikis, kondisi lingkungan, pemilihan waktu, tata letak ruangan, sampai alunan musik pun mempengaruhi seseorang dalam mencerna pelajaran. Diperlukan keseimbangan antara otak kanan yang lebih bersifat analisis, matematis dan rasio dengan otak kiri yang lebih bersifat rasa, psikis dan seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ketika biasanya seoarang anak murid yang bersalah, lantas dia dihukum berdiri di depan kelas sambil memegang telinga dan mengangkat salah satu kakinya. Benarkah ini? Tidakkah ini membuat si murid jadi harus menanggung malu dihadapan teman-temannya? Dan dia sendiri tidak bisa mengikuti pelajaran. Mungkin maksud guru tersebut baik, untuk memberi pelajaran. Tapi bisa jadi bukannya pelajaran yang didapat dari sang guru, namun malah dendam. Syukur-syukur murid lain jadi takut melakukan kesalahan serupa, tapi kalo jadi takutnya kepada guru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan pendidikan seperti inilah yang membentuk masyarakat kita. Seperti yang biasa kita lakukan dalam mematuhi peraturan lalu lintas. Yaitu bukan karena kesadaran bahwa mematuhi peraturan adalah untuk keselamatan dan ketertiban bersama, tapi karena takut ada polisi. Seperti seseorang yang menerobos lampu lalu lintas saat lampu merah. Ketika dicegat polisi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’Kenapa kamu menerobos lampu merah?”&lt;br /&gt;‘Saya tidak lihat pak?”&lt;br /&gt;‘Bagaimana mungkin lampu lalu lintas, sebesar dan sejelas itu,tidak kelihatan oleh kamu?’&lt;br /&gt;‘Maksud saya, saya tidak melihat ada Bapak berdiri di sebelah sana?”&lt;br /&gt;????????(sumber:http://aufahadi.wordpress.com)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-8673440471885993107?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/8673440471885993107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/pendidikan-dengan-ketakukan-ketakutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8673440471885993107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8673440471885993107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/pendidikan-dengan-ketakukan-ketakutan.html' title='Pendidikan dengan Ketakukan-Ketakutan'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-2091766569145595716</id><published>2008-11-05T08:56:00.001+07:00</published><updated>2008-11-05T08:56:49.154+07:00</updated><title type='text'>Pendidikan yang tak mengenal lingkungan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Paolo Freire, seorang pakar pendidikan yang mengajar penduduk miskin di daerah Amerika Selatan, mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu usaha untuk memanusiakan manusia. Proses memanusiakan manusia ini dapat dicapai melalui adanya suatu ‘kesadaran’, sedangkan yang dimaksud dengan kesadaran menurutnya adalah suatu kondisi dimana seseorang mengerti dan memahami realitas di sekitarnya.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita merujuk ke atas, maka pendidikan menjadi dalam bahaya ketika pendidikan justru membuat kita tidak mengenal persoalan-persoalan di sekitar kita. Menjadi pertanyaan ketika misalnya dalam pelajaran membaca murid SD di seluruh Indonesia yang dikenal adalah nama Budi dan Wati, Wati kakaknya Budi. dsb. Padahal bisa jadi di Irian, di Aceh, di Maluku, dll, tidak ada yang bernama Budi dan Wati. Murid-murid SD dikenalkan bukan kepada apa yang ada di sekitarnya. Murid-murid SD mulai diarahkan untuk tidak berpijak di buminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika boleh aku meminjam pemikiran Freire sebagai pisau analisa (walaupun dia menggunakan dalam konteks masyarakat Brasil), kasus seperti diatas bukanlah sekedar persoalan belajar membaca, tapi merupakan suatu usaha halus untuk menjauhkan seseorang dari lingkungan. Suatu grand design agar orang-orang tidak tahu bahwa ada persoalan disekitarnya. Seseorang dipintarkan untuk suatu hal, tetapi terjadi pembodohan untuk hal yang lain. Orang-orang dicerahkan pada satu sisi, tetapi dibutakan untuk sisi-sisi yang lain. Maka jangan heranlah bila di lingkungan pejabat negara, dikantor-kantor birokrasi ,di perusahaan-perusahaan, bahkan di dunia pendidikan itu sendiri, banyak orang pintarnya. Tapi justru disanalah sering diproduksi ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Menjadi Alat Kepentingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan juga akan menjadi kehilangan fungsi pencerahannya bila mana dominasi kepentingan berbagai pihak demikian kuatnya. Tidak heran sekolah atau kampus berubah fungsi menjadi seperti pabrik-pabrik yang bekerja secara sistematis dalam memprodukasi lulusannya. Murid atau mahasiswa termekanisasi ke dalam system yang bergerak diluar kekuasaannya, bahkan mungkin dosennya. Ibarat bahan baku yang diolah menjadi bahan jadi lalu kemudian di lempar ke pasar industri. Bahan baku ini dirancang dan diolah sebagaimana trend atau kebutuhan pasar. Pasar membutuhkan apa? Nah itulah yang harus kita pelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan kita pelajari bukan memang apa yang mau kita pelajari. Tapi apa yang orang lain (industri/ pasar/ politik/ bisnis/ dan segala kepentingan lainnya) mau kita balajar apa. Kita tidak merdeka dengan pilihan-pilihan kita sendiri.(sumber: aufahadi.wordpress.com)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-2091766569145595716?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/2091766569145595716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/pendidikan-yang-tak-mengenal-lingkungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2091766569145595716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2091766569145595716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/pendidikan-yang-tak-mengenal-lingkungan.html' title='Pendidikan yang tak mengenal lingkungan'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-8170887208018271209</id><published>2008-11-05T08:17:00.003+07:00</published><updated>2008-11-05T08:19:35.855+07:00</updated><title type='text'>Diantara Masalah Pendidikan Indonesia</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Ada banyak penyabab mengapa mutu pendidikan di Indonesia, baik pendidikan formal maupun informal, dinilai rendah. Penyebab rendahnya mutu pendidikan yang akan kami paparkan kali ini adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 EFEKTIFITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanak pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dinaggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunya kelebihan di bidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan di bidang sosial dan dipaksa mangikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 EFISIENSI PENGAJARAN DI INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaiman dapat meraih stendar hasil yang telah disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sitem free cost education. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berbiara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, nemun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat kami lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan Negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, Karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, masalah lain efisienfi pengajarn yang akan kami bahas adalah mutu pengajar. Kurangnya mutu pengajar jugalah yang menyebabkan peserta didik kurang mencapai hasil yang diharapkan dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga membutuhkan uang lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Misalnya saja, pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa, namun di mengajarkan keterampilan, yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan menbuat tertarik peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 STANDARDISASI PENDIDIKAN DI INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pendidikan terus berudah. Kompetensi yang dibutuhka oleh masyarakat terus-menertus berunah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam ere globalisasi. Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard an kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinjauan terhadap sandardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengunkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlanhsug sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal lain juga yang sebenarnya dapat kami bahas dalam pembahasan sandardisasi pengajaran di Indonesia. Juga permasalahan yang ada di dalamnya, yang tentu lebih banyak, dan membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.(sumber:http://sayapbarat.wordpress.com)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-8170887208018271209?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/8170887208018271209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/diantara-masalah-pendidikan-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8170887208018271209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8170887208018271209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/diantara-masalah-pendidikan-di.html' title='Diantara Masalah Pendidikan Indonesia'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-8432629188758538533</id><published>2008-11-04T09:56:00.002+07:00</published><updated>2008-11-04T10:35:13.181+07:00</updated><title type='text'>Tujuan Sekolah Internasional yang Belum Tepat Sasaran</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Sekolah bertaraf internasional adalah sekolah yang menerapkan sistem pendidikannya berdasarkan sekolah-sekolah yang berada di luar negeri. Sistem pendidikan luar negeri memberikan kontribusi besar bagi perkembangan sistem pendidikan negara-negara berkembang seperti Indonesia.&lt;span id="fullpost"&gt; Penerapan sistem pendidikan luar negeri ini memiliki banyak keuntungan yang lebih seperti tumpuan dan perkembangan pembelajaran siswa tergantung pada niat siswa itu sendiri serta diarahkan oleh guru agar tidak melenceng pada tujuan pembelajaran yang sebenarnya. Guru haruslah memiliki sikap percaya kepada kemampuan masing-masing siswa dengan tidak lupa selalu mengarahkan demi kemajuan siswa dalam pembelajaran. Pada intinya adalah “Student Based Learned” yang ingin dicapai oleh sistem pembelajaran luar negeri. Guru hanya bersifat mengarahkan siswa apabila siswa mengalami kesulitan dan hambatan dalam pemecahan suatu permasalahan pembelajaran. Diharapkan setelah guru memberikan pengarahan,siswa dapat dirangsang untuk menemukan solusi pemecahan dalam menyelesaikan persoalan. Tujuan ini tidak lain agar siswa dapat berpikir kritis,kreatif,berkembang,dan tidak tergantung kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Keuntungan lain selain siswa dapat berkembang secara mandiri adalah siswa dituntut untuk selalu aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran tanpa bergantung pada guru. ”Teacher Based Learned” tidak berlaku untuk pembelajaran sistem penerapan pendidikan luar negeri. Selain siswa dituntut untuk belajar mandiri,siswa dituntut untuk dapat bekerja secara kelompok dalam diskusi memecahkan permasalahan bersama. Ada beberapa persoalan yang harus dimusyawarahkan untuk menemukan solusi bersama. Kerja kelompok pastilah tidak lepas dari komunikasi dua arah antara ketua kelompok dan anggota-anggotanya. Sistem ini juga menuntut kecakapan komunikasi bahasa di antara anggota-anggotanya. Sekolah bertaraf internasional telah menerapkan sistem pembelajaran bahasa asing selain Bahasa Indonesia di dalam percakapan sehari-hari dalam kegiatan pembelajaran. Selain bahasa, siswa diharuskan dapat mengaplikasikan teknologi  modern seperti komputer dalam penyelesaian tugas sehari-hari. Di sini dapat kita lihat keuntungan yang ditawarkan oleh sekolah bertaraf internasional dalam mendidik anak-anak didiknya dalam menguasai teknologi dan bahasa yang berguna untuk menghadapi persaingan global. Tetapi, hal itu dapat diterapkan apabila keadaan itu dapat dipenuhi secara ideal oleh sekolah tersebut dalam hal penyediaan dana dan modal pemenuhan segala fasilitas yang menunjang berlangsungnya sistem itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kondisi perekonomian Indonesia belum dapat menunjang sistem tersebut karena masalah dana subsidi pendidikan dari pemerintah yang tidak mencukupi dan berakibat dana tanggungan biaya fasilitas dan pengajaran yang harus ditanggung oleh orang tua sangatlah besar dalam rangka  menerapkan sekolah bertaraf internasional. Ada muncul istilah sekolah nasional bertaraf internasional yang belum dapat dipastikan bahwa sistem pendidikan luar negeri ini dapat berjalan 100 % di sekolah nasional Indonesia. Kenyataannya, sistem ini tidak dapat berjalan 100 % dan terkesan setengah-setengah pelaksanaanya seperti moving class yang pelaksanaannya memakan waktu yang lama dan tidak efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan taraf internasional sangat bagus tetapi kita juga harus mengetahui kemampuan pemenuhan biaya pendidikan negara kita sangatlah terbatas. Alangkah lebih baik apabila sistem pendidikan kita menggunakan sistem yang lama tetapi seluruh penduduk di wilayah Indonesia mendapatkan pendidikan yang sama dan disesuaikan dengan kondisi dana dan siswanya. Mulailah, kita memperbaiki sistem pendidikan Indonesia dari bawah dengan pemerataan pendidikan untuk semua. Apalah artinya pendidikan internasional tanpa pemerataan pendidikan oleh rakyat Indonesia. Pendidikan adalah hak yang wajib diterima oleh rakyat Indonesia jadi tangguhkan dulu pendidikan internasional dengan menekan biaya pendidikan yang dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat setelah itu dapat terlaksana maka kita dapat meniti langkah menuju pendidikan internasional bagi seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan yang terpenting adalah pemerataan bukanlah seberapa mahal fasilitas pendidikan yang hanya dapat dinikmati oleh beberapa orang.  Jadi, mari kita jadikan pendidikan untuk semua. (http://www.kolomkita.com)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-8432629188758538533?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/8432629188758538533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/tujuan-sekolah-internasional-yang-belum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8432629188758538533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8432629188758538533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/tujuan-sekolah-internasional-yang-belum.html' title='Tujuan Sekolah Internasional yang Belum Tepat Sasaran'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-3617847128654408873</id><published>2008-11-04T08:59:00.007+07:00</published><updated>2008-11-04T09:40:50.853+07:00</updated><title type='text'>Panduan prinsip-prinsip pembelajaran efektif</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Pembelajaran efektif berkaitan langsung dengan keberhasilan pencapaian pengalaman belajar&lt;br /&gt;Pembelajaran efektif menguatkan praktek dalam tindakan&lt;br /&gt;Pembelajaran efektif mengintegrasikan komponen-komponen kurikulum inti&lt;br /&gt;Pembelajaran efektif bersifat dinamis dan dapat membangkitkan kegairahan&lt;br /&gt;Pembelajaran efektif merupakan perpaduan antara seni dan ilmu tentang pengajaran&lt;br /&gt;Pembelajaran efektif membutuhkan pemahaman komprehensif tentang siklus pembelajaran&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran efektif dapat menemukan ekspresi terbaiknya ketika guru berkolaborasi untuk mengembangkan, mengimplementasikan, dan menemukan bentuk praktek mengajar yang profesional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GURU, PESERTA DIDIK, DAN PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Guru :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * memperhatikan dan bersikap positif;&lt;br /&gt; * mempersiapkan baik isi materi pelajaran maupun praktek pembelajarannya;&lt;br /&gt; * memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap siswanya;&lt;br /&gt; * memiliki sensitivitas dan sadar akan adanya hubungan antara guru, siswa, serta tugas masing-masing;&lt;br /&gt; * konsisten dan memberikan umpan balik positif kepada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Siswa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * tertarik pada topik yang sedang dibahas;&lt;br /&gt; * dapat melihat relevansi topik yang sedang dibahas;&lt;br /&gt; * merasa aman dalam lingkungan sekolah;&lt;br /&gt; * terlibat dalam pengambilan keputusan belajarnya;&lt;br /&gt; * memiliki motivasi;&lt;br /&gt; * melihat hubungan antara pendekatan pembelajaran yang digunakan dengan pengalaman belajar yang akan dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas pembelajaran :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * spesifik dan dapat dikelola dengan baik&lt;br /&gt; * kemampuan yang dapat dicapai dan menarik bagi siswa&lt;br /&gt; * secara aktif melibatkan siswa&lt;br /&gt; * bersifat menantang dan relevan bagi kebutuhan siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah variabel sebaiknya dijadikan pertimbangan ketika guru menyeleksi model pembelajaran, strategi, dan metode-metode yang akan digunakan. Variabel-variabel tersebut di antaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * hasil dan pengalaman belajar siswa yang diinginkan;&lt;br /&gt; * urutan pembelajaran (sequence) yang selaras : deduktif atau induktif;&lt;br /&gt; * tingkat pilihan dan tanggung jawab siswa (degree);&lt;br /&gt; * pola interaksi yang memungkinkan;&lt;br /&gt; * keterbatasan praktek pembelajaran yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model-model Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Model menggambarkan tingkat terluas dari praktek pendidikan dan berisikan orientasi filosofi pembelajaran.&lt;br /&gt;2. Model digunakan untuk menyeleksi dan menyusun strategi pengajaran, metode, keterampilan, dan aktivitas siswa untuk memberikan tekanan pada salah satu bagian pembelajaran (topik konten).&lt;br /&gt;3. Joyce dan Weil (1986) mengidentifikasi empat model yakni (a) model proses informasi, (b) model personal, (c) model interaksi sosial, dan (d) model behavior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam setiap model terdapat beberapa strategi yang dapat digunakan.&lt;br /&gt;2. Menurut arti secara leksikal, strategi adalah rencana atau kebijakan yang&lt;br /&gt;3. dirancang untuk mencapai suatu tujuan.&lt;br /&gt;4. Dengan demikian strategi mengacu kepada pendekatan yang dapat dipakai oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;5. Strategi dikelompokkan menjadi strategi langsung (direct), strategi tidak langsung (indirect), strategi interaktif (interactive), strategi melalui pengalaman (experiential), dan strategi mandiri (independent).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode-metode Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Metode digunakan oleh guru untuk mengkreasi lingkungan belajar dan menkhususkan aktivitas di mana guru dan siswa terlibat selama proses pembelajaran berlangsung.&lt;br /&gt;2. Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan-keterampilan pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keterampilan merupakan perilaku pembelajaran yang sangat spesifik.&lt;br /&gt;2. Di dalamnya terdapat teknik-teknik pembelajaran seperti teknik bertanya, diskusi, pembelajaran langsung, teknik menjelaskan dan mendemonstrasikan.&lt;br /&gt;3. Dalam keterampilan-keterampilan pembelajaran ini juga mencakup kegiatan perencanaan yang dikembangkan guru, struktur dan fokus pembelajaran, serta pengelolaan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Strategi Pembelajaran Langsung (direct instruction)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Strategi pembelajaran langsung merupakan strategi yang kadar berpusat pada gurunya paling tinggi, dan paling sering digunakan. Pada strategi ini termasuk di dalamnya metode-metode ceramah, pertanyaan didaktik, pengajaran eksplisit, praktek dan latihan, serta demonstrasi.&lt;br /&gt;* Strategi pembelajaran langsung efektif digunakan untuk memperluas informasi atau mengembangkan keterampilan langkah demi langkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Strategi Pembelajaran Tidak Langsung (indirect instruction)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pembelajaran tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan tinggi siswa dalam melakukan observasi, penyelidikan, penggambaran inferensi berdasarkan data, atau pembentukan hipotesis.&lt;br /&gt;* Dalam pembelajaran tidak langsung, peran guru beralih dari penceramah menjadi fasilitator, pendukung, dan sumber personal (resource person).&lt;br /&gt;Guru merancang lingkungan belajar, memberikan kesempatan siswa untuk terlibat, dan jika memungkinkan memberikan umpan balik kepada siswa ketika mereka melakukan inkuiri.&lt;br /&gt;* Strategi pembelajaran tidak langsung mensyaratkan digunakannya bahan-bahan cetak, non-cetak, dan sumber-sumber manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Strategi Pembelajaran Interaktif (interactive instruction)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Strategi pembelajaran interaktif merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi di antara peserta didik.&lt;br /&gt;* Seaman dan Fellenz (1989) mengemukakan bahwa diskusi dan saling berbagi akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan reaksi terhadap gagasan, pengalaman, pandangan, dan pengetahuan guru atau kelompok, serta mencoba mencari alternatif dalam berpikir.&lt;br /&gt;* Strategi pembelajaran interaktif dikembangkan dalam rentang pengelompokkan dan metode-metode interaktif.&lt;br /&gt;* Di dalamnya terdapat bentuk-bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau pengerjaan tugas berkelompok, dan kerjasama siswa secara berpasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Strategi Belajar Melalui Pengalaman (experiential learning)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Strategi belajar melalui pengalaman menggunakan bentuk sekuens induktif, berpusat pada siswa, dan berorientasi pada aktivitas.&lt;br /&gt;* Penekanan dalam strategi belajar melalui pengalaman adalah pada proses belajar, dan bukan hasil belajar.&lt;br /&gt;* Guru dapat menggunakan strategi ini baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sebagai contoh, di dalam kelas dapat digunakan metode simulasi, sedangkan di luar kelas dapat dikembangkan metode observasi untuk memperoleh gambaran pendapat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Strategi Belajar Mandiri (independent study)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Strategi belajar mandiri merujuk kepada penggunaan metode-metode pembelajaran yang tujuannya adalah mempercepat pengembangan inisiatif individu siswa, percaya diri, dan perbaikan diri. Fokus strategi belajar mandiri ini adalah merencanakan belajar mandiri siswa di bawah bimbingan atau supervisi guru.&lt;br /&gt;* Belajar mandiri menuntut siswa untuk bertanggungjawab dalam merencanakan dan menentukan kecepatan belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGEMBANGAN MEDIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGERTIAN MEDIA&lt;br /&gt;AECT : media sebagai bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagne : media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Briggs : media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NEA : media adalah bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDIA adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEGUNAAN MEDIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis&lt;br /&gt;* Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera&lt;br /&gt;* Mengatasi sikap pasif siswa menjadi lebih bergairah&lt;br /&gt;* Mengkondisikan munculnya persamaan persepsi dan pengalaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMILIHAN MEDIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIRI UTAMA MEDIA YAKNI SUARA, VISUAL, GERAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KLASIFIKASI MEDIA&lt;br /&gt;Audio visual gerak / diam&lt;br /&gt;Visual gerak / diam&lt;br /&gt;Audio Cetak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTIMBANGAN PEMILIHAN MEDIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tujuan yang ingin dicapai&lt;br /&gt;* Karakteristik siswa/sasaran&lt;br /&gt;* Jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio, visual, gerak)&lt;br /&gt;* Keadaan lingkungan setempat&lt;br /&gt;* Luasnya jangkauan yang ingin dilayani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Internet dan kumpulan artikel&lt;br /&gt;Dikirim oleh : wijianta, wijianta@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-3617847128654408873?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/3617847128654408873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/panduan-prinsip-prinsip-pembelajaran.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3617847128654408873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3617847128654408873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/panduan-prinsip-prinsip-pembelajaran.html' title='Panduan prinsip-prinsip pembelajaran efektif'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-3858414460966461786</id><published>2008-11-03T11:50:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T11:51:59.986+07:00</updated><title type='text'>Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Kepemiminan merupakan proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai suatu tujuan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seorang kepala sekolah harus dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah yang dipimpinnya melalui cara-cara yang positif untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. &lt;span id="fullpost"&gt;Secara sederhana kepemimpinan transformasional dapat diartikan sebagai proses untuk merubah dan mentransformasikan individu agar mau berubah dan meningkatkan dirinya, yang didalamnya melibatkan motif dan pemenuhan kebutuhan serta penghargaan terhadap para bawahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat empat faktor untuk menuju kepemimpinan tranformasional, yang dikenal sebutan 4 I, yaitu : idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individual consideration.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Idealized influence: kepala sekolah merupakan sosok ideal yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi guru dan karyawannya, dipercaya, dihormati dan mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan sekolah.&lt;br /&gt;2. Inspirational motivation: kepala sekolah dapat memotivasi seluruh guru dan karyawannnya untuk memiliki komitmen terhadap visi organisasi dan mendukung semangat team dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan di sekolah.&lt;br /&gt;3. Intellectual Stimulation: kepala sekolah dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi di kalangan guru dan stafnya dengan mengembangkan pemikiran kritis dan pemecahan masalah untuk menjadikan sekolah ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;4. Individual consideration: kepala sekolah dapat bertindak sebagai pelatih dan penasihat bagi guru dan stafnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil kajian literatur yang dilakukan, Northouse (2001) menyimpulkan bahwa seseorang yang dapat menampilkan kepemimpinan transformasional ternyata dapat lebih menunjukkan sebagai seorang pemimpin yang efektif dengan hasil kerja yang lebih baik. Oleh karena itu, merupakan hal yang amat menguntungkan jika para kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan transformasional di sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kepemimpinan transformasional merupakan sebuah rentang yang luas tentang aspek-aspek kepemimpinan, maka untuk bisa menjadi seorang pemimpin transformasional yang efektif membutuhkan suatu proses dan memerlukan usaha sadar dan sunggug-sungguh dari yang bersangkutan. Northouse (2001) memberikan beberapa tips untuk menerapkan kepemimpinan transformasional, yakni sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berdayakan seluruh bawahan untuk melakukan hal yang terbaik untuk organisasi&lt;br /&gt;2. Berusaha menjadi pemimpin yang bisa diteladani yang didasari nilai yang tinggi&lt;br /&gt;3. Dengarkan semua pemikiran bawahan untuk mengembangkan semangat kerja sama&lt;br /&gt;4. Ciptakan visi yang dapat diyakini oleh semua orang dalam organisasi&lt;br /&gt;5. Bertindak sebagai agen perubahan dalam organisasi dengan memberikan contoh bagaimana menggagas dan melaksanakan suatu perubahan&lt;br /&gt;6. Menolong organisasi dengan cara menolong orang lain untuk berkontribusi terhadap organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://akhmadsudrajat.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-3858414460966461786?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/3858414460966461786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/kepemimpinan-transformasional-kepala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3858414460966461786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3858414460966461786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/kepemimpinan-transformasional-kepala.html' title='Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-2662590054853464614</id><published>2008-11-03T10:06:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T10:07:20.898+07:00</updated><title type='text'>Kompetensi Guru Pada Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh: Depdiknas&lt;br /&gt;Salah satu implikasi yang menentukan keberhasilan program SKM/SSN ialah adanya guru-guru yang memiliki karakteristik dan keterampilan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa guru perlu memiliki seperangkat keterampilan dan kompetensi agar dapat mengajar secara efektif, yaitu (1) Pengetahuan tentang watak dan kebutuhan siswa berbakat, (2) Keterampilan menggunakan teks dan tes, (3) Keterampilan menggunakan dinamika kelompok, (4) Keterampilan dalam bimbingan dan konseling, (5) Keterampilan dalam pengembangan pemikiran kreatif, (6) Keterampilan menggunakan strategi seperti simulasi, (7) Keterampilan memberikan kesempatan belajar pada semua tingkat kognitif (mulai tingkat rendah sampai tingkat tinggi), (8) Keterampilan dalam menghubungkan dimensi kognitif dan afektif, (9) Pengetahuan tentang perkembangan baru dari pendidikan, (10) memiliki pengetahuan tentang riset mutakhir mengenai perkembangan siswa (Munandar, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik Guru untuk program SKM/SSN meliputi : (1) karakteristik filosofi; karakteristik filosofi menentukan pendekatan mereka terhadap siswa di kelas. Guru perlu mencerminkan sikap kooperatif dan demokratis, serta mempunyai kompetensi dan minat terhadap proses pembelajaran, (2) Karakteristik Kompetensi; kompetensi profesional meliputi strategi untuk mengoptimalkan belajar siswa, keterampilan bimbingan dan penyuluhan, dan pemahaman psikologis siswa. (3) Karakteristik Pribadi; meliputi motivasi, kepercayaan diri, rasa humor, kesabaran, minat luas dan keluwesan (Latifah, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas.2008. Model Penyelenggaraan Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Mengah Atas. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-2662590054853464614?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/2662590054853464614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/kompetensi-guru-pada-sekolah-kategori.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2662590054853464614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/2662590054853464614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/kompetensi-guru-pada-sekolah-kategori.html' title='Kompetensi Guru Pada Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-7172356513046825634</id><published>2008-11-03T10:05:00.001+07:00</published><updated>2008-11-03T10:05:54.066+07:00</updated><title type='text'>Pengelolaan Kurikulum Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh: Depdiknas&lt;br /&gt;Pasal 1 butir 19 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. &lt;span id="fullpost"&gt;Kurikulum nasional yang bersifat minimal pada dasarnya dapat dimodifikasi untuk melayani kebutuhan siswa yang memiliki kecerdasan dan kemampuan luar biasa. Namun, pada kenyataannya masih terdapat dua kendala yaitu : 1) Sekolah menjalankan kurikulum nasional yang bersifat minimal tanpa mengolah dan memodifikasi kurikulum guna melayani kebutuhan peserta didik tertentu yang berhak memperoleh pendidikan khusus. 2) ketentuan yang ada belum mengakomodir kebutuhan peserta didik yang berhak memperoleh pendidikan khusus.&lt;br /&gt;Dengan demikian SKM/SSN di SMA adalah kurikulum SMA yang disusun berdasarkan SI dan SKL yang berlaku secara nasional, sehingga lulusan SKM/SSN memiliki kualifikasi dan standar kompetensi sesuai dengan standar nasional pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap guru yang mengajar di Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional perlu terlebih dulu melakukan analisis materi pelajaran untuk menentukan sifat materi yang esensial dan kurang. Suatu materi dikatakan memiliki konsep esensial bila memenuhi unsur kreteria berikut ini : (1) Konsep dasar, (2) Konsep yang menjadi dasar untuk konsep berikut, (3) Konsep yang berguna untuk aplikasi, (4) Konsep yang sering muncul pada Ujian Akhir (Munandar, 2001).&lt;br /&gt;Materi pelajaran yang diidentifikasi sebagai konsep-konsep yang esensial diprioritaskan untuk diberikan secara tatap muka, sedangkan materi-materi yang non-esensial, kegiatan pembelajarannya dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan mandiri (Slameto, 1991).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan paparan di atas dapat dikemukakan bahwa kurikulum dan materi pelajaran yang digunakan dalam penyelenggaraan SKM/SSN adalah kurikulum yang disusun satuan pendidikan dengan pengorganisasian materi kurikulum dibuat menjadi materi umum/wajib dan materi khusus/pilihan. Bentuk pengelolaan yang sesuai dengan uraian di atas adalah kurikulum yang disusun menggunakan pendekatan satuan kredit semester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penerapan SKS, kurikulum dan beban belajar peserta didik dinyatakan dalam satuan kredit semeser (sks). Mata pelajaran dikelompokkan menjadi tiga, yaitu mata pelajaran umum (MPU), mata pelajaran dasar (MPD), dan mata pelajaran pilihan (MPP). MPU harus diambil oleh semua peserta didik sebagai proses pembentukan pribadi yang memiliki akhlak mulia, kepribadian, estetika, jasmani yang sehat, dan jiwa sebagai warganegara yang baik. MPD harus diambil peserta didik sebagai landasan menguasai semua bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. MPP adalah sejumlah mata pelajaran yang disusun menjadi program bidang tertentu yang dipilih sesuai dengan minat, potensi dan kebutuhan serta orientasi bidang studi di perguruan tinggi. Namun, mata pelajaran dari program tertentu boleh juga diambil oleh peserta didik yang telah memilih program lain untuk memperkaya bidang karirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kemungkinan bervariasinya mata pelajaran yang dipilih peserta didik maka sekolah perlu menunjuk petugas pengelola data akademik untuk mendata kemajuan belajar setiap peserta didik dan menyimpannya dengan baik yang dapat dibuka kembali setiap diperlukan. Sekolah mengatur jadwal kegiatan pengganti bagi peserta didik yang pernah absen dan mengatur jadwal kegiatan remidial bagi peserta didik yang belum mencapai kompetensi minimal yang ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah menunjuk guru sebagai petugas pembimbing akademik yang membina peserta didik maksimum 16 orang setiap guru. Guru pembimbing akademik bertugas membantu peserta didik memilih mata pelajaran yang akan diambil pada suatu semester, memilih program jurusan, dan menyelesaikan persoalan akademik secara umum serta menjawab pertanyaan akademik dari orang tua peserta didik yang menjadi binaannya. Peserta didik yang pada suatu semester memiliki indeks prestasi (IP) tinggi maka pada semester berikutnya diberi kesempatan untuk mengambil beban belajar lebih banyak sehingga dapat mencapai kebulatan studi dalam rentang waktu kurang dari enam semester, dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas.2008. Model Penyelenggaraan Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Mengah Atas. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-7172356513046825634?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/7172356513046825634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/pengelolaan-kurikulum-sekolah-kategori.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7172356513046825634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7172356513046825634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/pengelolaan-kurikulum-sekolah-kategori.html' title='Pengelolaan Kurikulum Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-1969299586993068875</id><published>2008-11-03T10:03:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T10:04:44.968+07:00</updated><title type='text'>Sistem Penilaian pada Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh: Depdiknas&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan program SKM/SSN dilakukan penilaian yang berkelanjutan untuk memperoleh informasi tentang kemajuan dan keberhasilan belajar peserta didik. Pada setiap tahap pembelajaran dilakukan penilaian. Penilaian ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian dan kemajuan belajar peserta didik pada setiap tahap atau unit pembelajaran yang didasarkan pada kriteria keberhasilan tertentu (tingkat ketuntasan belajar). &lt;span id="fullpost"&gt;Hasil penilaian ini digunakan sebagai dasar untuk menentukan peserta didik yang boleh melanjutkan ke materi pelajaran berikutnya dan peserta didik yang perlu mendapat layanan perbaikan/remedial (Depdiknas, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pengajaran perbaikan juga diadakan penilaian yang hasilnya digunakan untuk menentukan apakah peserta didik yang bersangkutan telah berhasil mencapai tingkat penguasaan yang dipersyaratkan untuk bisa melanjutkan pada materi selanjutnya. Jika pencapaiannya selalu tidak sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan untuk sebagian besar mata pelajaran maka perlu dipertimbangkan kemungkinan untuk kembali pada program biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian juga diadakan untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana penguasan materi pelajaran yang diberikan dan keberhasilan peserta didik dalam mengikuti program belajar. Penilaian ini mencakup aspek penguasan mata pelajaran dan aspek lainnya seperti; kematangan psikologis, kegairahan dan kejenuhan, kesiapan program itu sendiri termasuk faktor masukan (input) dan proses dalam program tersebut. Hasil penilaian digunakan antara lain untuk penentuan pencapaian kompetensi, penyempurnaan program, pelayanan baik dalam kegiatan pembelajaran maupun pelayanan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian sangat dibutuhkan untuk mengukur tingkat kemampuan dalam mengikuti pembelajaran pada SKM/SSN, perkembangan intelektual maupun emosional peserta didik seperti kematangan psikologis, kegairahan, kejenuhan dan sebagainya,dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pencapaian kompetensi diukur melalui tes kinerja yang dilakukan secara menerus (continuous) menggunakan metode pengamatan, pemberian tugas, dan ujian tulis.&lt;br /&gt;2. Prestasi belajar dinilai dengan skala skor 0 – 100 yang dinyatakan dalam kategori A; B; C; D dan E dengan konversi bobot 4; 3; 2; 1dan 0.&lt;br /&gt;3. Peserta didik yang sudah memperoleh layanan khusus namun tetap belum mencapai skor (kompetensi) minimal pada mata pelajaran wajib harus mengambil ulang pada semester berikutnya, sedangkan untuk mata pelajaran pilihan boleh mengganti dengan pilihan lain pada semester berikutnya.&lt;br /&gt;4. Peserta didik dinyatakan lulus SMA bila telah menyelesaikan total kredit minimal sebesar 120 SKS dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 2,00 dari IPK maksimal 4,00.&lt;br /&gt;5. Peserta didik yang memiliki IPK &lt; 2,00 dari batas kelulusan 2,00 harus mengulang beberapa mata pelajaran wajib dan/atau mengambil mata pelajaran pilihan lain pada semester berikutnya.&lt;br /&gt;6. Sekolah melaporkan kemajuan belajar setiap peserta didik tersebut kepada orang tua peserta didik sebelum diberikan kepada peserta didik yang bersangkutan.&lt;br /&gt;7. Orang tua dari peserta didik yang memiliki IP semester &lt; 2,50 diberitahu dan diundang ke sekolah untuk menyusun rencana pemecahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas.2008. Model Penyelenggaraan Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Mengah Atas. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-1969299586993068875?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/1969299586993068875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/sistem-penilaian-pada-sekolah-kategori.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/1969299586993068875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/1969299586993068875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/sistem-penilaian-pada-sekolah-kategori.html' title='Sistem Penilaian pada Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-3167179224911549636</id><published>2008-11-03T10:01:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T10:02:46.991+07:00</updated><title type='text'>Peran Guru sebagai Motivator dalam KTSP</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student oriented), maka peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai motivator.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar siswa yang efektif.&lt;br /&gt;Dalam perspektif manajemen maupun psikologi, kita dapat menjumpai beberapa teori tentang motivasi (motivation) dan pemotivasian (motivating) yang diharapkan dapat membantu para manajer (baca: guru) untuk mengembangkan keterampilannya dalam memotivasi para siswanya agar menunjukkan prestasi belajar atau kinerjanya secara unggul. Kendati demikian, dalam praktiknya memang harus diakui bahwa upaya untuk menerapkan teori-teori tersebut atau dengan kata lain untuk dapat menjadi seorang motivator yang hebat bukanlah hal yang sederhana, mengingat begitu kompleksnya masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku individu (siswa), baik yang terkait dengan faktor-faktor internal dari individu itu sendiri maupun keadaan eksternal yang mempengaruhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kompleksitas dalam kegiatan pemotivasian tersebut, dengan merujuk pada pemikiran Wina Senjaya (2008), di bawah ini dikemukakan beberapa petunjuk umum bagi guru dalam rangka meningkatkan motivasi belajar siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham ke arah mana ia ingin dibawa. Pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar siswa. Oleh sebab itu, sebelum proses pembelajaran dimulai hendaknya guru menjelaskan terlebih dulu tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini, para siswa pun seyogyanya dapat dilibatkan untuk bersama-sama merumuskan tujuan belajar beserta cara-cara untuk mencapainya.&lt;br /&gt;2. Membangkitkan minat siswa.&lt;br /&gt;Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Beberapa cara dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar siswa, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa. Minat siswa akan tumbuh manakala ia dapat menangkap bahwa materi pelajaran itu berguna untuk kehidupannya. Dengan demikian guru perlu enjelaskan keterkaitan materi pelajaran dengan kebutuhan siswa.&lt;br /&gt;    * Sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan siswa. Materi pelaaran yang terlalu sulit untuk dipelajari atau materi pelajaran yang jauh dari pengalaman siswa, akan tidak diminati oleh siswa. Materi pelajaran yang terlalu sulit tidak akan dapat diikuti dengan baik, yang dapat menimbulkan siswa akan gagal mencapai hasil yang optimal; dan kegagalan itu dapat membunuh minat siswa untuk belajar. Biasanya minat siswa akan tumbuh kalau ia mendapatkan kesuksesan dalam belajar.&lt;br /&gt;    * Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi, misalnya diskusi, kerja kelompok, eksperimen, demonstrasi, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa hanya mungkin dapat belajar dengan baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut. Usahakan agar kelas selamanya dalam suasana hidup dan segar, terbebas dari rasa tegang. Untuk itu guru sekali-sekali dapat melakukan hal-hal yang lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Memberikanpujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan. Pujian tidak selamanya harus dengan kata-kata. Pujian sebagain penghargaan dapat dilakukan dengan isyarat, misalnya senyuman dan anggukan yang wajar, atau mungkin dengan tatapan mata yang meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Berikan penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak siswa yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan secara objektif sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa butuh penghargaan. Penghargaan bisa dilakukan dengan memberikan komentar positif. Setelah siswa selesai mengerjakan suatu tugas, sebaiknya berikan komentar secepatnya, misalnya dengan memberikan tulisan “bagus” atau “teruskan pekerjaanmu” dan lain sebagainya. Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ciptakan persaingan dan kerja sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan yang sehat dapat memberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik. Oleh sebab itu, guru harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bersaing baik antara kelompok maupun antar-individu. Namun demikian, diakui persaingan tidak selamanya menguntungkan, terutama untuk siswa yang memang dirasakan tidak mampu untuk bersaing, oleh sebab itu pendekatan cooperative learning dapat dipertimbangkan untuk menciptakan persaingan antarkelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping beberapa petunjuk cara membangkitkan motivasi belajar siswa di atas, adakalanya motivasi itu juga dapat dibangkitkan dengan cara-cara lain yang sifatnya negatif seperti memberikan hukuman, teguran, dan kecaman, memberikan tugas yang sedikit berat (menantang). Namun, teknik-teknik semacam itu hanya bisa digunakan dalam kasus-kasus tertentu. Beberapa ahli mengatakan dengan membangkitkan motivasi dengan cara-cara semacam itu lebih banyak merugikan siswa. Untuk itulah seandainya masih bisa dengan cara-cara yang positif, sebaiknya membangkitkan motivasi dengan cara negatif dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-3167179224911549636?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/3167179224911549636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/peran-guru-sebagai-motivator-dalam-ktsp.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3167179224911549636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3167179224911549636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/peran-guru-sebagai-motivator-dalam-ktsp.html' title='Peran Guru sebagai Motivator dalam KTSP'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-3513889288427793155</id><published>2008-11-03T10:00:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T10:01:08.968+07:00</updated><title type='text'>Teori Belajar Konstruktivisme</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh: Hamzah*)&lt;br /&gt;A. Hakikat Anak Menurut Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa.&lt;span id="fullpost"&gt; Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme, Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal, (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo, 1998: 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan; (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama, (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62). Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Hakikat Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme, pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai, dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Dr. Hamzah, M.Ed. adalah dosen pada FMIPA Universitas Negeri Makassar&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-3513889288427793155?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/3513889288427793155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/teori-belajar-konstruktivisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3513889288427793155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3513889288427793155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/teori-belajar-konstruktivisme.html' title='Teori Belajar Konstruktivisme'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-6345069777863735452</id><published>2008-11-03T09:51:00.003+07:00</published><updated>2008-11-03T09:59:42.750+07:00</updated><title type='text'>Peran Guru sebagai Fasilitator</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh: Akhmad Sudrajat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pendidikan, istilah fasilitator semula lebih banyak diterapkan untuk kepentingan pendidikan orang dewasa (andragogi), khususnya dalam lingkungan pendidikan non formal. Namun sejalan dengan perubahan makna pengajaran yang lebih menekankan pada aktivitas siswa, belakangan ini di Indonesia istilah fasilitator pun mulai diadopsi dalam lingkungan pendidikan formal di sekolah, yakni berkenaan dengan peran guru pada saat melaksanakan interaksi belajar mengajar.&lt;span id="fullpost"&gt; Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa sebagai fasilitator, guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran guru sebagai fasilitator membawa konsekuensi terhadap perubahan pola hubungan guru-siswa, yang semula lebih bersifat “top-down” ke hubungan kemitraan. Dalam hubungan yang bersifat “top-down”, guru seringkali diposisikan sebagai “atasan” yang cenderung bersifat otoriter, sarat komando, instruksi bergaya birokrat, bahkan pawang, sebagaimana disinyalir oleh Y.B. Mangunwijaya (Sindhunata, 2001). Sementara, siswa lebih diposisikan sebagai “bawahan” yang harus selalu patuh mengikuti instruksi dan segala sesuatu yang dikehendaki oleh guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pola hubungan “top-down”, hubungan kemitraan antara guru dengan siswa, guru bertindak sebagai pendamping belajar para siswanya dengan suasana belajar yang demokratis dan menyenangkan. Oleh karena itu, agar guru dapat menjalankan perannya sebagai fasilitator seyogyanya guru dapat memenuhi prinsip-prinsip belajar yang dikembangkan dalam pendidikan kemitraan, yaitu bahwa siswa akan belajar dengan baik apabila:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siswa secara penuh dapat mengambil bagian dalam setiap aktivitas pembelajaran&lt;br /&gt;2. Apa yang dipelajari bermanfaat dan praktis (usable).&lt;br /&gt;3. Siswa mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuan dan keterampilannya dalam waktu yang cukup.&lt;br /&gt;4. Pembelajaran dapat mempertimbangkan dan disesuaikan dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya dan daya pikir siswa.&lt;br /&gt;5. Terbina saling pengertian, baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, guru seyogyanya dapat memperhatikan karakteristik-karakteristik siswa yang akan menentukan keberhasilan belajar siswa, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setiap siswa memiliki pengalaman dan potensi belajar yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;2. Setiap siswa memiliki tendensi untuk menentukan kehidupannnya sendiri.&lt;br /&gt;3. Siswa lebih memberikan perhatian pada hal-hal menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannnya.&lt;br /&gt;4. Apabila diminta menilai kemampuan diri sendiri, biasanya cenderung akan menilai lebih rendah dari kemampuan sebenarnya.&lt;br /&gt;5. Siswa lebih menyenangi hal-hal yang bersifat kongkrit dan praktis.&lt;br /&gt;6. Siswa lebih suka menerima saran-saran daripada diceramahi.&lt;br /&gt;7. Siswa lebih menyukai pemberian penghargaan (reward) dari pada hukuman (punishment).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dapat memenuhi prinsip-prinsip belajar dan memperhatikan karakteristik individual, juga guru dapat memperhatikan asas-asas pembelajaran sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kemitraan, siswa tidak dianggap sebagai bawahan melainkan diperlakukan sebagai mitra kerjanya&lt;br /&gt;2. Pengalaman nyata, materi pembelajaran disesuaikan dengan pengalaman dan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa.&lt;br /&gt;3. Kebersamaan, pembelajaran dilaksanakan melalui kelompok dan kolaboratif.&lt;br /&gt;4. Partisipasi, setiap siswa dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan sehingga mereka merasa bertanggung jawab atas pelaksanaan keputusan tersebut, sekaligus juga bertanggung atas setiap kegiatan belajar yang dilaksanakannya.&lt;br /&gt;5. Keswadayaan, mendorong tumbuhnya swadaya (self supporting) secara optimal atas setiap aktivitas belajar yang dilaksanakannya.&lt;br /&gt;6. Manfaat, materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan dapat memberikan manfaat untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi siswa pada masa sekarang mau pun yang akan datang.&lt;br /&gt;7. Lokalitas, materi pembelajaran dikemas dalam bentuk yang paling sesuai dengan potensi dan permasalahan di wilayah (lingkungan) tertentu (locally specific), yang mungkin akan berbeda satu tempat dengan tempat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian lain, Wina Senjaya (2008) mengemukakan bahwa agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator, maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar. Dari ungkapan ini, jelas bahwa untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator, guru mutlak perlu menyediakan sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan pembelajaran, dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar bagi para siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan sikap dan perilaku guru sebagai fasilitator, di bawah ini dikemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan guru untuk dapat menjadi seorang fasilitator yang sukses:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mendengarkan dan tidak mendominasi. Karena siswa merupakan pelaku utama dalam pembelajaran, maka sebagai fasilitator guru harus memberi kesempatan agar siswa dapat aktif. Upaya pengalihan peran dari fasilitator kepada siswa bisa dilakukan sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;2. Bersikap sabar. Aspek utama pembelajaran adalah proses belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. Jika guru kurang sabar melihat proses yang kurang lancar lalu mengambil alih proses itu, maka hal ini sama dengan guru telah merampas kesempatan belajar siswa.&lt;br /&gt;3. Menghargai dan rendah hati. Guru berupaya menghargai siswa dengan menunjukan minat yang sungguh-sungguh pada pengetahuan dan pengalaman mereka&lt;br /&gt;4. Mau belajar. Seorang guru tidak akan dapat bekerja sama dengan siswa apabila dia tidak ingin memahami atau belajar tentang mereka.&lt;br /&gt;5. Bersikap sederajat. Guru perlu mengembangkan sikap kesederajatan agar bisa diterima sebagai teman atau mitra kerja oleh siswanya&lt;br /&gt;6. Bersikap akrab dan melebur. Hubungan dengan siswa sebaiknya dilakukan dalam suasana akrab, santai, bersifat dari hati ke hati (interpersonal realtionship), sehingga siswa tidak merasa kaku dan sungkan dalam berhubungan dengan guru.&lt;br /&gt;7. Tidak berusaha menceramahi. Siswa memiliki pengalaman, pendirian, dan keyakinan tersendiri. Oleh karena itu, guru tidak perlu menunjukkan diri sebagai orang yang serba tahu, tetapi berusaha untuk saling berbagai pengalaman dengan siswanya, sehingga diperoleh pemahaman yang kaya diantara keduanya.&lt;br /&gt;8. Berwibawa. Meskipun pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang akrab dan santai, seorang fasilitator sebaiknya tetap dapat menunjukan kesungguhan di dalam bekerja dengan siswanya, sehingga siswa akan tetap menghargainya.&lt;br /&gt;9. Tidak memihak dan mengkritik. Di tengah kelompok siswa seringkali terjadi pertentangan pendapat. Dalam hal ini, diupayakan guru bersikap netral dan berusaha memfasilitasi komunikasi di antara pihak-pihak yang berbeda pendapat, untuk mencari kesepakatan dan jalan keluarnya.&lt;br /&gt;10. Bersikap terbuka. Biasanya siswa akan lebih terbuka apabila telah tumbuh kepercayaan kepada guru yang bersangkutan. Oleh karena itu, guru juga jangan segan untuk berterus terang bila merasa kurang mengetahui sesuatu, agar siswa memahami bahwa semua orang selalu masih perlu belajar&lt;br /&gt;11. Bersikap positif. Guru mengajak siswa untuk mamahami keadaan dirinya dengan menonjolkan potensi-potensi yang ada, bukan sebaliknya mengeluhkan keburukan-keburukannya. Perlu diingat, potensi terbesar setiap siswa adalah kemauan dari manusianya sendiri untuk merubah keadaan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-6345069777863735452?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/6345069777863735452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/peran-guru-sebagai-fasilitator.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6345069777863735452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6345069777863735452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/peran-guru-sebagai-fasilitator.html' title='Peran Guru sebagai Fasilitator'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-4333575437340819276</id><published>2008-11-03T09:49:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T09:50:34.864+07:00</updated><title type='text'>5 Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Berdasarkan hasil analisisnya terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli, Widodo, (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu: &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat, sikap, dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan sumber daya dari kehidupan seharihari, dan juga penerapan konsep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Adanya lingkungan sosial yang kondusif,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sains bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang “kehidupan” ilmuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Ari Widodo. (tt). Konstruktivisme dan Pembelajaran Sains (Makalah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-4333575437340819276?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/4333575437340819276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/5-unsur-penting-dalam-lingkungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/4333575437340819276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/4333575437340819276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/5-unsur-penting-dalam-lingkungan.html' title='5 Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-6544067087513616959</id><published>2008-11-03T09:48:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T09:49:06.693+07:00</updated><title type='text'>Pembelajaran Pengayaan dalam KTSP</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh: Depdiknas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka membantu peserta didik mencapai standar isi dan standar kompetensi lulusan, pelaksanaan atau proses pembelajaran perlu diusahakan agar interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan dan prinsip-prinsip pembelajaran tersebut tidak jarang dijumpai adanya peserta didik yang memerlukan tantangan berlebih untuk mengoptimalkan perkembangan prakarsa, kreativitas, partisipasi, kemandirian, minat, bakat, keterampilan fisik, dsb. Untuk mengantisipasi potensi lebih yang dimiliki peserta didik tersebut, setiap satuan pendidikan perlu menyelenggarakan program pembelajaran pengayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Hakikat Pembelajaran Pengayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, lazimnya guru mengadakan penilaian awal untuk mengetahui kemampuan peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari sebelum pembelajaran dimulai. Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb. Melengkapi strategi pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer multimedia, dsb. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari. Penilaian proses juga digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran bila dijumpai hambatan-hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan kompetensi tertentu. Penilaian akhir program ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi (tingkat penguasaan) minimal atau ketuntasan belajar seperti yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada peserta didik yang lebih mudah dan cepat mencapai penguasaan kompetensi minimal yang ditetapkan, maka sekolah perlu memberikan perlakuan khusus berupa program pembelajaran pengayaan. Pembelajaran pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya. Pembelajaran pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan berpikir, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi, inovasi, penemuan, keterampilan seni, keterampilan gerak, dsb. Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Jenis Pembelajaran Pengayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga jenis pembelajaran pengayaan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Kegiatan eksploratori yang bersifat umum yang dirancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa peristiwa sejarah, buku, tokoh masyarakat, dsb, yang secara regular tidak tercakup dalam kurikulum.&lt;br /&gt;   2. Keterampilan proses yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri.&lt;br /&gt;   3. Pemecahan masalah yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah. Pemecahan masalah ditandai dengan: (a) identifikasi bidang permasalahan yang akan dikerjakan; (b) penentuan fokus masalah/problem yang akan dipecahkan; (c) penggunaan berbagai sumber; (d) pengumpulan data menggunakan teknik yang relevan; (e) analisis data; dan (f) penyimpulan hasil investigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah tertentu, khususnya yang memiliki peserta didik lebih cepat belajar dibanding sekolah-sekolah pada umumnya, dapat menaikkan tuntutan kompetensi melebihi standari isi. Misalnya sekolah-sekolah yang menginginkan memiliki keunggulan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam kecepatan maupun kualitas belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat sasaran maka perlu ditempuh langkah-langkah sistematis, yaitu (1) mengidentifikasi kelebihan kemampuan peserta didik, dan (2) memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran pengayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan kemampuan belajar itu antara lain meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Belajar lebih cepat. Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar tinggi ditandai dengan cepatnya penguasaan kompetensi (SK/KD) mata pelajaran tertentu.&lt;br /&gt;   2. Menyimpan informasi lebih mudah Peserta didik yang memiliki kemampuan menyimpan informasi lebih mudah, akan memiliki banyak informasi yang tersimpan dalam memori/ ingatannya dan mudah diakses untuk digunakan.&lt;br /&gt;   3. Keingintahuan yang tinggi. Banyak bertanya dan menyelidiki merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki hasrat ingin tahu yang tinggi.&lt;br /&gt;   4. Berpikir mandiri. Peserta didik dengan kemampuan berpikir mandiri umumnya lebih menyukai tugas mandiri serta mempunyai kapasitas sebagai pemimpin.&lt;br /&gt;   5. Superior dalam berpikir abstrak. Peserta didik yang superior dalam berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan masalah.&lt;br /&gt;   6. Memiliki banyak minat. Mudah termotivasi untuk meminati masalah baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Teknik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, pengamatan, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini dapat diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dsb.&lt;br /&gt;   2. Tes inventori. Tes inventori digunakan untuk menemukan dan mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan belajar, dsb.&lt;br /&gt;   3. Wawancara. Wanwancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.&lt;br /&gt;   4. Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Belajar Kelompok. Sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.&lt;br /&gt;   2. Belajar mandiri. Secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.&lt;br /&gt;   3. Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.&lt;br /&gt;   4. Pemadatan kurikulum. Pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan bahwa penyelenggaraan pembelajaran pengayaan ini terutama terkait dengan kegiatan tatap muka untuk jam-jam pelajaran sekolah biasa. Namun demikian kegiatan pembelajaran pengayaan dapat pula dikaitkan dengan kegiatan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah dapat juga memfasilitasi peserta didik dengan kelebihan kecerdasan dalam bentuk kegiatan pengembangan diri dengan spesifikasi pengayaan kompetensi tertentu, misalnya untuk bidang sains. Pembelajaran seperti ini diselenggarakan untuk membantu peserta didik mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional maupun internasional seperti olimpiade internasional fisika, kimia dan biologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran, kegiatan pengayaan tidak lepas kaitannya dengan penilaian. Penilaian hasil belajar kegiatan pengayaan, tentu tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi cukup dalam bentuk portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah (lebih) dari peserta didik yang normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adaptasi dan disarikan dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas. 2008. Sistem Penilaian KTSP: Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pengayaan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-6544067087513616959?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/6544067087513616959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/pembelajaran-pengayaan-dalam-ktsp.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6544067087513616959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6544067087513616959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/pembelajaran-pengayaan-dalam-ktsp.html' title='Pembelajaran Pengayaan dalam KTSP'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-7578393762890131490</id><published>2008-11-03T09:37:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T09:38:27.546+07:00</updated><title type='text'>Model Pembelajaran Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh: Depdiknas&lt;br /&gt;Mutu kegiatan belajar-mengajar akan mempengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan SKM/SSN. Oleh karena itu, kegiatan belajar-mengajar bagi peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa perlu dirancang dan diatur sedemikian rupa sehingga dapat dicapai hasil percepatan belajar secara optimal, dan sebaliknya. Seperti dikemukakan Caroll dan Bloom (1974 dalam Munandar, 2001) bahwa banyak peserta didik yang memiliki bakat, minat, kemampuan dan kecerdasan luar biasa, bahkan sebaliknya maka dalam mengelola kegiatan belajar-mengajar dapat diterapkan pelayanan individual dan pelayanan kelompok.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian layanan secara individual membawa implikasi dalam manajemen yakni penambahan tenaga, sarana dan dana. Oleh karena itu dilakukan gabungan antara layanan individual dan kelompok, dengan pengertian bahwa pada umumnya layanan pendidikan diberikan pada kelompok peserta didik yang memiliki kemampuan dalam matapelajaran yang sama. Meskipun kegiatan belajar-mengajar dilakukan secara kelompok, penilaian terhadap kemajuan hasil belajar merupakan penilaian kemampuan individu setiap peserta didik. Kecuali penilaian yang dirancang untuk mengetahui kemampuan dan kemajuan belajar/ hasil kerja kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran yang dilaksanakan saat ini mengacu pada prinsip-prinsip yang dikemukakan Bruner (Munandar, 2001) yaitu memberikan pengalaman khusus yang dapat dipahami peserta didik; pengajaran diberikan sesuai dengan struktur pengetahuan/keilmuan sehingga peserta didik lebih siap menyerapnya; susunan penyajian pengajaran yang lebih efektif dan dipertimbangkan ganjaran yang sesuai. Dalam pelaksanaan pembelajaran pada SKM/SSN tidak hanya ditekankan pada pencapaian aspek intelektual saja, melainkan dalam pembelajaran perlu diciptakan kegiatan dan suasana belajar yang memungkinkan berkembangnya semua dimensi dalam pendidikan, seperti: watak, kepribadian, intelektual, emosional dan sosial. Sehingga diharapkan tercapai kemajuan dan perkembangan yang seimbang antara semua dimensi tersebut.&lt;br /&gt;Strategi pembelajaran yang sesuai untuk mencapai dimensi di atas, adalah strategi pembelajaran yang terfokus pada belajar bagaimana seharusnya belajar (Zamroni, 2000). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi ini harus menekankan pada perkembangan kemampuan intelektual tinggi, memiliki kepekaan (sensitif) terhadap kemajuan belajar dari tingkat konseptual rendah ke tingkat intelektual tinggi. Untuk itu metode pembelajaran yang paling sesuai antara lain metode pembelajaran induktif, divergen dan berpikir evaluatif. Pembelajaran model hafalan pada pembelajaran program siswa yang memiliki kemampuan lebih sejauh mungkin dicegah dengan memberikan tekanan pada teknik yang berorientasi pada penemuan (discovery oriented) dan pendekatan induktif.&lt;br /&gt;Dari pemaparan di atas sesungguhnya pembelajaran yang terjadi merupakan impelemntasi dari model Dick dan Carey dimana peran guru atau tugas utama guru adalah sebagai perancang pembelajaran, dengan peranan tambahan sebagai pelaksana dan penilai kegiatan belajar mengajar (Riyanto, 2001). Dengan kata lain strategi belajar mengajar yang terapkan dalam mengajar pada SKM/SSN bukan hanya menekankan pada aspek intelektual saja melainkan pada juga pada proses kreatif dan berfikir tinggi dalam bentuk strategi belajar yang bervariasi yang harus diciptakan oleh guru secara kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arends (2001) seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran harus menampilkan tiga aspek penting. Ketiga aspek ini adalah: (1) kepemimpinan, (2) pemberian instruksi melalui tatap muka dengan peserta didik, (3) bekerja dengan peserta didik, kolega, dan orang tua. Untuk membangun kelas dan sekolah sebagai organisasi belajar, ketiga aspek tersebut harus terpadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada aspek kepemimpinan, banyak peran guru sama dengan peran pemimpin yang bekerja pada tipe organisasi lain. Pemimpin diharapkan mampu merencanakan, memotivasi, dan mengkoordinasi pekerjaan sehingga tiap individu dapat bekerja secara independen, dan membantu memformulasi serta menilai pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran guru harus merancang dan melakukan pekerjaan secara efisien, kreatif, tampil menarik dan berwibawa sebagai seorang aktor di depan kelas, serta hasilnya harus memenuhi standar kualitas.&lt;br /&gt;Pada aspek pemberian instruksi, guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas melalui tatap muka menyampaikan informasi dan mengarahkan apa yang harus dilakukan peserta didik. Pada apsek ini hal yang perlu diperhatikan adalah unsur konsentrasi atau perhatian peserta didik terhadap uraian materi yang disampaikan guru. Pada umumnya perhatian penuh peserta didik berlangsung pada 5 sampai 10 menit pertama, setelah itu perhatiannya akan turun. Untuk itu guru harus berusaha menjaga perhatian peserta didik, misalnya dengan memberi contoh penggunaan materi atau konsep yang diajarkan di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada aspek kerja sama, untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal guru harus melakukan kerjasama dengan peserta didik, kolega guru, dan orang tua. Masalah yang dihadapi guru dapat berupa masalah di kelas, atau masalah individu peserta didik. Masalah di kelas dapat didiskusikan dengan guru lain yang mengajar di kelas yang sama atau yang mengajar mata pelajaran sama di kelas lain. Masalah individu peserta didik dibicarakan dengan orang tua peserta didik. Dengan demikian semua masalah yang terjadi di kelas dapat diselesaikan.&lt;br /&gt;Pembelajaran pada dasarnya merupakan interaksi antara peserta didik dan sumber belajar. Pembelajaran di kelas terjadi karena ada interaksi antara peserta didik dengan guru. Guru tidak saja memberi instruksi, tetapi juga bertindak sebagai anggota organisasi belajar dan sebagai pemimpin pada lingkungan kerja yang komplek. Semua perilaku guru di dalam dan di luar kelas akan mempengaruhi keberhasilan kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu model tradisional yang berpusat pada guru dan model konstruktivis yang berpusat pada peserta didik (Arends, 2001). Model pembelajaran tradisonal terdiri atas ceramah atau presentasi, instruksi langsung, dan pengajaran konsep. Model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik atau konstruktivis terdiri atas belajar kooperatif, instruksi berbasis masalah, dan diskusi kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal utama yang perlu diperhatikan pada model pembelajaran sekolah mandiri, yaitu : (1) pembelajaran, dan (2) evaluasi. Peran utama guru di sekolah adalah melaksanakan pembelajaran. Pembelajaran merupakan kegiatan yang menggunakan teknik, metode, dan strategi yang sistematik untuk mengkreasi perpaduan yang ideal antara kurikulum dan peserta didik secara sistematik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik pembelajaran adalah bagian dari setiap metode, dan beberapa metode digabung menjadi strategi, yang merupakan kombinasi kemampuan dan keterampilan guru untuk menerapkan metode dan strategi pembelajaran. Teknik yang banyak digunakan antara lain : (1) menyampaikan informasi, (2) memotivasi, (3) memberi penguatan, (4) mendengarkan, (5) memberi dan menjawab pertanyaan, dan (6) pengelolaan.&lt;br /&gt;Strategi pembelajaran adalah kombinasi metode yang berurutan dan dirancang agar peserta didik mencapai standar kompetensi. Menururt Kindsvatter, Wilen, &amp; Ishler (1996:169) strategi formal yang dikembangkan berdasarkan penelitian pembelajaran yang efektif dan menekankan pada hasil belajar yang lebih tinggi adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pengajaran aktif : fokus akademik, pembelajaran diarahkan oleh guru dengan menggunakan bahan yang terstruktur dan berurutan.&lt;br /&gt;   2. Pembelajaran masteri: suatu pendekatan diagnostik individu pada pembelajaran di mana peserta didik melakukan pembelajaran dan diuji sesuai dengan kecepatannya untuk mencapai kompetensi.&lt;br /&gt;   3. Pembelajaran kooperatif : penggunaan tutor sebaya, pembelajaran grup, dan kerjasama untuk mendorong peserta didik belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran pada SKM/SSN menekankan pada potensi dan kebutuhan peserta didik agar mampu belajar mandiri yang dibangun melalui komunitas belajar di kelas. Strategi untuk memotivasi peserta didik membangun komunitas belajar tersebut meliputi : (1) meyakini potensi peserta didik, (2) membangun motivasi intrinsik, (3) menggunakan perasaan positif, (4) membangun minat belajar peserta didik, (5) membangun belajar yang menyenangkan, (6) memenuhi kebutuhan peserta didik, (7) mencapai tujuan pembelajaran, dan (8) memfasilitasi pengembangan kelompok.&lt;br /&gt;Secara ringkas prinsip pembelajaran pada SKM/SSN adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Berpusat pada peserta didik, yaitu bagaimana peserta didik belajar.&lt;br /&gt;   2. Menggunakan berbagai metode yang memudahkan peserta didik belajar.&lt;br /&gt;   3. Proses pembelajaran bersifat kontekstual.&lt;br /&gt;   4. Interaktif, inspiratif, menyenangkan, memotivasi, menantang dan dalam iklim yang kondusif.&lt;br /&gt;   5. Menekankan pada kemampuan dan kemauan bertanya dari peserta didik&lt;br /&gt;   6. Dilakukan melalui kelompok belajar dan tutor sebaya.&lt;br /&gt;   7. Mengalokasikan waktu sesuai dengan kemampuan belajar peserta didik&lt;br /&gt;   8. Melaksanakan program remedial dan pengayaan sesuai dengan hasil evaluasi formatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;Depdiknas.2008. Model Penyelenggaraan Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar Nasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Mengah Atas. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-7578393762890131490?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/7578393762890131490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/model-pembelajaran-sekolah-kategori.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7578393762890131490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7578393762890131490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/model-pembelajaran-sekolah-kategori.html' title='Model Pembelajaran Sekolah Kategori Mandiri/Sekolah Standar Nasional'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-8333711328235215414</id><published>2008-11-03T09:26:00.005+07:00</published><updated>2008-11-03T09:42:54.215+07:00</updated><title type='text'>Penilaian Psikomotor</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;A. Pengertian Psikomotor&lt;br /&gt;Hasil belajar peserta didik dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain secara eksplisit. Apapun mata pelajarannya selalu mengandung tiga ranah itu, namun penekanannya berbeda. Mata pelajaran yang menuntut kemampuan praktik lebih menitik beratkan pada ranah psikomotor sedangkan mata pelajaran yang menuntut kemampuan teori lebih menitik beratkan pada ranah kognitif, dan keduanya selalu mengandung ranah afektif.&lt;span id="fullpost"&gt; Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Berkaitan dengan psikomotor, Bloom (1979) berpendapat bahwa ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Singer (1972) menambahkan bahwa mata pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah mata pelajaran yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi–reaksi fisik dan keterampilan tangan. Keterampilan itu sendiri menunjukkan tingkat keahlian seseorang dalam suatu tugas atau sekumpulan tugas tertentu.&lt;br /&gt;Menurut Mardapi (2003), keterampilan psikomotor ada enam tahap, yaitu: gerakan refleks, gerakan dasar, kemampuan perseptual, gerakan fisik, gerakan terampil, dan komunikasi nondiskursif. Gerakan refleks adalah respons motorik atau gerak tanpa sadar yang muncul ketika bayi lahir. Gerakan dasar adalah gerakan yang mengarah pada keterampilan komplek yang khusus. Kemampuan perseptual adalah kombinasi kemampuan kognitif dan motorik atau gerak.  Kemampuan fisik adalah kemampuan untuk mengembangkan gerakan terampil.&lt;br /&gt;Gerakan terampil adalah gerakan yang memerlukan belajar, seperti keterampilan dalam olah raga. Komunikasi nondiskursif adalah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan gerakan. Buttler (1972) membagi hasil belajar psikomotor menjadi tiga, yaitu: specific&lt;br /&gt;responding, motor chaining, rule using. Pada tingkat specific responding peserta didik mampu merespons hal-hal yang sifatnya fisik, (yang dapat didengar, dilihat, atau diraba), atau melakukan keterampilan yang sifatnya tunggal, misalnya memegang raket, memegang bed untuk tenis meja. Pada motor chaining peserta didik sudah mampu menggabungkan lebih dari dua keterampilan dasar menjadi satu keterampilan gabungan, misalnya memukul bola, menggergaji, menggunakan jangka sorong, dll. Pada tingkat rule using peserta didik sudah dapat menggunakan pengalamannya untuk melakukan keterampilan yang komplek, misalnya bagaimana memukul bola secara tepat agar dengan tenaga yang sama hasilnya lebih baik.&lt;br /&gt;Dave (1967) dalam penjelasannya mengatakan bahwa hasil belajar psikomotor dapat dibedakan menjadi lima tahap, yaitu: imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi. Imitasi adalah kemampuan melakukan kegiatankegiatan sederhana dan sama persis dengan yang dilihat atau diperhatikan sebelumnya. Contohnya, seorang peserta didik dapat memukul bola dengan tepat karena pernah melihat atau memperhatikan hal yang sama sebelumnya. Manipulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan sederhana yang belum pernah dilihat tetapi berdasarkan pada pedoman atau petunjuk saja. Sebagai contoh, seorang peserta didik dapat memukul bola dengan tepat hanya berdasarkan pada petunjuk guru atau teori yang dibacanya. Kemampuan tingkat presisi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan yang akurat sehingga mampu menghasilkan produk kerja yang tepat. Contoh, peserta didik dapat mengarahkan bola yang dipukulnya sesuai dengan target yang diinginkan. Kemampuan pada tingkat artikulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan yang komplek dan tepat sehingga hasil kerjanya merupakan sesuatu yang utuh. Sebagai contoh, peserta didik dapat mengejar bola kemudian memukulnya dengan cermat sehingga arah bola sesuai dengan target yang diinginkan. Dalam hal ini, peserta didik sudah dapat melakukan tiga kegiatan yang tepat, yaitu lari dengan arah dan kecepatan tepat serta memukul bola dengan arah yang tepat pula. Kemampuan pada tingkat naturalisasi adalah kemampuan melakukan kegiatan secara reflek, yakni kegiatan yang melibatkan fisik saja sehingga efektivitas kerja tinggi. Sebagai contoh tanpa berpikir panjang peserta didik dapat mengejar bola kemudian memukulnya dengan cermat sehingga arah bola sesuai dengan target yang diinginkan. Untuk jenjang Pendidikan SMA, mata pelajaran yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, seni budaya, fisika, kimia, biologi, dan keterampilan. Dengan kata lain, kegiatan belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik di aula/lapangan dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu juga ada ranah kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit bila dibandingkan dengan ranah psikomotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembelajaran Psikomotor&lt;br /&gt;Menurut Ebel (1972), ada kaitan erat antara tujuan yang akan dicapai, metode pembelajaran, dan evaluasi yang akan dilaksanakan. Oleh karena ada perbedaan titik berat tujuan pembelajaran psikomotor dan kognitif maka strategi pembelajarannya juga berbeda. Menurut Mills (1977), pembelajaran keterampilan akan efektif bila dilakukan dengan menggunakan prinsip belajar sambil mengerjakan (learning by doing). Leighbody (1968) menjelaskan bahwa keterampilan yang dilatih melalui praktik secara berulang-ulang akan menjadi kebiasaan atau otomatis dilakukan. Sementara itu Goetz (1981) dalam penelitiannya melaporkan bahwa latihan yang dilakukan berulang-ulang akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada pemahiran keterampilan. Lebih lanjut dalam penelitian itu dilaporkan bahwa pengulangan saja tidak cukup menghasilkan prestasi belajar yang tinggi, namun diperlukan umpan balik yang relevan yang berfungsi untuk memantapkan kebiasaan. Sekali berkembang maka kebiasaan itu tidak pernah mati atau hilang. Sementara itu, Gagne (1977) berpendapat bahwa kondisi yang dapat mengoptimalkan hasil belajar keterampilan ada dua macam, yaitu kondisi internal dan eksternal. Untuk kondisi internal dapat dilakukan dengan cara (a) mengingatkan kembali bagian dari keterampilan yang sudah dipelajari, dan (b) mengingatkan prosedur atau langkah-langkah gerakan yang telah dikuasai. Sementara itu untuk kondisi eksternal dapat dilakukan dengan (a) instruksi verbal, (b) gambar, (c) demonstrasi, (d) praktik, dan (e) umpan balik. Dalam melatihkan kemampuan psikomotor atau keterampilan gerak ada beberapa langkah yang harus dilakukan agar pembelajaran mampu membuahkan hasil yang optimal. Mills (1977) menjelaskan bahwa langkah-langkah dalam mengajar praktik adalah (a) menentukan tujuan dalam bentuk perbuatan, (b) menganalisis keterampilan secara rinci dan berutan, (c) mendemonstrasikan keterampilan disertai dengan penjelasan singkat dengan memberikan perhatian pada butir-butir kunci termasuk kompetensi kunci yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan dan bagian-bagian yang sukar, (d) memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba melakukan praktik dengan pengawasan dan bimbingan, (e)&lt;br /&gt;memberikan penilaian terhadap usaha peserta didik. Edwardes (1981) menjelaskan bahwa proses pembelajaran praktik mencakup tiga tahap, yaitu (a) penyajian dari pendidik, (b) kegiatan praktik peserta didik, dan (c) penilaian hasil kerja peserta didik. Guru harus menjelaskan kepada peserta didik kompetensi kunci yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas tertentu. Kompetensi kunci adalah kemampuan utama yang harus dimiliki seseorang agar tugas atau pekerjaan dapat diselesaikan dengan cara benar dan hasilnya optimal. Sebagai contoh, dalam memukul bola, kompetensi kuncinya adalah kemampuan peserta didik menempatkan bola pada titik ayun. Dengan cara ini, tenaga yang dikeluarkan hanya sedikit namun hasilnya optimal. Contoh lain, dalam mengendorkan mur dari bautnya, kompetensi kuncinya adalah kemampuan peserta didik memegang kunci pas secara tepat yakni di ujung kunci. Dengan cara ini tenaga yang dikeluarkan untuk mengendorkan mur jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan pengendoran mur dengan cara memegang kunci pas yang tidak tepat. Dalam proses pembelajaran keterampilan, keselamatan kerja tidak boleh dikesampingkan, baik bagi peserta didik, bahan, maupun alat. Leighbody (1968) menjelaskan bahwa keselamatan kerja tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran psikomotor. Guru harus menjelaskan keselamatan kerja kepada peserta didik dengan sejelas-jelasnya. Oleh karena kompetensi kunci dan keselamatan kerja merupakan dua hal penting dalam pembelajaran keterampilan, maka dalam penilaian kedua hal itu harus mendapatkan porsi yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penilaian Hasil Belajar Psikomotor&lt;br /&gt;Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.&lt;br /&gt;(sumber : http://akhmadsudrajat.wordpress.com)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-8333711328235215414?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/8333711328235215414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/penilaian-psikomotor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8333711328235215414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8333711328235215414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/penilaian-psikomotor.html' title='Penilaian Psikomotor'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-5708808223719069319</id><published>2008-11-03T09:06:00.003+07:00</published><updated>2008-11-03T09:11:23.088+07:00</updated><title type='text'>Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;oleh: Akhmad Sudrajat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.&lt;br /&gt; 2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.&lt;br /&gt; 3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.&lt;br /&gt; 4. Mempertimbangk&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;an dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.&lt;br /&gt; 2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.&lt;br /&gt; 3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.&lt;br /&gt; 4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;n yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan prak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;tis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, dia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ntaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berb&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;eda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia mem&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;iliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran mer&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;upakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strateg&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;i pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_VbKws_J_yxo/SQ5dbyQFJbI/AAAAAAAAANM/7AH1rdDlfMU/s1600-h/model-pembelajaran1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 274px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_VbKws_J_yxo/SQ5dbyQFJbI/AAAAAAAAANM/7AH1rdDlfMU/s320/model-pembelajaran1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264247746369758642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Di luar istilah-i&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;st&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah mo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;dern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;iannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;n tipe rumah yang akan dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat i&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ni banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang kh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;as, sesuai dengan kondisi nyata d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;i tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(http://smacepiring.wordpress.com/ - http://akhmadsudrajat.wordpress.com/)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-5708808223719069319?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/5708808223719069319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/pengertian-pendekatan-strategi-metode.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/5708808223719069319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/5708808223719069319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/pengertian-pendekatan-strategi-metode.html' title='Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VbKws_J_yxo/SQ5dbyQFJbI/AAAAAAAAANM/7AH1rdDlfMU/s72-c/model-pembelajaran1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-4034172599042890465</id><published>2008-11-03T08:44:00.003+07:00</published><updated>2008-11-03T08:55:57.247+07:00</updated><title type='text'>Sumber Belajar untuk Mengefektifkan Pembelajaran Siswa</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;A. Apa sumber belajar itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Apa fungsi sumber belajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber belajar memiliki fungsi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;(b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.&lt;br /&gt;2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.&lt;br /&gt;4. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.&lt;br /&gt;5. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.&lt;br /&gt;6. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi-fungsi di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Ada berapa jenis sumber belajar?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Secara garis besarnya, terdapat dua jenis sumber belajar yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.&lt;br /&gt;2. Sumber belajar yang dimanfaatkan(learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua macam sumber belajar, sumber-sumber belajar dapat berbentuk: (1) pesan: informasi, bahan ajar; cerita rakyat, dongeng, hikayat, dan sebagainya (2) orang: guru, instruktur, siswa, ahli, nara sumber, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga, tokoh karier dan sebagainya; (3) bahan: buku, transparansi, film, slides, gambar, grafik yang dirancang untuk pembelajaran, relief, candi, arca, komik, dan sebagainya; (4) alat/ perlengkapan: perangkat keras, komputer, radio, televisi, VCD/DVD, kamera, papan t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ulis, generator, mesin, mobil, motor, alat listrik, obeng dan sebagainya; (5) pendekatan/ metode/ teknik: disikusi, seminar, pemecahan masalah, simulasi, permainan, sarasehan, percakapan biasa, diskusi, debat, talk shaw dan sejenisnya; dan (6) lingkungan: ruang kelas, studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum, kantor dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Apa kriteria memilih sumber belajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memilih sumber belajar harus memperhatikan kriteria sebagai berikut: (1) ekonomis: tidak harus terpatok pada harga yang mahal; (2) praktis: tidak memerlukan pengelolaan yang rumit, sulit dan langka; (3) mudah: dekat dan tersedia di sekitar lingkungan kita; (4) fleksibel: dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan; (5) sesuai dengan tujuan: mendukung proses dan pencapaian tujuan belajar, dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Bagaimana memanfa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;atkan lingkungan sebagai sumber belajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1) lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memlihara dan melestarikan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa peserta didik ke lingkungan, seperti&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; survey, karyawisata, berkemah, praktek lapangan dan sebagainya. Bahkan belakangan ini berkembang kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond, yang pada dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa lingkungan ke dalam kelas, seperti : menghadirkan nara sumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berjalan efektif, maka perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Bagaimana prosedur merancang sumber belajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara skematik, prosedur merancang sumber belajar dapat mengikuti alur sebagai berik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_VbKws_J_yxo/SQ5ZJ6pUBQI/AAAAAAAAANE/5xCm-vnKF14/s1600-h/sumber-belajar11.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 286px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_VbKws_J_yxo/SQ5ZJ6pUBQI/AAAAAAAAANE/5xCm-vnKF14/s320/sumber-belajar11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264243041338918146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Bagaimana mengoptimalkan sumber belajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang beranggapan bahwa untuk menyediakan sumber belajar menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya, yang kadang-kadang ujung-ujungnya akan membebani orang tua siswa untuk mengeluarkan dana pendidikan yang lebih besar lagi. Padahal dengan berbekal kreativitas, guru dapat membuat dan menyediakan sumber belajar yang sederhana dan murah. Misalkan, bagaimana guru dan siswa dapat memanfaatkan bahan bekas. Bahan bekas, yang banyak berserakan di sekolah dan rumah, seperti kertas, mainan, kotak pembungkus, bekas kemasan sering luput dari perhatian kita. Dengan sentuhan kreativitas, bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi sumber belajar yang sangat berharga. Demikian pula, dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar tidak perlu harus pergi jauh dengan biaya yang mahal, lingkungan yang berdekatan dengan sekolah dan rumah pun dapat dioptimalkan menjadi sumber belajar yang sangat bernilai bagi kepentingan belajar siswa. Tidak sedikit sekolah-sekolah di kita yang memiliki halaman atau pekarangan yang cukup luas, namun keberadaannya seringkali ditelantarkan dan tidak terurus. Jika saja lahan-lahan tersebut dioptimalkan tidak mustahil akan menjadi sumber belajar yang sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini di sekolah-sekolah tertentu mulai dikembangkan bentuk pembelajaran dengan menggunakan internet, sehingga siswa “dipaksa” untuk menyewa internet –yang memang ukuran Indonesia pada umumnya-, masih dianggap relatif mahal. Kenapa tidak disediakan dan dikelola saja oleh masing-masing sekolah? Mungkin dengan cara difasilitasi oleh sekolah hasilnya akan jauh lebih efektif dan efisien, dibandingkan harus melalui rental ke WarNet. Bukankah sekarang ini sudah tersedia paket-paket hemat untuk berinternet yang disediakan para provider?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adaptasi dari : Depdiknas. 2004. Pedoman Merancang Sumber Belajar. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-4034172599042890465?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/4034172599042890465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/sumber-belajar-untuk-mengefektifkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/4034172599042890465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/4034172599042890465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/sumber-belajar-untuk-mengefektifkan.html' title='Sumber Belajar untuk Mengefektifkan Pembelajaran Siswa'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_VbKws_J_yxo/SQ5ZJ6pUBQI/AAAAAAAAANE/5xCm-vnKF14/s72-c/sumber-belajar11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-50816980693098636</id><published>2008-11-03T08:21:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T08:22:19.586+07:00</updated><title type='text'>Bedah kurikulum dalam KTSP</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Kata banyak pendidik, sekarang ini jamannya KTSP. Sebuah singkatan yang pasti anda tahu artinya. Dengan segenap prasangka baik saya yakin KTSP dibuat untuk menolong guru, bukan malah mempersulit. Jika yang terjadi di lapangan banyak guru merasa kesulitan dalam menerapkan, mungkin yang harus ditambah adalah semangat guru untuk bereksplorasi dan mencari metode pembelajaran yang baru dan menantang sebagai pelengkap.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya KTSP sebenarnya guru dan semua elemen sekolah kembali belajar dan memaknai perencanaan pengajaran sebagai cara untuk lebih baik dalam membelajarkan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari menjadikan KTSP sebagai pengiring bagi guru dalam menjalani manajemen berbasis Sekolah yang berlandaskan pada otonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sepantasnyalah semua pihak dalam hal ini, pengawas, kepala Sekolah dan guru menjadikan RPP dan silabus dalam KTSP sebagai working document.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Working document berarti sebuah dokumen kerja yang terus menerus berkembang dan dikembangkan. Tidak ada kata ‘salah’ saat mengembangkan sebuah dokumen kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat bereksplorasi dan terus kembali pada panduan yang sudah ada dan disediakan harus terus dipupuk jika tidak ingin KTSP bernasib sama dengan kerangka kerja kurikulum sebelumnya. Untuk itu langkah yang sekolah bisa lakukan untuk membuat KTSP menjadi perangkat yang setia dalam merancanakan pembelajaran antara lain dengan melakukan bedah kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses ini guru akan mengumpulkan dan mendokumentasikan data yang ada dalam kurikulum. Secara bersama-sama guru mengidentifikasi keterampilan dan isi materi yang diajarkan serta penilaian yang digunakan per mata pelajaran dan tingkatan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian guru mempunyai catatan mengenai apa yang sudah dan belum diajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegiatan bedah kurikulum langkah-langkah yang perlu dilakukan antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengumpulkan data semua kurikulum KBK dan KTSP yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Semua guru melakukan review terhadap kurikulum (masing-masing melihat kompetensi dasar dan standar kompetensi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bergabung dalam grup dengan jumlah yang disesuaikan, kemudian berbagi hasil temuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setiap grup membandingkan apa yang sudah ditemukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bersama-sama mengidentifikasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Pemahaman Bermakna (enduring understanding)&lt;br /&gt;    * Pertanyaan Inti (essential question)&lt;br /&gt;    * Penilaian yang utama dan alternative penilaian&lt;br /&gt;    * Kegiatan Belajar Mengajar seperti apa yang bisa dilakukan&lt;br /&gt;    * Metode pembelajaran apa yang cocok&lt;br /&gt;    * Keterampilan serta pengetahuan apa yang harus dikuasai&lt;br /&gt;    * Identifikasi tema-tema besar yang diperlukan dalam perencanaan pembelajaran setahun ajaran&lt;br /&gt;    * Menentukan tema yang mungkin diambil (kriteria: menarik, relevan, menantang, signifikan)&lt;br /&gt;    * Tema dapat diambil dari salah satu/lebih dari satu bidang studi&lt;br /&gt;    * Susun dan kelompokkan materi pembelajaran&lt;br /&gt;    * Sesuaikan dengan kalender akademik&lt;br /&gt;    * Tentukan waktu yang dibutuhkan dalam setiap tema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat yang bisa dipetik dari kegiatan bedah kurikulum ini adalah kegiatan belajar mengajar menjadi lebih terstruktur, secara bersama-sama guru bisa mengidentifikasi hal-hal yang tidak perlu atau sudah ketinggalan jaman dalam membelajarkan siswa, memungkinkan integrasi antar bidang kurikulum. Selain itu program ini bisa membuat rencana penilaian siswa menjadi lebih mudah, saat guru merencanakan pembelajaran dengan gampang guru bisa mengetahui pengetahuan apa saja yang sudah atau belum dikuasai siswa. (ingat metode KWL)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menjadi perhatian adalah saat melaksanakan kurikulum melalui RPP jangan lupakan bahwa kegiatan pembelajaran harus bersandar pada prinsip ‘PAIKEM’ yaitu, pembelajaran aktif inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted by agusampurno (sumber : http://gurukreatif.wordpress.com)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-50816980693098636?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/50816980693098636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/bedah-kurikulum-dalam-ktsp.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/50816980693098636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/50816980693098636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/bedah-kurikulum-dalam-ktsp.html' title='Bedah kurikulum dalam KTSP'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-8178484570953333572</id><published>2008-11-03T08:16:00.001+07:00</published><updated>2008-11-03T08:19:10.129+07:00</updated><title type='text'>Membekali siswa menghadapi masa depan dengan pembelajaran berbasis proyek</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Coba anda lihat definisi sebuah metode pembelajaran dibawah ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek perseorangan atau grup, dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk atau sebuah aksi, yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan. Saat pengerjaan kelas menggunakan berbagai macam bahan-bahan, dengan pendekatan belajar aktif atau berpusat pada siswa . Menggunakan: pendekatan kontruktivis, problem solving, inquiry, riset, pembelajaran terpadu, pengetahuan dan ketrampilan, evaluasi, refleksi, dan lain-lain&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran apakah itu? Yang pasti berat sekali jika sebagai guru kita harus merencanakan pembelajaran model seperti itu. Apalagi jika kita berpikir soal penghasilan yang didapat, serta beban pekerjaan lainnya. Sepertinya akan jauh dari menantang jika kita menerapkan model pembelajaran seperti itu, yang ada hanyalah beban pekerjaan yang makin menggunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi nanti dulu, apakah anda sering melihat dan memperhatikan lowongan di surat kabar? Ini saya cuplikan beberapa kriterianya  hanya untuk anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Dapat menghandle sales team activity, administrasi sales, dan Sales planning&lt;br /&gt;    * Mempunyai daya analisa yang baik.&lt;br /&gt;    * Terbiasa bekerja dengan target.&lt;br /&gt;    * Experience in handling high recruitment volume.&lt;br /&gt;    * With tight deadline is highly preferred.&lt;br /&gt;    * Able to work hard independently and able to Work within a team.&lt;br /&gt;    * Computer literate especially Microsoft Officer.&lt;br /&gt;    * SAP experience as a high advantage.&lt;br /&gt;    * Strong in development and management skills.&lt;br /&gt;    * Strong in analysis, problem salving and Interpersonal skills.&lt;br /&gt;    * Strong in communications skills, English is a Must &amp; other language (s) is preferred.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak memilih-milih jenis lowongan, yang saya lakukan hanyalah mengambil secara acak beberapa lowongan yang terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila anda analisa dan hubungkan antara gaya mengajar anda sekarang dengan syarat lowongan pekerjaan yang ada diata s? Apakah kira-kira hal-hal diatas sudah anda persiapkan kepada siswa anda. Sebenarnya apa yang kita harapkan sebagai guru dari siswa kita saat  proses belajar  mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pertanyaan ini ditanyakan pada seorang guru ada banyak sekali macam jawaban yang akan timbul. Misalnya agar siswa menguasai bahan ajar dan kurikulum yang diajarkan dan seterusnya. Bagaimana dengan tantangan yang siswa kita hadapi saat mereka besar nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan masa kini yang kita lihat dari tulisan lowongan yang saya cuplikan untuk anda diatas, saya yakin tidak akan bisa dipenuhi oleh pembelajaran yang mengandalkan ceramah guru serta buku teks sebagai satu-satunya pegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan yang siswa kita hadapi begitu kompleksnya sampai kita membutuhkan sebuah metode pembelajaran yang membuat mereka senang belajar sambil membentuk sikap mereka untuk dapat menghadapi masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu metode pembelajaran yang dianggap bisa membekali mereka di masa depan adalah pembelajaran berbasis proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe pembelajaran seperti ini masih dianggap yang paling sesuai demi memenuhi tantangan jaman dikarenakan tipe pembelajaran ini mengembangkan sikap:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berpikir kritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melakukan kerja sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengatur waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bertanggung jawab terhadap proses embelajarannya sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Penggunaan teknologi dengan tepat guna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Bekerja dalam kerangka multi disiplin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Berpikir kreatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pemecahan masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Kepemimpinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Tanggung jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Etika dalam dunia kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Pengambilan keputusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Melakukan riset&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sumber : Posted by agusampurno http://gurukreatif.wordpress.com)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-8178484570953333572?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/8178484570953333572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/membekali-siswa-kita-menghadapi-masa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8178484570953333572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8178484570953333572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/membekali-siswa-kita-menghadapi-masa.html' title='Membekali siswa menghadapi masa depan dengan pembelajaran berbasis proyek'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-3863047629253863248</id><published>2008-11-03T08:14:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T08:15:32.602+07:00</updated><title type='text'>7 ciri guru yang (mungkin) siswa sukai</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Pada beberapa tahun karir saya sebagai pengajar, sekolah tempat saya mengajar mendatangkan seorang ahli pendidikan yang bukan hanya ahli dalam jargon dan paradigma, tetapi juga seorang guru yang mengajar dikelas. Orang tersebut adalah Tony Ryan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari presentasi beliau saya mendapat beberapa ciri guru yang mungkin akan disukai siswa. Seperti halnya manusia lainnya, siswa juga punya pendapat pribadi mengenai tipe guru yang disukainya. 7 tipe dibawah ini mungkin membantu anda untuk lebih memahami siswa anda dikelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menghormati siswa dan tidak membuat mereka runtuh mentalnya dengan perkataan yang negatif dan memojokkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Tentunya anda punya hak perogratif sebagai guru, namun melibatkan mereka boleh juga sebagai cara untuk membagi kewenangan dan mempermudah tugas anda dalam mengendalikan mereka dikelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mendengarkan mereka saat mereka berbicara pada anda. Tidak berteriak marah jika mereka berbuat sesuatu yang mungkin menurut anda adalah sebuah kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Adil, mudah diajak berkomunikasi, selalu ada saat mereka membutuhkan, selalu mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Saat mengajar tidak tegang, dan melakukan pembelajaran yang menyenangkan dengan berbagai macam cara dan metode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jelas, saat menerangkan sesuatu dikelas kepada mereka, artinya memang tidak mudah berbicara dalam bahasa mereka. Namun ketahuilah lebih berat untuk mereka untuk memahami anda dibandingkan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Jangan menyerah terhadap mereka. Ada banyak film yang menjelaska menganai hal ini salah satunya film Dangerous Minds. Mudah-mudahan anda pernah menontonnya.&lt;br /&gt;Posted by agusampurno&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-3863047629253863248?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/3863047629253863248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/7-ciri-guru-yang-mungkin-siswa-sukai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3863047629253863248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3863047629253863248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/7-ciri-guru-yang-mungkin-siswa-sukai.html' title='7 ciri guru yang (mungkin) siswa sukai'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-7844220845556804532</id><published>2008-11-03T08:08:00.000+07:00</published><updated>2008-11-03T08:12:24.528+07:00</updated><title type='text'>11 tips meredakan ribut, gaduh atau bising dikelas</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Kelas yang ribut bukan berarti tidak teratur, metode belajar aktif terkadang juga membuat kelas menjadi gaduh. Namun tingkat kebisingan di kelas baik bisa dengan cepat disesuaikan dengan kebutuhan guru dan siswa. Berikut ini beberapa tips yang berguna untuk meredakan suasana ribut di kelas anda. Apabila anda ingin menggunakan strategi dibawah ini lakukanlah dulu kesepakatan dengan siswa anda dikelas.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Sudahkan anda mempunyai standar kebisingan dikelas anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Ajarkan lah siswa untuk bersuara “indoor” dan “outdoor”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Ide dari saya buatlah replika skala seperti thermometer dari kertas yang berisi skala keributan dikelas. Tempel didepan kelas lalu turunkan sesuai kehendak anda saat siswa anda minta diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Hindari mengetuk-ngetuk papan tulis atau white board saat mendiamkan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Gunakan strategi ini, angkat tangan anda sambil bersikap diam. Mintalah siswa melakukan hal yang sama. Saya jamin kelas anda akan tenang, lakukan berulang bila anda ingin siswa anda diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Hindari berteriak untuk mendiamkan siswa. Teriakan anda hanya akan menambah kebisingan yang sudah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Jangan menggunakan suara “sssssssshhhhhhhhhh….!” Saat mendiamkan siswa. Alas annya sama dengan point no 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Lakukan permainan tepuk, biarkan mereka mengikuti irama tepuk anda. Perhatian mereka akan beralih dan mengikuti tepuk anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Lakukan permainan Hai atau Halo, saat kelas anda ribut sapalah mereka “hai…!” ajarkan mereka untuk menjawab “Halo ..”. Dengan demikian perhatian mereka akan tertuju pada anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Ucapkan kata ‘terima kasih ‘ pada siswa yang sudah siap mendengarkan anda. Misalnya ” terima kasih Kevin, terima kasih Adam… dst&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.Berjalanlah saat  di dalam kelas dan berinteraksi lah dengan semua siswa. (sumber:http://gurukreatif.wordpress.com/)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-7844220845556804532?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/7844220845556804532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/11-tips-meredakan-ribut-gaduh-atau.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7844220845556804532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/7844220845556804532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/11-tips-meredakan-ribut-gaduh-atau.html' title='11 tips meredakan ribut, gaduh atau bising dikelas'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-6392051977386168351</id><published>2008-11-03T08:03:00.002+07:00</published><updated>2008-11-03T08:07:45.317+07:00</updated><title type='text'>Metode Tanya Jawab dalam Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam penggunaan metode mengajar di dalam kelas, tidak hanya Guru saja yang senantiasa berbicara seperti halnya dengan metode ceramah. melainkan mencakup pertanyaan pertanyaan dan penyumbang ide-ide dari pihak siswa. Cara mengajar yang serupa ini dapat dibedakan dalam dua jenis ialah :&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;metode tanya jawab dan metode diskusi Perbedaan pokok antara kedua metode itu terletak dalam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Corak pertanvaan yang diajukan oleh Guru.&lt;br /&gt;Pada hakikatnya metode tanya-jawab berusaha menanyakan apakah murid telah mengtahui fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan. Dalam hal lain siswa juga bermaksud ingin mengetahui tingkat-tingkat proses pemikiran murid. Melalui metode tanya-jawab Guru ingin mencari jawaban yang tepat dan faktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Sifat pengambilan bagian yang diharapkan dari pihak siswa&lt;br /&gt;Sebaliknya dengan metode diskusi, Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang agak berlainan sifatnya. Di sini Guru merangsang siswa menggunakan fakta-fakta yang dipelajari untuk memecahkan suatu persoalan. Pertanyaan seperti ini biasanya tidak mempunyai jawaban yang tepat dan tunggal, melainkan lebih dari sebuah jawaban. Dari penjelasan tersebut kita ketahui bahwa metode, tanya-jawab mempunyai wilayah yang saling mencakup dengan metode diskusi, sehingga kadang-kadang sukar dibedakan, apakah yang sedang dipakai oleh Guru dalam suatu kelas. Tetapi lepas dari kenyataan bahwa kedua metode ini sering sukar dibedakan, akan tetapi tujuan dan teknik masing-masing cukup mempunyai perbedaan yang besar sehingga dalam uraian ini seyogyanya dibedakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan Metode Tanya Jawab&lt;br /&gt;Untuk memberikan gambaran tentang wajar atau tidaknya penggunaan metode tanya-jawab, berikut ini akan disajikan suatu kejadian dalam kelas. Dalam tiap kejadian akan diikuti dengan analisis mengenai aspek pokok pelajaran itu dan sejauh manakah kewajaran penggunaan metode tanya-jawab.&lt;br /&gt;Ilustrasi penggunaan metode tanya jawab di kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Melanjutkan pelajaran yang lalu&lt;br /&gt;Di suatu kelas SMP Guru akan mengajarkan pokok bahasan “puisi baru”, dengan bertanya : “Bentuk-bentuk puisi lama, dalam sastra melayu, telah kita kenal. Tiap-tiap macam memiliki ciri yang berbeda, yang merupakan ikatan. Oleh karena itulah tiap bentuk mempunyai nama sendiri. Coba sekarang kita tulis di papan tulis apa yang kemarin telah kita pelajari.&lt;br /&gt;Guru : ”Apa sajakah nama-nama puisi lama itu?”&lt;br /&gt;Siswa : “pantun”&lt;br /&gt;Guru : “Baik, coba sebutkan yang lain, Wati!”&lt;br /&gt;Siswa : “talibun, karmina””&lt;br /&gt;Guru : “Betulkah anak-anak?”&lt;br /&gt;Siswa : “Betul, tetapi masih ada lagi, syair”&lt;br /&gt;Guru : “Bagus, hari ini akan ibu lanjutkan dengan lahirnya puisi baru”.&lt;br /&gt;Apakah ini penggunaan metode tanya-jawab yang baik ? Di sini Guru menggunakan teknik tersebut untuk meninjau secara singkat pelajaran yang lalu dengan tujuan memusatkan lagi perhatian siswa-tentang sejumlah kemajuan yang telah dicapai pada hari-hari yang lalu, dengan demikian ia dapat melanjutkan pelajaran berikutnya. Guru sendiri sebetulnya dapat juga mencantumkan ikhtisar pelajaran yang lampau di papan tulis, tetapi ia nierasa bahwa perhatian siswa dapat dipusatkan lebih baik bila mereka sendiri harus mengingat rentetan peristiwa. Kalau murid ikut serta, Guru akan mengetahui sejauh mana siswa telah menangkap pembicaraannya. Karena itulah penggunaan metode tanya jawab di sini adalah wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa&lt;br /&gt;Di salah saru kelas SMP, di tengah-tengah pelajaran, Guru menghentikan pembicaraannya mengenai riwayat hidup Chairil Anwar kemudian bertanya kepasa para pelajar : “Riwayat hidup dan perjuangan Chairil Anwar baru saja kita dengar; siapa yang dapat menyebutkan beberapa hasil karyanya?”&lt;br /&gt;Budi : “Aku”&lt;br /&gt;Amat : “Beta Pattirajawane”&lt;br /&gt;Guru : “Ya, tentang apa sajak “Aku” itu? Bagaimana masalahnya? -&lt;br /&gt;Di sini Guru telah mengajukan pertanyaan tentang fakta untuk menyelingi teknik berbicara yang dipakainya dan untuk mengikutsertakan para siswa. Guru sebenarnya dapat menyebut nama-nama sajak itu^ tetapi ia berpendirian bahwa jika siswa mengetahui jawabannya, akan lebih berarti, Sumbangan pikiran merupakan penggunaan tanya-jawab yang wajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memimpin pengamatan atau pemikiran siswa&lt;br /&gt;Pada suatu poko bahasan “lahirnya sastra baru” Guru ingin agar tidak hanya ia sendiri yang bercerita melainkan ingin memimpin pemikiran siswa, maka dimulailah dengan mengemukakan pertanyaan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Guru : “Ada pendapat bahwa sastra baru ada setelah bahasa Indonesia lahir. Kalau demikian, kira-kira kapan titik mula sastra baru itu ?”&lt;br /&gt;Ali : “Bahasa Indonesia dicanangkan sebagai bahasa kesatuan pada saat Sumpah Pemuda, dengan demikian sastra baru itu lahir pada tahun 1928″.&lt;br /&gt;Guru : “Baik kira-kira sekitar tahun itu”. Tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa kesadaran kebangsaan yang menjadi perbedaan hakiki kesusastraan Melayu dengarikesusastraan Indonesia. Lalu bagaimana kesusatraan Melayu pada saat itu ?”&lt;br /&gt;Amien : “Kalau demikian sebelum adanya kesadarari kebangsaan, kesusastraan Melayu sama halnya dengan kesustraan daerah lainnya seperti kesusastraan Jawa, Sunda, Bali dan lain sebagainya “.&lt;br /&gt;Guru : “Betul, begitulah keadaan saat itu”. “Kalau dihubungkan dengan kesadaran kebangsaan atau nasionalisme, kira-kira tahun berapa mulai ?”&lt;br /&gt;Anna : “Bukankah nasionalisme itu mulai ada pada tahun 1920,1921, atau 1922″.&lt;br /&gt;Guru : “Baik, tetapi mengapa kamu sebutkan tahun itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anna : “Karena saat itu sudah ada puisi yang benema cinta lanah air seperti karya Muhammad Yamin. Sanusi Pane “.&lt;br /&gt;Dengan seterusnya hingga anak-anak tidak mendengarkan saja cerita Guru melainkan dipimpin untuk berpartisipasi. Di sini Guru menygunakan metode tanya-jawab dengan efektif. Suatu poko bahasan yang ada sangkut pautnya dengan sejarah (yang sudah dipelajari anak) dipakai sebagai acuan untuk membawa pemikiran anak pada lahirhya sastra baru. Penggunaan metode tanya-jawab ini wajar. Sebaliknya, marilah kita ikuti kejadian berikut ini:&lt;br /&gt;Menilai kemajauan siswa Di suatu pelajaran bahasa Indonesia di SMP, Guru berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat sekarang, apakah pelajaran kemarin telah kamu pelajari sebaik-baik&lt;br /&gt;Guru : “Sistem bunyi dalam bahasa Indonesia hanya mengenal tiga buah diftong, coba sebutkan Ani !”&lt;br /&gt;Ani : “ai,audanoi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru : “Baik, coba Badri beri contoh untuk “ai”&lt;br /&gt;Badri : “Pandai”&lt;br /&gt;Guru : “Betul, kalau contoh “oi” siapa dapat ?”&lt;br /&gt;Amir : “Amboi”&lt;br /&gt;Guru : “Baik, baik. Kamu semua sudah mengerti pelajaran kemarin. Hari ini kita akan belajar huruf rangkap”.&lt;br /&gt;Apakah penggunaan metode di sini wajar 7 Dalam hal ini Guru menggunakan metode tanya-jawab untuk mengukur sejauh mana penguasan siswa. Kelas yang mengikuti pelajaran berjumlah 40 orang, sedangkan yang ditanya hanya 3 orang yang kebetulan dap?.! menjawab dengan betul, maka seluruh kelas dianggap sudah menguasai pelajaran itu. Bagaimana dengan 37 orang lainnya ? Dalam hal ini akan lebih tepat bila Guru memberikan pertanyaan tertulis untuk mengetahui penguasaan tiap siswa. Oleh karena itu penggunaan metode tanya-jawab di sini tidak wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari jawaban dari siswa, tetapi membatasi jawaban yang dapat diterima&lt;br /&gt;Guru menanyakan pada kelas, mengapa Siti Nurbaya menyerah saja ketika dipaksa untuk menjadi istri Datuk Maringgih? Ada dua sebab, siapa dapat menyebutkan satu diantaranya?&lt;br /&gt;Marwan : “Karena kaum wanita pada saat itu masih sangat patuh kepada segala perintah orang tua”.&lt;br /&gt;Sarpin : “Kalau menurut pendapat saya, bukan karena patuh, tetapi takut pada orang yang; lebih berkuasa, dalam hal ini Datuk Maringgih”.&lt;br /&gt;Guru : “Bukan, bukan itu ! Mari kita berpikir, apa sebab yang lain ?”&lt;br /&gt;Tatik : “Kaum saya pada zaman itu belum berani kawin lari”.&lt;br /&gt;Guru : “Bukan, bukan. Itupun bukan yang saya pikirkan. Ayo siapa bisa”?&lt;br /&gt;Dalam hal ini sebenarnya anak-anak dapat bebas mengemukakan pendapat yang logis, namun sejak dari rumah, Guru sudah berpikir hanya ada 3 jawaban yang ada pada benak Guru. Oleh karena itu ia menutup kemungkinan jawaban lain dari siswanya, walaupun jawaban mereka cukup rasional&lt;br /&gt;Dengan membatasi jawaban-jawaban yang dapat diterima kebenarannya, siswa menghadapi permainan tebakan. Sebenarnya jawaban yang logis dari siswa dapat diterima Guru, walaupun semula tidak ada dalam pikiran Guru. Oleh karena itu penggunaan tanya-jawab disini tidak wajar, sebab anak menjadi tidak berani mengutarakan pendapat, takut salah melulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan metode tanya Jawab :&lt;br /&gt;1. Kelas lebih aktif karena anak tidak sekedar mendengarkan saja.&lt;br /&gt;2. Memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya sehingga Guru mengetahui hal-hal yang belum dimengerti oleh siswa.&lt;br /&gt;3. Guru dapat mengetahui sampai sejauh mana penangkapan siswa terhadap segala sesuatu yang diterangkan.&lt;br /&gt;Kelemahan metode tanya Jawab:&lt;br /&gt;1. Dengan tanya-jawab kadang-kadang pembicaraan menyimpang dari pokok persoalan bila dalam mengajukan pertanyaan, siswa menyinggung hal-hal lain walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalam hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru.&lt;br /&gt;2. Membutuhkan waktu lebih banyak (sumber:http://pakdesofa.blog2.plasa.com/)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-6392051977386168351?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/6392051977386168351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/metode-tanya-jawab-dalam-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6392051977386168351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6392051977386168351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/11/metode-tanya-jawab-dalam-pembelajaran.html' title='Metode Tanya Jawab dalam Pembelajaran'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-3017600030077125637</id><published>2008-10-31T16:00:00.005+07:00</published><updated>2008-10-31T16:48:44.820+07:00</updated><title type='text'>Metode Diskusi dalam Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Yang dimaksud dengan ceramah ialah penerangan dan penuturan secara lisan. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, pengajar dapat menggunakan alat bantu seperti gambar-gambar. Tetapi metode utama, berhubungan antara pengajar dengan pembelajar ialah berbicara. Peranan dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan oleh pengajar.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceramah wajar dipergunakan&lt;br /&gt;1. Kalau pengajar akan menyampaikan fakta (kenyataan) atau pendapat dan tidak, terdapat bahan bacaan yang merangkum fakta atau pendapat yang dimaksud.&lt;br /&gt;2. Kalau pengajar harus menyampaikan fakta kepada pembelajar yang besar jumlahnya atau karena besarnya kelompok pendengar sehingga metode-metode yang lain tidak mungkin dapat dipergunakan.&lt;br /&gt;3. Kalau pengajar adalah pembicara yang bersemangat dan akan rnerangsang pembelajar untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan.&lt;br /&gt;Dalam metode Ceramah Organisasi kelas sederhana&lt;br /&gt;Dengan ceramah, persiapan satu-satunya bagi pengajar adalah buku catatanya. Pada seluruh jam pelajaran ia berbicara sambil berdiri atau kadang-kadang duduk. Cara ini paling sederhana dalam pengaturan kelas, jika dibandingkan dengan metode demonstrasi di mana pengajar harus membagi kelas ke dalam beberapa kelompok, ia harus merubah posisi kelas dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan metode ceramah&lt;br /&gt;1. Pengajar tak dapat mengetahui sampai di mana pembelajar telah mengerti pembicaraannya. Kadang-kadang pengajar beranggapan bahwa bila pembelajar duduk diam mendengarkan atau sambil mengangguk-anggukkan kepala, berarti pembelajar telah mengerti. Padahal anggapan tersebut sering meleset; walaupun, pembelajar menunjukkan reaksi seolah-olah mengerti, akan tetapi pengajar tidak mengetahui sejauh mana penguasaan pembelajar terhadap pelajaran itu. Oleh karena itu segera setelah ia berceramah, harus diadakan evaluasi, misalnya dengan tanyajawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kata-kata yang diucapkan pengajar, ditafsirkan lain oleh pembelajar. Dapat terjadi bahwa pembelajar niemberikan pengertian yang berlainan dengan apa yang dimaksud oleh pengajar. Kiranya perlu kita sadari bahwa tidak ada arti yang mutlak bagi setiap kata tertentu. Kata kata yang diucapkan hanyalah bunyi yang disetujui penggunaanya dalam suatu masyarakat untuk mewakili suatu pengertian. Misalnya: kata modul, bagi mahasiswa UT, pengertiannya adalah salah satu bentuk bahan belajar yang berujud buku materi pokok. Sedangkan bagi-para astronot, modul diartikan sebagai salah satu komponen dari pesawat luar angkasa. &lt;br /&gt;Itulah sebabnya maka setiap anak harus membentuk perbendaharaan bahasanya berdasarkan pengalaman hidupnya sehari-hari. Selama ada persamaan pendapat antar pembicara dengar pendengar untuk mengerti maksud pembicara.&lt;br /&gt;Bila pengajar menggunakan kata-kata yang abstrak seperti “kepribadian”, “kesusialaan”, “keadilan”, mungkin bagi setiap anak pengertiannya tidak sama atau sangat kabur untuk mengartikan kata-kata itu. Lebih-lebih lagi bila kata-kata itu dirangkaikan dalam suatu kalimat, akan semakin banyaklah kemungkinan salah tafsir arti pembicaraan pengajar. Itulah sebabnya seringkali pembelajar sama sekali tidak sapat memperoleh pengertian apapun dari pembicaraan pengajar. Maka bila pengajar ingin menjelaskan sesuatu yang kiranya masih asing bagi anak, pengajar dapat menyertakan peragaan dalam ceramahnya. Peragaan tersebut dapat berbentuk benda yang sesungguhnya, model-model dari benda, menggambarkan dengan bagan atau diagram di papan tulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas batas kemungkinan metode ceramah&lt;br /&gt;1. Pengajar tidak dapat mengetahui sampai di mana murid telah mengerti (memahami) yang telah dibicarakan.&lt;br /&gt;2. Pada pembelajar dapat terbentuk konsep yang lain dari pada kata-kata yang dimaksudkan oleh pengajar tersebut. Bagaimana mempersiapakan ceramah yang berdaya guna?&lt;br /&gt;Langkah-langkah di bawah ini pada umumnya merupakan langkah yang dapat mempertinggi hasil metode ceramah.&lt;br /&gt;a. Rumuskan tujuan khusus yang hendak dipelajari oleh pembelajar.&lt;br /&gt;b. Setelah menetapkan tujuan, hendaklah diselidiki apakah .metode ceramah benar-benar merupakan metode yang sangat pada tempatnya.&lt;br /&gt;c. Susuanan bahan ceramah yang benar-benar perlu diceramahkan.&lt;br /&gt;d. Pengertian yang dapat dijelaskan dengan alat atau dengan uraian yang tertentu harus ditetapkan sebelumnya.&lt;br /&gt;e. Tangkaplah perhatian siswa dan arahkan pada pokok yang akan diceramahkan.&lt;br /&gt;f. Kemudian usahakan menanam pengertian yang jelas. Hal ini biasa dilaksanakan dengan melalui beberapa jalan misalnya : Pertama, pengajar memberikan ikhtisar ringkas mengenai pokok-pokok yang akan diuraikan. Kedua, pengajar menguraikan pokok tersebut dan akhirnya menyimpulakan pokok-pokok penting dalam pembicaraan itu.&lt;br /&gt;g. Adakan rencana penilaian. Teknik evaluasi yang wajar digunakan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan khusus itu perlu ditetapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode diskusi ialah suatu cara penyampaian bahan pelajaran dan guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah. Dalam kehidupan modern ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh manusia; sedemikian kompieksnya masalah tersebut sehingga tak mungkin hanya dipecahkan dengan satu jawaban saja. tetapi kita harus menggunakan segala pengetahuan kita untuk memberi pemecahan yang terbaik. Ada kemungkinan terdapat lebih-dari satu jawaban yang benar sehingga harus menemukan jawaban yang paling tepat di antara sekian banyak jawaban&lt;br /&gt;Kecakapan untuk memecahkan masalah dapat dipelajari.-Untuk iru siswa harus dilatih sejak kecil. Persoalan yang kompleks sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat, karenanya dibutuhkan pemecahan atas dasar kerjasama. Dalam hal ini diskusi merupakanjalan yang banyak memberi kemungkinan pemecahan terbaik.&lt;br /&gt;Selain memberi kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, juga dalam kehidupan yang demokratis kita diajak untuk hidup bermusyawarah, mencari&lt;br /&gt;keputusan-keputusan atas dasar persetujuan bersama. Bagi anak-anak, latihan untuk peranan peserta dalam kehidupan di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Penggunaan metode diskusi&lt;br /&gt;Seperti telah disinggung sekilas, bahwa metode tanya jawab dengan diskusi saling mencakup tetapi berbeda. Ada pertanyaan yang mengandung unsur diskusi, tetapi ada yang tidak. Dengan diskusi guru berusaha mengajak siswa untuk memecahkan masalah. Untuk pemecahan suatu masalah diperlukan pendapat-pendapat berdasarkan pengetahuan yang ada, dengan sendirinya kemungkinan terdapat lebih dari satu jawaban, malah mungkin terdapat banyak jawaban yang benar. agar mendapatkan gambaran yang jelas, marilah kita perhatikan contoh pertanyaan-pertanyaan berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bilamanakah bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa kesatuan di negara kita ?&lt;br /&gt;2. Mengapa peserta Sipenraaru maupun PMDK pada tahun ini menurun ?&lt;br /&gt;3. Apakah siaran teievisi sebaiknya d’iurus oleh Pemerintah, atau swasta ataukah sebagian&lt;br /&gt;pemerintah sebagian swasta ?&lt;br /&gt;4. Mengapa burung hantu tidak berdaya pada waktu siang?&lt;br /&gt;5. Siapakah di antara kalian yang setuju diadakan ulangan secara mendadak ?&lt;br /&gt;6. Beberapa orang guru mengeluh bahwa daya tampung di sekolah mereka sangat berbatas.&lt;br /&gt;Jalan keluar apakah yang kiranya dapat ditempuh untuk mengatasi keadaan itu ? &lt;br /&gt;7. Bentuk acara yang bagaimanakah yang akan kamu pilih untuk memperingati hari&lt;br /&gt;kemerdekaan di sekolah kita?&lt;br /&gt;8. Berapakah perbandingan antara angka kelahiran dan kematian penduduk dunia pada saat&lt;br /&gt;lahirnya bayi yang ke-5 milyar ?&lt;br /&gt;9. Mengapa pada saat ini banyak remaja laki-laki yang memakai perhiasan?&lt;br /&gt;10.Jalan apakah yang dapat ditempuh untuk mengurangi penderitaan rakyat di Afrika Selatan?&lt;br /&gt;Perhatikanlah sifat-sifat pertanyaan di atas. Pertanyaan no. 1,4 dan 8 memerlukan jawaban berfakta, jadi pertanyaan tersebut bukan diskusi melainkan tanya-jawab. Pertanyaan no. 5 hanya memerlukan pemungutan suara, tidak akan menjadi diskusi bila guru tidak meminta pendirian serta alasan siswa. Nomor 3 dan 9 meminta pertimbangan tentang fakta-fakta, maka diskusi menjadi hidup, karena akan muncul berbagai pandangan yang dapat dibenarkan. Sedangkan nomor 6, 7 dan 10 membutuhkan rencana bertindak dari pihak siswa, dan mengandung &lt;br /&gt;kemungkinan jawaban lebih dari satu. Pertanyaan-pertanyaan yang baik untuk metode diskusi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Menguji kemungkinan jawaban yang dapat dipertahankan lebih dari sebuah.&lt;br /&gt;2) Tidak menanyakan “Manakah jawaban yang benar” tetapi lebih menekankan kepada&lt;br /&gt;“mempertimbangkan dan-membandingkan”. Misalnya : Manakah kiranya yang paling&lt;br /&gt;baik. pemecahan mana yang mungkin lebih berhasil. manakah yang akan lebih&lt;br /&gt;memberikan manfaat.&lt;br /&gt;3) menarik minat anak dan sesuai dengan taraf kemampuan/umurnya.&lt;br /&gt;B. Peranan Guru atau Pemimpin Diskusi&lt;br /&gt;Kemungkinan-kemungkinan jawaban yang bagajmana yang dapat dirumuskan oleh kelas terhadap suatu masalah ? Selama diskusi pemimpin atau guru kelas melihat adanya sejumlah jawaban yang mungkin, kemudian memilih jawaban yang dianggap merupakan jawaban yang setepat tepatnya. Hal manakah yang telah diterima oleh suara terbanyak sebagai persetujuan? Tindakan apakah yang sudali direncanakan ? Siapa yang melaksanakan, dan bilamana ?&lt;br /&gt;Kebaikan Metode Diskusi&lt;br /&gt;1)Siswa belajar bermusyawarah&lt;br /&gt;2)Siswa mendapat kesempatan untuk menguji tingkat pengetahuan masing-masing&lt;br /&gt;3)Belajar menghargai pendapat orang lain.&lt;br /&gt;4)Mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan/Kelemahan Metode Diskusi&lt;br /&gt;1)Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari poko persoalan.&lt;br /&gt;2)Kesulitan dalam menyimpulkan sering menyebabkan tidak ada penyelesaian.&lt;br /&gt;3)Membutuhkan waktu cukup banyak.&lt;br /&gt;Jenis-jenis Diskusi&lt;br /&gt;1)Buzz Group&lt;br /&gt;Suatu kelas yang besar dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil 4 atau 5 orang. Tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga siswa saling berhadapan untuk memudahkan pertukaran pendapat. Diskusi ini dapat diadkan di tengah-tengah atau akhi&lt;br /&gt;2)Fish Rowt&lt;br /&gt;Diskusi terdiri dari beberapa orang peserta yang dipimpin oleh seorang ketua. Tcmpat duduk diatur setengah lingkaran dengan dua atau tiga kursi kosonu menghadap peserta, seolah-olah menjaring ikan dalam sebuah mangkuk (fish boxvli. Kelompok pendengar yang ingin menyumbangkan pikiran dapat duduk di kursi kosong tersebut. Ketua mempersilahkan berbicara dan setelah selesai kembali ketempat semula.&lt;br /&gt;3)Whole Group&lt;br /&gt;Suatu kelas merupakan satu kelompok diskusi dengan jurnlah anggota tidak lebih dari 15 anggota.&lt;br /&gt;4)Syndicate group&lt;br /&gt;Suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 3-6 orang. Guru menjelaskan garis besar masalah dengan aspek-aspeknya. kemudian tiap kelompok bertugas membahas suatu aspek tertentu dan membuat kesimpuian untuk diiaporkan dalam sidang pleno serta didiskusikan lebih lanjut.&lt;br /&gt;5)Brainstorming&lt;br /&gt;Merupakan suatu diskusi di mana anggota kelompok bebas menyumbangkan ide-ide baru terhadap suatu masalah tertentu. di bawah seorang ketua. Semua ide &gt;ang sudah masuk dicatat. untuk kemudian diklasifikasikan menurut suatu urutan tertentu. Suatu saat mungkin ada diantara ide baru tersebut yang dirasa menarik untuk dikembangkan.&lt;br /&gt;6)Informal debate&lt;br /&gt;Kelas dibagi menjadi dua team yang agak sama besarnya unluk memperdebatkan suatu bahan yang problematis, tanpa memperhatikan peraturan diskusi panel.&lt;br /&gt;7)Colloqinin&lt;br /&gt;8)Merupukan suatu kegiatan dimana siswa’mahasiawa dihadapkan pada nara sumber untuk&lt;br /&gt;mengajukan pertanyaan. selanjuinya mengandung perianyaan-penanyaan tambahan dari&lt;br /&gt;sisxva. mahasisxva yang lain. Pelajaran dengan maksdu untuk memperjelas bahan pelajaran yang telah diterima pemimpin diskusi dapat dipegang oleh guru sendiri, tetapi dapat juga diserahkan kepada siswa bila guru ingin memberi kesempatan kepada siswa unluk belajar memimpin. Kecakapan memimpin diskusi memang harus dilatih, bila kita menginginkan keberhasilan suatu diskusi. Seseorang .yang belum berpengalaman memimpin diskusi, suatu saat dapat menjadi kebingungan apabila terjadi pembicaraan yang jauh menyimpang dari pokok persoalan, Dapat pula terjadi. seseorang yang senang berbicara akan menguasai seluruh pembicaraan sehingga tidak memberi kesempatan kepada teman yang lain untuk Tnengemukakan pendapat. Demikian pula diantara peserta diskusi saling bertentangan pendapatnya, bagi pemimpin yang belum trampil, tidak dapat mencarikan jalan tengah sehingga seringkali diskusi berakhir lanpa adanya suatu kesimpulan yang jelas. Bila siswa belum pernah mengenal lata cara diskusi, rnereka akan berbicara secara serempak atau spontan menanggapi bila ada suatau pendapat yang menarik. Juga serins terjadi beberapa siswa belum memahami persoalan .sehingga memberikan komentar yang menyimpang dan berkepanjangan. Akibat suasana menjemukan dan tidak dapat-melihat kemajuan-kemajuan apa yang telah dicapai.&lt;br /&gt;Pemimpin diskusi yang baik, akan sanggup dengan cepat mengambil tindakan menghadapi ketimpangan-ketimpangan tersebut diatas. Untuk itulah para siswa perlu dilatih untuk memperoleh ketrampilan pemimpin yang pada hakikatnya dapat dipelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. DR. Winarno Surakhmad dalam bukunya “Metodologi Guruan Nasional”&lt;br /&gt;mengemukakan tiga peranan pemimpin diskusi ialah sebagai : 1) pengatur lalu lintas 2) dinding penangkis. 3) penunjuk jalan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin sebagai pengatur lalu lintas Sebagai seorang pemimpin. la berhak untuk :&lt;br /&gt;-Menunjukkan pertanyaan-pertanyaan kepada anggota&lt;br /&gt;-Menjaga agar tidak semua anggota bicara secara serempak&lt;br /&gt;-Mencegah dikuasai’nya pembicaraan oleh orang-orang tertentu yang gemar berbicara&lt;br /&gt;-Membuka kesempatan bagi anggota yang pemalu atau pendiam untuk menyumbangkan ide-ide mereka.&lt;br /&gt;-Mengatur sedemikian sehingga setiap pembicaraan dapat ditangkap dengan jelas oleh pendengar.&lt;br /&gt;Dari peran tersebut, dapat kita lihat bahwa pemimpin akan belajar memahami sifat-sifat para peserta. la akan belajar bagaimana mendorong si pendiam untuk ikut serta dan bagaimana mencegah anggota yang senang berbicara dan membuka kesempatan bagi anggota lain secara merata. Untuk membatasi orang yang senang berbicara, misalnya dapat dikatakan : “Baik. saya rasa pendapat anda itu telah dituangkan dengan jelas, coba mari kita lihat beberapa pendapat yang lain”. Atau kepada si pendiam : “Tina, kami belurn mendapat kesempatan mendengarkan pemikiranmu tentang hal ini, bagaimana pendapatmu ?”. Di sini pemimpin harus dapat mengatur pembicaraan dengan bijaksana sehingga tidak menimbulkan rasa tertekan, marah, dan rendah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin sebagai dinding penangkis&lt;br /&gt;Dalam peran ini di ibaratkan seorang pemain tenis yang berlatih memukul bola pada dinding, selalu memantul kembali. Demikian pula pemimpin sebagai penunjuk jalan senantiasa menerima pertanyaan-pertanyaan dari para peserta dan dipantulkan kembali ke dalam kelompok. Dia sendiri tidak selalu menjawab langsung setiap pertanyaan yang penting. Bila ada pertanyaan yang muncul, pemimpin dapat mengatakan ya, ini pertanyaan yang baik, bagaimana pendapat anda sekalian mengenai hal ini ?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada si pendiam :”Mungkin, Rini akan mengemukakan pendapat atau anggota yang lain?”. Bila sudah memperoleh jawaban, maka jawaban tersebut dilontarkan kembali kepada para peserta untuk dimintakan pendapat mereka pada suatu saat mungkin diskusi mengalami jalan buntu, maka pada kesempatan itu pemimpin atau Guru dapat bertindak sebagai penasihat dan memberi jawaban sehingga soal-soal pokok yang sedang didiskusikan dapat dilanjutkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diskusi sering terjadi siswa tidak menyadari struktur pokok diskusi mereka, atau tidak memahami pokok masalah yang didiskusikan sehingga mudah timbul pertanyaan-pertanyaan yang menyimpang dari garis pembicaraan. Mereka kehilangan pegangan dan tidak melihat hasil-hasil yang sudah dicapai. Atau tidak disadari bahwa telah tiba saatnya untuk menarik kesimpulan- dan menetapkan langkah-langkah. Kewajiban pemimpin diskusilah untuk memahami dengan seksama struktur diskusi yang baik sehingga ia dapat menunjukkan jalan lurus bila terjadi penyimpangan. Dengan demikian pemimpin mempunyai kewajiban menuntun anggota dalam menentukan langkah-langkah pemecahan masalah. Langkah-langkah yang perlu dipahami dan dipakai sebagai pedoman menuntun diskusi kelas adalah:&lt;br /&gt;- Apakah masalah yang dihadapi?&lt;br /&gt;Pemimpin perlu mengetahui dengan jelas permasalahan yang dihadapi. Bila perlu ditulis di papan tulis sebelum diskusi dimulai sehingga peserta senantiasa melihat tujuan diskusi.&lt;br /&gt;- Soal-soal penting mana yang terdapat dalam masalah itu?&lt;br /&gt;Kalau dalam diskusi terdapat pandangan yang berbeda, ada baiknya pandangan-pandangan tersebut ditulis pula. Faedahnya, siswa dapat melihat kekurangan-kekurangannya dan mencoba memperbaiki -sebelum diskusi dilanjutkaan. Dapat terjadi seluruh peserta tidak tahu dengan pasti faktor tertentu yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah. Faktor serupa ini terpaksa dicari dari sumber-sumber lain atau dari nara sumber yang mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panel&lt;br /&gt;Merupakan suatu diskusi orang-orang yang dianggap ahli, terdiri dari 3-6 orang dan dipimpin oleh seorang moderator. Para panelis dihadapkan pada para peserta yang hanya berfungsi sebaeai pendengar. Maksudnya untuk memberikan stimulus kepada para peseita akan adanya masalah-masalh yang masih dipecahkan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simposium&lt;br /&gt;Merupakan suatu pembahasan masalah yang bersifat lebih formal. Pembahasan dilakukan oleh beberapa orang pembicara (sedikitnya 2 orang) yang sebelumnya telah menyiapakan suatu prasarana dan pembicara yang lain mengemukakan prasarana banding/sanggahan. Suatu pokok persoalan disoroti dari beberapa aspek. yang masing-masing dibacakan oleh prasarana kemudian diikuti sanggahan dan pandangan umiun dari para pendengar. Moderator mengkoordinasi jalannya pembicaraan. Bahasan dan sanggahan itu selanjutnya dirumuskan oieh panitia perumus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar&lt;br /&gt;Merupakan suatu pembahasan yang bersifat ilmiah. Suatu pokok persoalan dibahas secara teoritis, bila perlu dibuka suatu pandangan umum. Berdasarkan kertas kerja yang ada, peserta menjadi beberapa kelompok untuk membahas lebih lanjut. Pimpinan kelompok sewaktu waktu menyimpulkan kerja keiompoknya dan dari hasil-hasil kelompok disusun suatu perumusan oleh panitia perumus yang ditinjau. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-3017600030077125637?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/3017600030077125637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/10/metode-diskusi-dalam-pembelajaran.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3017600030077125637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/3017600030077125637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/10/metode-diskusi-dalam-pembelajaran.html' title='Metode Diskusi dalam Pembelajaran'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-8533883573386210490</id><published>2008-10-31T15:56:00.002+07:00</published><updated>2008-10-31T16:00:27.484+07:00</updated><title type='text'>Format Pelatihan Untuk Guru</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Akrabkah anda dengan kalimat perintah dibawah ini?&lt;br /&gt;· “Anak-anak, bukalah buku cetak kalian halaman sekian…”&lt;br /&gt;· “Anak-anak, buatlah ringkasan lalu garis bawahi hal yang menurut kalian penting didalam buku cetak kalian..”&lt;br /&gt;· “Anak-anak kerjakanlah soal halaman sekian, lalu jika tidak selesai jadikan pekerjaan rumah ya!”&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika jawabannya lebih banyak “ya”, berarti anda membutuhkan banyak strategi dalam mengajar. Tapi nanti dulu, banyak guru yang berpendapat bahwa membelajarkan siswa menggunakan strategi hanya membuat tugas guru yang banyak menjadi bertambah banyak. “Kenapa sih harus dengan strategi? Kalau metode yang sekarang saja siswa sudah mengerti dan tidak protes”. Ada juga guru yang khawatir disemprot oleh kolega nya karena dianggap keluar dari pakem yang selama ini ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu tugas institusi sekolah adalah membuat situasi agar guru mempergunakan strategi saat membelajarkan siswanya. Salah satunya dengan mengadakan sebuah pelatihan yang bersifat peserta aktif. Sebuah pelatihan yang apapun tema yang dibahas tetapi mempergunakan strategi yang langsung bisa diterapkan saat guru kembali ke kelas.&lt;br /&gt;Sama seperti siswa, guru pun terkadang merasa bosan dan cepat lelah jika dilatih atau dibelajarkan dalam suasana metode ceramah atau sang presenter hanya sibuk membacakan slide saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan melihat atau mendownload video pelatihan yang saya pernah adakan untuk menambah perbendaharaan strategi belajar anda (sumber : http://gurukreatif.wordpress.com)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-8533883573386210490?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/8533883573386210490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/10/format-pelatihan-untuk-guru-sebaiknya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8533883573386210490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/8533883573386210490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/10/format-pelatihan-untuk-guru-sebaiknya.html' title='Format Pelatihan Untuk Guru'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-6229827575985080462</id><published>2008-10-31T15:45:00.003+07:00</published><updated>2008-10-31T15:56:12.558+07:00</updated><title type='text'>Metode Ceramah Dalam Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Yang dimaksud dengan ceramah ialah penerangan dan penuturan secara lisan. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, pengajar dapat menggunakan alat bantu seperti gambar-gambar. Tetapi metode utama, berhubungan antara pengajar dengan pembelajar ialah berbicara. Peranan dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan oleh pengajar.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceramah wajar dipergunakan&lt;br /&gt;1.Kalau pengajar akan menyampaikan fakta (kenyataan) atau pendapat dan tidak, terdapat bahan bacaan yang merangkum fakta atau pendapat yang dimaksud.&lt;br /&gt;2.Kalau pengajar harus menyampaikan fakta kepada pembelajar yang besar jumlahnya atau karena besarnya kelompok pendengar sehingga metode-metode yang lain tidak mungkin dapat dipergunakan.&lt;br /&gt;3.Kalau pengajar adalah pembicara yang bersemangat dan akan rnerangsang pembelajar untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan.&lt;br /&gt;Dalam metode Ceramah Organisasi kelas sederhana&lt;br /&gt;Dengan ceramah, persiapan satu-satunya bagi pengajar adalah buku catatanya. Pada seluruh jam pelajaran ia berbicara sambil berdiri atau kadang-kadang duduk. Cara ini paling sederhana dalam pengaturan kelas, jika dibandingkan dengan metode demonstrasi di mana pengajar harus membagi kelas ke dalam beberapa kelompok, ia harus merubah posisi kelas dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan metode ceramah&lt;br /&gt;1. Pengajar tak dapat mengetahui sampai di mana pembelajar telah mengerti pembicaraannya. Kadang-kadang pengajar beranggapan bahwa bila pembelajar duduk diam mendengarkan atau sambil mengangguk-anggukkan kepala, berarti pembelajar telah mengerti. Padahal anggapan tersebut sering meleset; walaupun, pembelajar menunjukkan reaksi seolah-olah mengerti, akan tetapi pengajar tidak mengetahui sejauh mana penguasaan pembelajar terhadap pelajaran itu. Oleh karena itu segera setelah ia berceramah, harus diadakan evaluasi, misalnya dengan tanyajawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kata-kata yang diucapkan pengajar, ditafsirkan lain oleh pembelajar. Dapat terjadi bahwa pembelajar niemberikan pengertian yang berlainan dengan apa yang dimaksud oleh pengajar. Kiranya perlu kita sadari bahwa tidak ada arti yang mutlak bagi setiap kata tertentu. Kata kata yang diucapkan hanyalah bunyi yang disetujui penggunaanya dalam suatu masyarakat untuk mewakili suatu pengertian. Misalnya: kata modul, bagi mahasiswa UT, pengertiannya adalah salah satu bentuk bahan belajar yang berujud buku materi pokok. Sedangkan bagi-para astronot, modul diartikan sebagai salah satu komponen dari pesawat luar angkasa. &lt;br /&gt;Itulah sebabnya maka setiap anak harus membentuk perbendaharaan bahasanya berdasarkan pengalaman hidupnya sehari-hari. Selama ada persamaan pendapat antar pembicara dengar pendengar untuk mengerti maksud pembicara.&lt;br /&gt;Bila pengajar menggunakan kata-kata yang abstrak seperti “kepribadian”, “kesusialaan”, “keadilan”, mungkin bagi setiap anak pengertiannya tidak sama atau sangat kabur untuk mengartikan kata-kata itu. Lebih-lebih lagi bila kata-kata itu dirangkaikan dalam suatu kalimat, akan semakin banyaklah kemungkinan salah tafsir arti pembicaraan pengajar. Itulah sebabnya seringkali pembelajar sama sekali tidak sapat memperoleh pengertian apapun dari pembicaraan pengajar. Maka bila pengajar ingin menjelaskan sesuatu yang kiranya masih asing bagi anak, pengajar dapat menyertakan peragaan dalam ceramahnya. Peragaan tersebut dapat berbentuk benda yang sesungguhnya, model-model dari benda, menggambarkan dengan bagan atau diagram di papan tulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas batas kemungkinan metode ceramah&lt;br /&gt;1. Pengajar tidak dapat mengetahui sampai di mana murid telah mengerti (memahami) yang telah dibicarakan.&lt;br /&gt;2. Pada pembelajar dapat terbentuk konsep yang lain dari pada kata-kata yang dimaksudkan oleh pengajar tersebut. Bagaimana mempersiapakan ceramah yang berdaya guna?&lt;br /&gt;Langkah-langkah di bawah ini pada umumnya merupakan langkah yang dapat mempertinggi hasil metode ceramah.&lt;br /&gt;a.Rumuskan tujuan khusus yang hendak dipelajari oleh pembelajar.&lt;br /&gt;b.Setelah menetapkan tujuan, hendaklah diselidiki apakah .metode ceramah benar-benar merupakan metode yang sangat pada tempatnya.&lt;br /&gt;c.Susuanan bahan ceramah yang benar-benar perlu diceramahkan.&lt;br /&gt;d.Pengertian yang dapat dijelaskan dengan alat atau dengan uraian yang tertentu harus ditetapkan sebelumnya.&lt;br /&gt;e.Tangkaplah perhatian siswa dan arahkan pada pokok yang akan diceramahkan.&lt;br /&gt;f.Kemudian usahakan menanam pengertian yang jelas. Hal ini biasa dilaksanakan dengan melalui beberapa jalan misalnya : Pertama, pengajar memberikan ikhtisar ringkas mengenai pokok-pokok yang akan diuraikan. Kedua, pengajar menguraikan pokok tersebut dan akhirnya menyimpulakan pokok-pokok penting dalam pembicaraan itu.&lt;br /&gt;g.Adakan rencana penilaian. Teknik evaluasi yang wajar digunakan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan khusus itu perlu ditetapkan.(sumber : http://pakdesofa.blog2.plasa.com/)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-6229827575985080462?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/6229827575985080462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/10/metode-ceramah-dalam-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6229827575985080462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/6229827575985080462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/10/metode-ceramah-dalam-pembelajaran.html' title='Metode Ceramah Dalam Pembelajaran'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4577045516483250268.post-727511152066329119</id><published>2008-10-31T15:42:00.001+07:00</published><updated>2008-10-31T15:45:03.095+07:00</updated><title type='text'>Workshop Handwriting</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Saya berkesempatan mengikuti sebuah pelatihan inhouse di sekolah saya mengenai menulis (handwriting). Ibu Chris Rawlins, kepala sekolah dari International School Bogor menjadi presenter selama satu setengah jam. Ibu Chris telah 8 tahun menjadi konsultan menulis halus di Queensland dan  di seluruh Australia. Ada 48 buku yang sudah beliau karang mengenai Handwriting. .Beliau menggugah kesadaran kita sebagai pendidik sekaligus orang tua akan pentingnya keterampilan dalam menulis. Di jaman kita bersekolah dahulu pelajaran ini disebut sebagai menulis halus.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saya bayangkan siswa kita dijaman sekarang yang selain harus melek teknologi saat yang sama harus menguasai keterampilan dasar dalam hidup seperti menulis halus ini. Dikarenakan tidak semua hal bisa tersampaikan lewat tombol keyboard yang biasa dipakai pada alat teknologi, namun ada hal-hal yang membutuhkan keterampilan menulis. Saat siswa melakukan note taking informasi dari internet misalnya, dibutuhkan 2 keterampilan yang sama pentingnya yaitu mengambil dan menilai kelayakan data atau informasi yang mereka dapatkan dan saat yang sama menulisnya sehingga siswa gampang menggunakan informasi kembali untuk keperluan tugas dari guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan pelatihan Ibu Chris mengamati pola asuh di keluarga Indoensia yang terkadang membuat anak yang melewati hal yang sangat penting dalam tumbuh kembang. Hal tersebut adalah merangkak. Dikarenakan kekhawatiran yang berlebihan anak jadi sering digendong, apalagi jika pengasuh yang kita percayakan tidak kita informasikan mengenai betapa pentingnya tahap tumbuh kembang bayi. Ternyata abesennya salah satu tahap dalam tumbuh kembang bayi bisa membawa pengaruh ke tahap berikutnya dalam motorik kasar saat tumbuh menjadi balita. Bahkan bisa mengganggu koordinasi otak kanan dan otak kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan motorik anak dalam memegang sesuatu sangat berperan dalam upaya anak menulis halus. Namun hal tersebut bisa ditempuh dengan pembiasaan, memegang sendok, bola kecil atau pegangan pintu misalnya, dipakai sebagai upaya kita membiasakan anak memegang alat tulis saat menulis. Serta hal lain yang membuat jari anak terlatih dan terbiasa menggunakan semua jari-jarinya. Itulah sebabnya sekolah diJepang menganjurkan siswa untuk kembali menggunakan sumpit saat makan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah upaya yang bisa dilakukan sekolah dan orang tua dalam membiasakan anak agar bisa menulis halus dengan baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Hal yang perlu diperhatikan guru saat siswa menulis adantara lain postur , cara memegang pensil, dan posisi kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Hal yang harus terus dilatih adalah membuat pola huruf, melingkar, lurus, dan berputar dengan pensil pada kertas. Saat berlatih bisa juga menggunakan kata atau kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Huruf yang harus mendapat perhatian adalah b, d, h, k, l, dan  t sementara saat menyambung huruf yang harus diperhitungkan adalah huruf g , j, y  dan f&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Peran guru dalam hal ini adalah memonitor dan mengobservasi, membetulkan dan menganalisa contoh yang siswa buat, perhatikan hal-hal yang penting demi peningkatan siswa dan diskusikan secara individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Pembelajaran menulis halus bisa berlangsung dalam semua tingkatan. Sesuaikan waktu dengan jumlah jam belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Tentukan kapan siswa boleh menggunakan pulpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Upayakan agar siswa menggunakan gaya yang mereka pelajari saat pelajaran menulis halus dalam setiap kesempatan pelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Bentuklah satu komite khusus di sekolah mengenai handwriting sebagai cara menentukan kebijakan menulis halus secara menyeluruh disekolah. Faedahnya adalah siswa akan lancar dalam menulis dengan demikian siswa akan bisa lebih berkonsentrasi pada materi yang diajarkan.(sumber : http://gurukreatif.wordpress.com)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4577045516483250268-727511152066329119?l=smartschools-infomedia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/feeds/727511152066329119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/10/workshop-handwriting.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/727511152066329119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4577045516483250268/posts/default/727511152066329119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartschools-infomedia.blogspot.com/2008/10/workshop-handwriting.html' title='Workshop Handwriting'/><author><name>smart-schools</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16569963512523427974</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
